
Simak! Inilah Hal-Hal yang Akan Buat IHSG Menghijau Tahun Ini
Anthony Kevin, CNBC Indonesia
01 January 2019 20:27

Berbicara mengenai investor asing, pelemahan rupiah memiliki andil yang besar dibalik derasnya arus modal investor asing yang mengalir keluar dari pasar saham Indonesia. Sepanjang tahun lalu, rupiah melemah hingga 5,97% melawan dolar AS di pasar spot.
Pada tahun 2019, rupiah memiliki peluang untuk menguat. Salah satu sentimen positif bagi rupiah adalah keyakinan pelaku pasar bahwa The Federal Reserve selaku bank sentral AS tidak akan mengerek suku bunga acuan pada tahun ini, terlepas dari proyeksi The Fed sendiri bahwa akan ada kenaikan suku bunga acuan sebanyak 2 kali (50 bps).
Berdasarkan harga kontrak Fed Fund futures per 1 Januari 2019, probabilitas FFR berada di level 2,25-2,5% (tidak ada kenaikan suku bunga acuan) pada akhir tahun 2019 adalah sebesar 73,4%, lebih tinggi dibandingkan posisi 1 bulan lalu yang sebesar 25,4%.
Keraguan pelaku pasar muncul seiring dengan rilis data ekonomi di AS belakangan ini yang terus mengindikasikan adanya perlambatan ekonomi.
Untuk tahun 2018, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,9%, sebelum kemudian melandai ke level 2,5% pada tahun 2019.
Dengan dampak pemotongan pajak individu dan korporasi yang masih segar terasa saja, pertumbuhan ekonomi AS tak mampu mencapai level 3% atau level yang merupakan target dari pemerintahan Donald Trump. Pelaku pasar melihat bahwa tingkat FFR di level 2,25-2,5% sudah merupakan level netral sehingga tak perlu normalisasi lanjutan.
Pada akhirnya, dolar AS bisa diterpa tekanan jual pada tahun ini dan jika rupiah berhasil memanfaatkan momentum yang ada nantinya, investor asing akan semakin tertarik untuk kembali masuk ke pasar saham tanah air.
(ank/roy)
Pada tahun 2019, rupiah memiliki peluang untuk menguat. Salah satu sentimen positif bagi rupiah adalah keyakinan pelaku pasar bahwa The Federal Reserve selaku bank sentral AS tidak akan mengerek suku bunga acuan pada tahun ini, terlepas dari proyeksi The Fed sendiri bahwa akan ada kenaikan suku bunga acuan sebanyak 2 kali (50 bps).
Untuk tahun 2018, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan ekonomi AS tumbuh sebesar 2,9%, sebelum kemudian melandai ke level 2,5% pada tahun 2019.
Dengan dampak pemotongan pajak individu dan korporasi yang masih segar terasa saja, pertumbuhan ekonomi AS tak mampu mencapai level 3% atau level yang merupakan target dari pemerintahan Donald Trump. Pelaku pasar melihat bahwa tingkat FFR di level 2,25-2,5% sudah merupakan level netral sehingga tak perlu normalisasi lanjutan.
Pada akhirnya, dolar AS bisa diterpa tekanan jual pada tahun ini dan jika rupiah berhasil memanfaatkan momentum yang ada nantinya, investor asing akan semakin tertarik untuk kembali masuk ke pasar saham tanah air.
(ank/roy)
Next Page
Tahun Politik Biasanya Bawa Berkah
Pages
Most Popular