9 Tahun Tekor, Transaksi Berjalan Surplus! Prestasi Jokowi?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
14 October 2020 07:20
Aktifitas Peti Kemas di Daerah Priok. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada sebuah mitos yang bagi sebagian orang diyakini kebenarannya. Katanya sesuatu yang berulang selama 21 hari akan menjadi sebuah kebiasaan baru. Kalau yang 21 hari saja sudah menjadi kebiasaan, bagaimana yang sembilan tahun...

Ya, sudah sembilan tahun lamanya Indonesia mengidap defisit di transaksi berjalan. Sampai-sampai kita terbiasanya menyebutnya CAD, Current Account Deficit.

Transaksi berjalan adalah salah satu dari dua pos di neraca pembayaran. Pos ini mencerminkan pasokan devisa di sebuah negara dari kegiatan ekspor-impor barang dan jasa.


Pasokan valas dari transaksi berjalan dinilai lebih stabil, lebih berkelanjutan, lebih berjangka panjang ketimbang di pos sebelah, transaksi modal dan finansial. Oleh karena itu, transaksi berjalan kerap dipakai sebagai salah satu indikator untuk mengukur ketahanan eksternal suatu negara. Saat transaksi berjalan surplus, maka negara tersebut relatif lebih mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi.

Kali terakhir Indonesia membukukan surplus di transaksi berjalan adalah pada kuartal III-2011. Selepas itu, transaksi berjalan selalu defisit sehingga kita jadi terbiasa menyebutnya CAD.

Namun kini sepertinya kebiasaan itu harus dihilangkan. Sebab pada kuartal III-2020 ada kemungkinan transaksi berjalan bakal kembali surplus.

"Transaksi berjalan pada kuartal III-2020 diperkirakan akan mencatat surplus. Dipengaruhi oleh perbaikan ekspor dan penyesuaian impor sejalan dengan permintaan domestik yang belum cukup kuat," ungkap Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), dalam jumpa pers usar Rapat Dewan Gubernur Periode September 2020, kemarin.

Impor Anjlok Seanjlok-anjloknya
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading