Perang Dagang Bisa Untungkan ASEAN, Sayang RI Kalah Saing

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
29 November 2018 21:06
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang yang dikobarkan oleh Donald Trump telah membuat Amerika Serikat (AS) dan China melakukan aksi saling balas-balasan tarif bea masuk impor. Penerapan bea masuk ini dimulai sejak 6 Juli 2018.

Teranyar, AS mengenakan bea masuk sebesar 10% pada barang-barang made in China senilai US$ 200 miliar. Kebijakan ini kemudian dibalas dengan China yang menaikkan bea masuk menjadi 5-10% untuk produk Negeri Paman Sam senilai US$ 60 miliar.

Tanpa adanya resolusi antar kedua negara, tahun depan AS berpotensi mengerek naik bea masuk untuk barang-barang impor dari China senilai US$ 200 miliar tersebut, menjadi 25%. Tidak hanya itu, produk Negeri Panda lainnya pun berisiko terkena bea masuk tambahan.


Dengan tambahan bea masuk, produk-produk China kini akan lebih mahal bagi pembeli di AS (berlaku sebaliknya), perubahan arus perdagangan dan investasi dari China/AS pun tak dapat dihindari. Kemungkinan ini akan lebih besar terjadi pada China, mengingat besaran ekspor Beijing yang lebih besar dibandingkan Washington.

Lalu ke mana "perubahan arus" ini akan mengarah? Berdasarkan riset dari Bank UOB, muara dari arus ini adalah Asia Tenggara.

Sekarang pertanyaannya, negara Asia Tenggara mana yang bisa mendulang untung paling besar? Bagaimana nasib Indonesia? Berikut ulasan Tim Riset CNBC Indonesia melansir riset dari Bank UOB.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)

[Gambas:Video CNBC]



Tenang, Sejauh ini Belum Ada Peralihan Arus Perdagangan Yang Masif
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading