Setoran Pajak Seret, Tanda RI Masih Terjerat Resesi?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
24 February 2021 06:35
Suasana pusat perbelanjaan di ITC Mangga Dua yang sangat sepi pembeli, puluhan toko ditutup karena minimnya jual beli masyarakat ditengah pandemi, Jumat (6/11/2020). Salah satu pemilik toko menyebutkan untuk menyewa toko dalam setahun sebesar Rp. 50juta harga itu diluar tarif listrik dan kebersihan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Suasana pusat perbelanjaan di ITC Mangga Dua yang sangat sepi pembeli, puluhan toko ditutup karena minimnya jual beli masyarakat ditengah pandemi, Jumat (6/11/2020). Salah satu pemilik toko menyebutkan untuk menyewa toko dalam setahun sebesar Rp. 50juta harga itu diluar tarif listrik dan kebersihan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setoran pajak menggambarkan situasi ekonomi karena pajak dibayarkan atas aktivitas ekonomi seperti transaksi atau nilai tambah. Jadi kalau setoran pajak seret bisa dikata situasi ekonomi sedang lesu.

Itulah yang sedang terjadi di Indonesia. Sampai Januari 2021, penerimaan pajak masih saja mampet.

Per akhir Januari 2021, penerimaan pajak tercatat Rp 68,5 triliun. Angka ini masih 5,6% dari target APBN 2021 dan 15,3% di bawah realisasi Januari 2020.


Berdasarkan jenis pajak, seluruhnya membukukan kontraksi (pertumbuhan negatif). Paling dalam dialami oleh Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang mencapai -54,44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

pajakSumber: Kementerian Keuangan

"Serapan tenaga kerja atau pemulihan ekonomi yang belum semuanya normal menyebabkan jumlah tenaga kerja mengalami penurunan arau jumlah pengangguran naik. Oleh karena itu PPh mengalami penurunan. Wajib Pajak Badan juga masih dalam posisi yang cukup struggle menghadapi Covid-19 di mana penjualan dan proses produksi masih dalam posisi yang bergerak untuk menuju pulih," jelas Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, dalam jupa pers APBN Kita edisi Februari 2021.

Ya, pendemi Covid-19 atau Coronavirus Disease-2019 memang masih menjadi momok bagi perekonomian. Meski sejatinya pandemi adalah masalah kesehatan, tetapi dampak ekonominya sangat luar biasa.

Virus corona menular dengan begitu cepat. Kementerian Kesehatan mencatat, jumlah pasien positif corona di Tanah Air per 23 Februari 2021 adalah 1.298.608 orang. Bertambah 9.775 orang (0,76%) dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (10-23 Februari 2021), rata-rata pasien positif bertambah 8..845 orang per hari. Lebih sedikit ketimbang rerata 14 hari sebelumnya yakni 11.602 orang per hari.

Namun, temuan kasus positif berbanding jumlah tes (positive rate) di Indonesia masih sangat tinggi yaitu di atas 20%. Artinya, satu dari lima orang yang menjalani tes corona ditemukan positif mengidap virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China itu.

Halaman Selanjutnya --> Aktivitas dan Mobilitas Warga Belum Normal

Aktivitas dan Mobilitas Warga Belum Normal
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading