Hantu CAD di Indonesia Seketika Lenyap, Faktor Jokowi?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
16 October 2020 11:29
aktifitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan transaksi berjalan atau current account pada Kuartal III-2020 diperkirakan akan mencatatkan surplus. Hal tersebut diungkap di dalam laporan Tinjauan Kebijakan Moneter BI bulan Oktober 2020.

Surplus transaksi berjalan diperkirakan bersumber dari surplus neraca perdagangan barang yang lebih tinggi, dibandingkan capaian pada triwulan sebelumnya.

"Didorong perkiraan peningkatan ekspor barang di tengah penyesuaian impor karena permintaan domestik yang masih lemah," tulis laporan BI dikutip CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2020).

Seperti diketahui, pada Juli-Agustus 2020, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 5,57 miliar. Sementara itu, neraca jasa juga diperkirakan masih mencatat defisit didorong oleh defisit jasa perjalanan karena kunjungan wisatawan mancanegara yang menurun selama pandemi covid-19.

Transaksi berjalan merupakan satu dari dua komponen Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), dan menjadi faktor yang begitu krusial dalam mendikte laju rupiah lantaran arus devisa yang mengalir dari pos ini cenderung lebih stabil dan berjangka panjang.



Komponen NPI lainnya, transaksi modal dan finansial berisikan aliran modal dari investasi portofolio atau yang biasa disebut sebagai hot money, dan pergerakannya sangat fluktuatif. Arus modal dapat datang dan pergi dalam waktu singkat, sehingga berdampak pada stabilitas rupiah.

Transaksi berjalan sudah mengalami defisit sejak kuartal IV-2011, di mana puncaknya terjadi pada kuartal II-2014. Kala itu, defisit transaksi berjalan mencapai 4,26% dari produk domestik bruto (PDB).

Delapan tahun berlalu, transaksi berjalan masih saja mengalami defisit. Pada kuartal III-2019, transaksi berjalan Indonesia mencatatkan defisit US$ 7,86 miliar atau 2,66% dari PDB.

Kemudian, di tahun 2020 ini, transaksi berjalan masih mengalami defisit. Berdasarkan publikasi Neraca Pembayaran Kuartal II-2020 oleh Bank Indonesia (BI) pada pertengahan Agustus lalu menunjukkan defisit transaksi berjalan sebesar US$ 2,9 miliar atau setara 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB), membaik dari kuartal sebelumnya 1,4% PDB. Defisit di kuartal II-2020 menjadi yang paling sempit sejak awal 2017.

Kondisi CAD ini kemudian menjadi 'hantu' bagi perekonomian Indonesia. Kala defisit membengkak, BI akan menaikkan suku bunga guna menarik hot money, sehingga diharapkan dapat mengimbangi current account deficit (CAD), yang pada akhirnya dapat menopang penguatan rupiah.

Adanya proyeksi transaksi berjalan yang mencatatkan surplus pada Kuartal III-2020 ini kemudian mengingatkan masyarakat akan kemarahan yang pernah diucapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2019 silam.

Dalam beberapa kesempatan, Jokowi menegur langsung para Menteri dan banyak menunjukkan beberapa mimik kekecewaannya.

Menurut Kepala Negara, untuk mengatasi masalah itu, Indonesia membutuhkan ekspor dan investasi terutama yang mengarah kepada substitusi impor. Sayangnya, investasi dalam negeri masih lambat, salah satunya dikarenakan masalah perizinan yang masih lama.

"Jadi yang namanya penyederhanaan perizinan saya sudah bolak balik ngomong lebih dari 20 tahun tidak bisa selesaikan defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, karena ekspor kita. Kedua investasi kita. Dua hal itu tak bisa kita selesaikan dengan baik," kata Jokowi saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional 2019 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (9/5/2019).

"Kita tahu masalahnya itu. Ini niat atau enggak niat? Mau atau enggak mau? Kalo dua (masalah itu) bisa diselesaikan, rampung kita," lanjutnya.

Jokowi seakan tidak pernah bosan menyinggung masalah defisit transaksi berjalan atau CAD, yang sudah sejak lama menghantui perekonomian Indonesia. Persoalan CAD kemudian disampaikan lagi oleh Jokowi awal tahun 2020.

Hal tersebut terungkap dalam pidato Jokowi saat membuka rapat kerja Kepala Perwakilan Republik Indonesia dengan Kementerian Luar Negeri di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

"Kalau neraca transaksi berjalan kita sudah positif, baik, saat itulah kita betul-betul merdeka dengan siapapun kita berani," tegas Jokowi, Kamis (9/1/2020).



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading