Newsletter

Waspada Gelombang Kedua Serangan Virus Corona!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
11 May 2020 06:01
A view of the corridor outside the intensive care unit of the hospital of Brescia, Italy, Thursday, March 19, 2020. Italy has become the country with the most coronavirus-related deaths, surpassing China by registering 3,405 dead. Italy reached the gruesome milestone on the same day the epicenter of the pandemic, Wuhan, China, recorded no new infections. For most people, the new coronavirus causes only mild or moderate symptoms. For some it can cause more severe illness. (Claudio Furlan/LaPresse via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia  - Pasar keuangan Indonesia melemah pada perdagangan pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, dan harga obligasi pemerintah kompak terkoreksi.

Sepanjang pekan lalu, IHSG melemah tipis 0,17% secara point-to-point. Meski melemah, tetapi IHSG bukan yang terlemah di Asia. Di tengah bursa saham Benua Kuning yang bergerak variatif, koreksi IHSG masih relatif minim.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,44%. Rupiah juga tidak berdaya kala disandingkan satu lawan satu dengan mata uang utama Asia.


Kemudian imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun melonjak 20 basis poin (bps)  sepanjang minggu lalu. Kenaikan yield menandakan harga obligasi sedang turun akibat tekanan jual. Selama 4-6 Mei, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) memang turun Rp 2,19 triliun.

Apa boleh buat, pekan lalu memang bukan momentum yang tepat bagi pasar keuangan Indonesia. Berbagai rilis data sama sekali tidak memihak IHSG dkk.

Pada awal pekan, IHS Markit melaporkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia untuk periode April 2020 sebesar 27,5. Jauh menurun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 43,5 dan menjadi yang terendah sepanjang pencatatan PMI pada April 2011.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Di atas 50 berarti dunia usaha optimistis dan siap melakukan ekspansi. Sebaliknya kalau di bawah 50, berarti dunia usaha pemististis sehingga yang ada adalah kontraksi.

Artinya, dunia usaha di Ibu Pertiwi sepertinya sangat gloomy memandang prospek perekonomian saat ini dan masa mendatang sehingga belum memikirkan ekspansi. Jangankan ekspansi, bertahan hidup saja sudah ngos-ngosan.


Absennya ekspansi dunia usaha akan membuat pertumbuhan ekonomi sulit melaju kencang. Benar saja, pada 5 Mei 2020, Badan Pusa Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2020 tumbuh 2,97%. Ini adalah laju terendah sejak 2001.

Realisasi ini jauh dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia yaitu 4,33%. Juga jauh di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI) yang sebesar 4,4%.

"Dampak dari penanganan Covid-19 mulai mempengaruhi berbagai kegiatan ekonomi. Konsumsi, investasi, ekspor-impor. Semula kami perkirakan Maret belum kena. Semula konsumsi kami kira bisa tumbuh 4,4%, ternyata konsumsi sudah tidak setinggi yang kami perkirakan, hanya tumbuh 2,8%. Demikian juga investasi, yang semula kami perkirakan 2,4% ternyata 1,7%. Artinya, social distancing telah mempengaruhi pendapatan masyarakat, konsumsi, serta aktivitas produksi dan investasi dunia usaha," papar Perry Warjiyo, Gubernur BI.



Sehari setelah rilis data pertumbuhan ekonomi, BI menyampaikan kabar buruk yaitu Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang anjlok menjadi 84,8 pada April 2020. Turun drastis dari bulan sebelumnya yaitu 113,8 sekaligus menjadi yang terendah sejak Juli 2008.

"Melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja. Sementara di sisi ekspektasi, konsumen masih relatif optimis terhadap perkiraan kondisi ekonomi pada 6 bulan mendatang meskipun tidak sekuat perkiraan bulan sebelumnya. Optimisme tersebut ditopang oleh perkiraan penghasilan yang meningkat dan kegiatan usaha yang kembali membaik pada 6 bulan mendatang, seiring dengan perkiraan telah meredanya pandemi COVID-19 di Indonesia," sebut laporan BI.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik start. Di atas 100 berarti konsumen pede, sebaliknya kalau di bawah 100 konsumen pesimistis.

IKK adalah salah satu indikator awalan (leading indicator) yang penting untuk mengeker ke mana ekonomi akan bergerak. Leading indicator lain yang kerap digunakan untuk membaca arah ekonomi adalah PMI.

Data PMI, pertumbuhan ekonomi, dan IKK memberi gambaran bahwa prospek perekonomian Indonesia tidak terlalu cerah. Akibatnya, investor memilih untuk meninggalkan pasar keuangan Indonesia.

[Gambas:Video CNBC]



Data Ekonomi AS Jeblok, Kok Wall Street Menguat?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading