Internasional

Mohammed bin Salman, Pangeran Reformis di Kasus Khashoggi

News - Bernhart Farras, CNBC Indonesia
19 October 2018 13:58
Mohammed bin Salman, Pangeran Reformis di Kasus Khashoggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman atau dikenal sebagai MBS adalah salah satu orang paling berkuasa di Timur Tengah.

Beberapa orang menyebut ia seorang reformis progresif dan membawa transformasi pada Arab Saudi yang konservatif. Namun, beberapa pihak juga melihatnya sebagai seorang garis keras yang brutal dalam membungkam lawan-lawannya.





Ia memegang kekuasaan dan politik sejak 2007. Kekuasaannya yang tumbuh kuat dengan cepat telah membuka pintu baginya untuk bertemu dengan beberapa pemimpin politik dan bisnis paling terkemuka di dunia, dikutip dari CNBC International.


Darah Biru Mengalir dalam Tubuhnya

Kerajaan Arab Saudi memiliki silsilah keluarga yang luas, tetapi kita akan fokus pada mantan Raja Arab Abdullah (2005-2015), Raja Salman bin Abdul Aziz, dan Pangeran Mohammed bin Salman.

Sejak kematian Raja Abdullah, saudaranya, Raja Salman bin Abdul Aziz menggantikannya sebagai raja Aran. Saat itu MBS bekerja untuk lembaga pemerintah, lalu menjadi menteri pertahanan.

Setelah ayahnya (Salman bin Abdul Aziz) menjadi raja, MBS diangkat menjadi Pangeran Mahkota di Juni 2017.

Pangeran Arab Mohammed bin SalmanFoto: REUTERS/Amir Levy
Pangeran Arab Mohammed bin Salman
Sejak saat itu dimulailah kepemimpinannya yang mirip kisah serial televisi Game of Thrones. Ia telah memenjarakan banyak petinggi Arab dalam penjara eksklusif di hotel mewah yang ia sebut sebagai kampanye antikorupsi. MBS juga menggunakan kekuasannya untuk membungkam pesaingnya demi melanggengkan kekuasaan.

Ia juga adalah pemimpin paling progresif dalam sejarah Arab Saudi.

Pada 2018 ia membuat kebijakan yang memperbolehkan perempuan untuk mengendarai kendaraan. Tidak hanya itu, ia juga mendorong diversifikasi Arab dari ketergantungan minyak yang telah menjadi penghasil utama di negara tersebut. Ia juga mengancam akan membuat nuklir jika Iran terus membuatnya.

Saat ditanya oleh CBS dalam pertemuan di AS awal 2018 tentang apa yang akan menghentikanmu dari kekuasaan, ia menjawab "hanya kematian".


Kasus Khashoggi

Tapi sekarang, perhatian dunia diarahkan tepat pada putra mahkota dan lingkaran dalamnya atas dugaan keterlibatan mereka dalam hilangnya jurnalis Arab, Jamal Khashoggi.




Khashoggi adalah warga negara Amerika Serikat (AS) dan kolumnis untuk The Washington Post yang sering mengritik pemerintah Arab Saudi. Ia menghilang setelah memasuki konsulat Arab di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.

Pada pertengahan Oktober, Arab Saudi membantah keterlibatan atas hilangnya Khashoggi. Tetapi beberapa hari lalu beredar kabar bahwa Khashoggi telah dimutilasi dalam waktu tujuh menit.

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading