Jokowi : 'Hantu' CAD Pergi, Kita Merdeka!

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
09 January 2020 11:28
Jokowi : 'Hantu' CAD Pergi, Kita Merdeka!
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) seakan tak pernah bosan membahas persoalan penyakit kronis yang sudah lama menghantui perekonomian Indonesia bernama defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

Hal tersebut terungkap dalam pidato Jokowi saat membuka rapat kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

"Kalau neraca transaksi berjalan kita sudah positif, baik, saat itulah kita betul-betul merdeka dengan siapapun kita berani," tegas Jokowi, Kamis (9/1/2020).


Ketahanan eksternal biasanya memang dicerminkan dalam transaksi berjalan (current account). Transaksi berjalan dalam salah satu pos dalam neraca pembayaran berisikan arus devisa dari ekspor - impor barang dan jasa.

Devisa dari pos ini dianggap lebih tahan lama ketimbang pos transaksi modal maupun finansial yang didominasi oleh investasi portofolio di sektor keuangan alias hot money. Tidak heran, kondisi transaksi berjalan memegang peranan penting menjaga stabilitas.

'Penyakit' CAD ini sudah terjadi sejak 2011 lalu, di mana puncaknya terjadi pada kuartal II-2014. Kala itu, defisit transaksi berjalan mencapai 4,26% dari produk domestik bruto (PDB).

Delapan tahun berlalu, transaksi berjalan masih saja mengalami defisit. Pada kuartal III-2019, transaksi berjalan Indonesia mencatatkan defisit US$ 7,86 miliar atau 2,66% dari PDB.

Kondisi ini yang kerap kali membuat Jokowi jengkel dan meminta semua pemangku kepentingan, termasuk duta besar untuk berupaya mencari investor untuk berinvestasi di Indonesia ataupun memasarkan produk ekspor ke luar negeri.

"[Transaksi berjalan yang tidak defisit] kita berani, karena tidak ada ketergantungan apapun mengenai sisi keuangan, sisi ekonomi. Itulah target kita dalam 3-4 tahun ke depan. Arahnya ke sana," tegas Jokowi.

Maka dari itu, Jokowi menekankan kepada para duta besar yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk mengedepankan diplomasi ekonomi untuk memperbaiki ketahanan eksternal Indonesia.

"Saya ingin 70-80% apa yang kita miliki fokusnya di situ, diplomasi ekonomi. Karena itulah yang sekarang, yang sedang diperlukan negara kita," tegasnya.



[Gambas:Video CNBC]





(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading