Roda Ekonomi RI Belum Muter, Ini Buktinya!

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 February 2021 13:56
Pedagang menjual bahan makanan di pasar Klender, Jakarta, Rabu (1/8). Badan Pusat Statistik mencatat, inflasi selama Juli 2018 sebesar 0,28 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender Januari-Juli 2018 tercatat sebesar 2,18 persen, dan inflasi tahun ke tahun sebesar 3,18 persen. inflasi Juli 2018, paling besar disumbang oleh kelompok pengeluaran bahan makanan yang mengalami inflasi sebesar 0,86 persen dengan andil sebesar 0,18 persen. Disusul oleh kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi, olaharaga yang terjadi inflasi sebesar 0,83 persen dengan andil 0,07 persen. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjaga stabilitas harga adalah pekerjaan yang sangat berat. Kenaikan harga yang tinggi (inflasi) akan membuat pusing para pelaku ekonomi. Begitu juga sebaliknya, penurunan harga yang terus menerus (deflasi) juga membuat pening kepala banyak pihak.

Baik inflasi yang tinggi maupun deflasi pernah terjadi di Indonesia. Kurang lebih 22 tahun silam, saat krisis keuangan Asia melanda, Indonesia menjadi salah satu korbannya. Output perekonomian (Produk Domestik Bruto/PDB) terkontraksi lebih dari 10%.

Kondisi semakin diperparah dengan adanya inflasi yang tinggi. Kenaikan harga yang luar biasa dipicu oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Adanya capital outflow yang masif menekan kinerja rupiah secara signifikan. 


Depresiasi rupiah terhadap greenback, membuat biaya impor meroket. Alhasil harga-harga barang pun terbang. Saat itu bank sentral pun belum independen seperti sekarang ini. 

Seiring dengan berjalannya waktu, inflasi pun mulai melandai. Sejak suku bunga acuan diganti dari BI Rate menjadi BI-7 Day Reverse Repo Rate empat tahun silam, inflasi cenderung bergerak di rentang sasaran bank sentral.

Namun krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang berkembang menjadi resesi ekonomi global membuat inflasi keluar dari jalur. Ekonomi yang seolah mati suri akibat lockdown dan pembatasan aktivitas publik menjadi pukulan ganda baik dari sisi permintaan maupun pasokan barang dan jasa. 

Inflasi pun berubah menjadi deflasi. Tren penurunan harga juga terjadi di Tanah Air. Untuk pertama kalinya, Indonesia mencatatkan deflasi dalam satu kuartal beruntun yakni sejak Juli-September 2020.

Kendati BI agresif memangkas suku bunga acuan lebih dari 100 basis poin (bps) serta memompa likuiditas hingga ratusan triliun rupiah, inflasi yang sehat belum tampak. Tahun lalu inflasi tercatat di angka 1,68% (yoy). Lebih rendah dari sasaran target BI di 3% plus minus 1 poin persentase. 

Memasuki tahun 2021, inflasi di bulan Januari pun masih lesu. Badan Pusat Statistik melaporkan inflasi berada di angka 1,55% (yoy) di bulan pertama tahun ini. Perlambatan inflasi kemungkinan besar masih akan berlanjut di bulan Februari.

Survei pemantauan harga yang dilakukan BI bisa menjadi cerminan dari tren tersebut. Otoritas moneter nasional tersebut memperkirakan inflasi di bulan Februari sebesar 0,07% dibanding bulan sebelumnya dan 1,34% (yoy) dibanding Februari tahun lalu. Secara tahun berjalan inflasi diramal sebesar 0,33% (ytd).

Inflasi masih ditopang oleh kenaikan harga pangan yang lebih diakibatkan oleh faktor pasokan. Adanya fenomena iklim La Nina yang menyebabkan banjir di berbagai daerah di dalam negeri memicu terjadinya penurunan output produk-produk agrikultur serta menghambat distribusi pangan yang selama ini masih belum efisien.

Halaman Selanjutnya --> Penyebab Inflasi Rendah: Penyaluran Kredit Terkontraksi

Penyebab Inflasi Rendah: Penyaluran Kredit Terkontraksi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading