Newsletter

Waspada, Lockdown di Mana-mana!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 October 2020 06:00
Anggota perawat dan staf Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) melakukan aksi di tengah penyebaran penyakit COVID-19, di luar Downing Street di London, Inggris. (AP/Kirsty Wigglesworth) Foto: Anggota perawat dan staf Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) melakukan aksi di tengah penyebaran penyakit COVID-19, di luar Downing Street di London, Inggris. (AP/Kirsty Wigglesworth)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lagi-lagi pasar keuangan Indonesia ditutup tidak kompak pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, tetapi nilai tukar rupiah malah menguat.

Kemarin, IHSG ditutup melemah 1,37%. Rantai penguatan IHSG selama delapan hari beruntun akhirnya putus juga.


Namun IHSG tidak sendirian, bahkan beberapa indeks daham Asia lainnya ada yang melemah lebih dalam. Misalnya Hang Seng (Hong Kong) dan Sensex (India) yang melemah lebih dari 2%.

Selama menguat delapan hari beruntun, IHSG sudah melonjak 5,06%. Jadi wajar kalau investor ingin mencairkan keuntungan, karena hasil yang didapat tentu sudah lumayan.

Selain itu, IHSG dkk di Asia kena imbas koreksi Wall Street yang terjadi sebelumnya. Apa boleh buat, mood investor memang sedang kurang bagus.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,14% menjadi Rp 14.660 kala penutupan perdagangan pasar spot. Tidak banyak mata uang utama Benua Kuning yang menguat, selain rupiah hanya ada won Korea Selatan.

Minimnya pesaing membuat rupiah lebih leluasa. Hasilnya, apresiasi 0,14% sudah cukup untuk membawa rupiah menjadi mata uang terbaik Asia.

Sentimen positif yang menaungi rupiah adalah rilis data perdagangan internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai ekspor pada September 2020 adalah US$ 14,01 miliar sementara impor US$ 11,57 miliar. Ini membuat neraca perdagangan membukukan surplus US$ 2,44 miliar.

Setiap bulan sepanjang kuartal III-2020. Neraca perdagangan selalu surplus. Bahkan surplusnya bukan kaleng-kaleng, mencapai US$ 8,01 miliar.

Neraca perdagangan yang surplus tebal membuat Bank Indonesia (BI) memperkirakan transaksi berjalan bisa surplus pada periode Juli-September 2020. Jika terwujud,maka akan menjadi surplus pertama sejak 2011.

Artinya, pasokan valas di perekonomian domestik sudah tidak lagi mengandalkan investasi portofolio di sektor keuangan (hot money). Ketersediaan devisa ditopang oleh aktivitas ekspor-impor barang dan jasa, yang lebih berjangka panjang dan tidak mudah keluar-masuk seperti si uang panas.

Ditopang oleh pasokan devisa yang stabil, fondasi penahan rupiah akan lebih kokoh. Rupiah menjadi relatif lebih aman dari guncangan eksternal.

Data Tenaga Kerja Bikin Cemas, Wall Street Lemas
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading