Jelang RDG BI, Perhatikan Arah Tiga Mata Uang Ini
Alfado Agustio,
CNBC Indonesia
19 July 2018 08:31
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang sangat terkait dengan aktivitas ekonomi terutama perdagangan dan investasi. Namun di negara yang mengalami defisit neraca transaksi berjalan (current account) seperti Indonesia, faktor moneter jadi penentu.Â
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2018, tiga negara yang memiliki nilai perdagangan non-migas terbesar dengan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2018 adalah China, Jepang, dan Amerika Serikat (AS).Â
Tidak heran, ketiga mata uang tersebut menjadi perhatian utama para pebisnis dan trader nasional sehingga diperhatikan arah pergerakannya dari hari ke hari.
Di tengah defisit neraca transaksi berjalan yang berujung pada minusnya aliran dana asing dari aktivitas perdagangan, jasa dan investasi, nilai tukar rupiah yang mereka pegang pun menjadi sangat dipengaruhi faktor non-fundamental perekonomian, yakni dari intervensi moneter.
Oleh karena itu, kami mencoba memproyeksikan bagaimana pergerakan mata uang yuan China, yen Jepang, dan dolar Amerika Serikat (AS), dengan mempertimbangkan kebijakan bank sentral nasional dan dikaitkan dengan dinamika fundamental ekonomi masing-masing negara.Â
Sebagaimana diketahui, hari ini Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang salah satu agendanya adalah mengumumkan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI Repo Rate). Berikut ini ulasannya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2018, tiga negara yang memiliki nilai perdagangan non-migas terbesar dengan Indonesia sepanjang Januari-Juni 2018 adalah China, Jepang, dan Amerika Serikat (AS).Â
Tidak heran, ketiga mata uang tersebut menjadi perhatian utama para pebisnis dan trader nasional sehingga diperhatikan arah pergerakannya dari hari ke hari.
Di tengah defisit neraca transaksi berjalan yang berujung pada minusnya aliran dana asing dari aktivitas perdagangan, jasa dan investasi, nilai tukar rupiah yang mereka pegang pun menjadi sangat dipengaruhi faktor non-fundamental perekonomian, yakni dari intervensi moneter.
Oleh karena itu, kami mencoba memproyeksikan bagaimana pergerakan mata uang yuan China, yen Jepang, dan dolar Amerika Serikat (AS), dengan mempertimbangkan kebijakan bank sentral nasional dan dikaitkan dengan dinamika fundamental ekonomi masing-masing negara.Â
Sebagaimana diketahui, hari ini Bank Indonesia (BI) dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang salah satu agendanya adalah mengumumkan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI Repo Rate). Berikut ini ulasannya.
Next Page
Dolar AS Berpeluang Kian Perkasa