Simak! Inilah Hal-Hal yang Akan Buat IHSG Menghijau Tahun Ini

Anthony Kevin, CNBC Indonesia
01 January 2019 20:27
Simak! Inilah Hal-Hal yang Akan Buat IHSG Menghijau Tahun Ini
Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2018 sudah terlewati dan terbukti menjadi tahun yang sulit bagi pasar saham tanah air. Sepanjang 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan pelemahan sebesar 2,54%.

Memasuki tahun 2019, tentu ada harapan baru buat IHSG. Malahan, beberapa hal berpotensi membawa IHSG membukukan imbal hasil positif sepanjang 2019. Berikut beberapa hal yang dimaksud.

[Gambas:Video CNBC]



Berkaca kepada sejarah, IHSG tak pernah melemah sepanjang 2 tahun berturut-turut, setidaknya dalam 15 tahun terakhir (2004-2018). Kali terakhir IHSG membukukan pelemahan secara tahunan adalah pada tahun 2015, yakni sebesar 12,13%. Pada tahun berikutnya (2016), IHSG melesat sebesar 15,32%, disusul oleh penguatan sebesar 19,99% setahun setelahnya (2017).





Sentimen positif kedua bagi IHSG datang dari investor asing yang nampaknya sudah terlalu banyak melakukan aksi jual. Sepanjang tahun lalu, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 50,75 triliun di pasar saham tanah air. Jual bersih sepanjang tahun lalu datang pasca pada tahun 2017 juga terjadi jual bersih senilai Rp 39,87 triliun. 

Jual bersih pada tahun 2018 merupakan yang terbesar dalam setidaknya 15 tahun. Selain itu, pasar saham Indonesia juga mengalami sesuatu yang sangat jarang atau mungkin belum pernah dialami sebelumnya: investor asing membukukan jual bersih selama 2 tahun berturut-turut.  



Dengan melihat intensitas jual investor asing yang sudah sangat besar, sangat dimungkinkan mereka akan kembali masuk ke pasar saham tanah air pada tahun ini. Jika itu yang terjadi, kinerja IHSG tentu akan terbantu naik.



Berbicara mengenai investor asing, pelemahan rupiah memiliki andil yang besar dibalik derasnya arus modal investor asing yang mengalir keluar dari pasar saham Indonesia. Sepanjang tahun lalu, rupiah melemah hingga 5,97% melawan dolar AS di pasar spot.

Pada tahun 2019, rupiah memiliki peluang untuk menguat. Salah satu sentimen positif bagi rupiah adalah keyakinan pelaku pasar bahwa The Federal Reserve selaku bank sentral AS tidak akan mengerek suku bunga acuan pada tahun ini, terlepas dari proyeksi The Fed sendiri bahwa akan ada kenaikan suku bunga acuan sebanyak 2 kali (50 bps).

Berdasarkan harga kontrak Fed Fund futures per 1 Januari 2019, probabilitas FFR berada di level 2,25-2,5% (tidak ada kenaikan suku bunga acuan) pada akhir tahun 2019 adalah sebesar 73,4%, lebih tinggi dibandingkan posisi 1 bulan lalu yang sebesar 25,4%.

Keraguan pelaku pasar muncul seiring dengan rilis data ekonomi di AS belakangan ini yang terus mengindikasikan adanya perlambatan ekonomi.

Untuk tahun 2018, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,9%, sebelum kemudian melandai ke level 2,5% pada tahun 2019.


Dengan dampak pemotongan pajak individu dan korporasi yang masih segar terasa saja, pertumbuhan ekonomi AS tak mampu mencapai level 3% atau level yang merupakan target dari pemerintahan Donald Trump. Pelaku pasar melihat bahwa tingkat FFR di level 2,25-2,5% sudah merupakan level netral sehingga tak perlu normalisasi lanjutan.

Pada akhirnya, dolar AS bisa diterpa tekanan jual pada tahun ini dan jika rupiah berhasil memanfaatkan momentum yang ada nantinya, investor asing akan semakin tertarik untuk kembali masuk ke pasar saham tanah air.




Dari dalam negeri, sentimen positif bagi IHSG datang dari digelarnya pemilihan presiden pada bulan April mendatang. Pasar saham dan pemilihan presiden merupakan 2 sejoli yang begitu mesra ketika disandingkan bersama. Dalam 3 pemilihan presiden terakhir (2004, 2009, dan 2014), IHSG membukukan imbal hasil yang sangat-sangat impresif.

Pada tahun 2004, IHSG melejit hingga 44,56%. Kala itu, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Muhammad Jusuf Kalla memenangkan pertarungan melawan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.

Pada tahun 2009, IHSG meroket hingga 86,98%. Pada pertarungan tahun 2009, SBY berhasil mempertahankan posisi RI-1, namun dengan wakil yang berbeda. Ia didampingi oleh Boediono yang sebelumnya menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI). SBY-Boediono berhasil mengalahkan 2 pasangan calon yakni Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Beralih ke tahun 2014, mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berhasil menempati tahta kepemimpinan tertinggi di Indonesia dengan menggandeng Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Pada saat itu, IHSG melejit 22,29%.

TIM RISET CNBC INDONESIA




Pages

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular