Kinerja IHSG 2018, Terburuk dalam 3 Tahun
Tahir Saleh,
CNBC Indonesia
31 December 2018 12:17
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun 2018 menjadi yang terburuk dalam 3 tahun terakhir setelah minus 2,54% dalam setahun, padahal tahun 2017 dan 2016 IHSG masih memberikan return 19,99% dan 15,32%.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat 0,06% di level 6.194,50 pada Jumat 28 Desember 2018. Selama setahun, Indeks minus 2,54% sejak awal Januari hingga Desember 2018.
Dalam 3 tahun terakhir, IHSG paling tinggi memberikan return mencapai 19,99% pada tahun 2017 ketika ditutup di level 6.355,65 dan tahun 2016 mencatatkan return atau gain 15,32% saat ditutup di level 5.296,71.
Kendati demikian, penurunan indeks pada akhir 2018 masih lebih baik ketimbang tahun 2015 yang minus 12,13% dan mencatatkan kinerja terparah 10 tahun lalu yakni tahun 2008 terkoreksi hingga 50,64%.
Penurunan indeks selama setahun tak bisa dilepaskan dari sejumlah katalis negatif baik dari dalam negeri seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum beranjak dari 5%, depresiasi nilai tukar rupiah, defisit neraca perdagangan, hingga sentimen luar negeri seperti perang dagang dan penaikkan Fed Funds Rate (FFR) bank sentral AS.
Sejak Januari-Desember 2018, selain mencatatkan kinerja negatif, sejumlah sentimen dalam negeri dan luar negeri mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp45,65 triliun di pasar regular.
as a preferred
source on Google
Next Article
Pasca libur Lebaran, IHSG Rontok 4,42% ke Bawah 7.000
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup menguat 0,06% di level 6.194,50 pada Jumat 28 Desember 2018. Selama setahun, Indeks minus 2,54% sejak awal Januari hingga Desember 2018.
Dalam 3 tahun terakhir, IHSG paling tinggi memberikan return mencapai 19,99% pada tahun 2017 ketika ditutup di level 6.355,65 dan tahun 2016 mencatatkan return atau gain 15,32% saat ditutup di level 5.296,71.
Kendati demikian, penurunan indeks pada akhir 2018 masih lebih baik ketimbang tahun 2015 yang minus 12,13% dan mencatatkan kinerja terparah 10 tahun lalu yakni tahun 2008 terkoreksi hingga 50,64%.
Sejak Januari-Desember 2018, selain mencatatkan kinerja negatif, sejumlah sentimen dalam negeri dan luar negeri mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp45,65 triliun di pasar regular.
Foto: Dok IDX |
Hanya saja, meski terburuk dalam 3 tahun terakhir, kinerja IHSG masih lebih baik dibandingkan dengan performa indeks bursa lain di dunia, seperti Hang Seng (Hong Kong) yang minus hingga 15,30%, Straits Times (Singapura) minus 10,62, Nikkei (Jepang) minus 14,85%. Adapun indeks global lain juga minus yakni Dow Jones (AS) minus 7,10% dan FTSE (Inggris) minus 12,05%.
[Gambas:Video CNBC]
(hps)
Add
[Gambas:Video CNBC]
source on Google
Foto: Dok IDX