Minyak Sawit Bikin Bos Makin Kaya, Mencekik Rakyat Jelata!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 April 2022 08:49
FILE PHOTO: A worker shows palm oil fruits at a plantation in Chisec, Guatemala December 19, 2018. REUTERS/Luis Echeverria/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak penyakit akibat virus corona (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi, harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mengalami kenaikan sangat tajam dan berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan harga CPO tersebut memberikan efek ganda, ada yang sangat diuntungkan ada juga yang dirugikan. Yang paling diuntungkan tentunya perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit.

Laba yang dicatat mengalami peningkatan yang signifikan, bagi perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga sahamnya juga menanjak. Para bos perusahaan CPO dan pemegang sahamnya pun semakin kaya raya.


Tetapi yang dirugikan adalah masyarakat luas. Harga minyak goreng yang berbahan dasar minyak sawit mengalami lonjakan harga gila-gilaan.

Di masa awal pandemi Covid-19, harga CPO memang sempat longsor. Pada Mei 2020 lalu harga CPO di Bursa Derivatif Malaysia untuk kontrak 3 bulan sempat menyentuh harga 1.939 ringgit (MYR) per ton. Tetapi sejak saat itu, harga minyak nabati ini terus menanjak.

Sepanjang 2020, minyak sawit mentah tercatat membukukan penguatan 18%, dan di tahun 2021 melesat lebih dari 30%. Kuartal I-2022 menjadi puncak meroketnya harga, setidaknya untuk saat ini sebab tidak menutup kemungkinan akan melesat lebih tinggi lagi.

Pada 9 Maret lalu, CPO menyentuh harga MYR 7.268/ton yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa, berdasarkan data Refinitiv. Dari posisi akhir 2021 hingga ke rekor tersebut, CPO meroket lebih dari 55%.

Tren kenaikannya terhenti di rekor tersebut, setelahnya terus mengalami penurunan dan menutup bulan Maret di MYR 5.705/ton. Dengan demikian, sepanjang kuartal I-2022, CPO mengalami kenaikan sekitar 21%.

Banyak faktor yang menyebabkan lonjakan harga CPO, tetapi utamanya adalah ketidakseimbangan supply dengan demand. Pada masa awal pandemi, Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen utama CPO menerapkan kebijakan pembatasan sosial yang ketat. Alhasil, tingkat produksi mengalami penurunan.

Namun, demand juga mengalami penurunan, sebab negara konsumen seperti China dan India juga menerapkan lockdown. Seiring berjalannya waktu, China berhasil meredam penyebaran Covid-19, perekonomiannya perlahan mulai berputar kembali dan permintaan CPO meningkat.

Sayangnya peningkatan permintaan tersebut belum bisa diimbangi dengan produksi, sehingga harga CPO terus menanjak. Kondisi tersebut diperparah dengan faktor musiman yang membuat tingkat produksi menurun, kemudian masalah logistik, hingga puncaknya perang Rusia dan Ukraina.

CPO sebagai minyak nabati memiliki beberapa substitusi, seperti minyak bunga matahari dan minyak kedelai.

Saat perang Rusia dan Ukraina terjadi, pasokan minyak bunga matahari menjadi terganggu, sebab kedua negara adalah produsen terbesar.

Mengutip data dari Statista, Ukraina memproduksi 17,5 juta metrik ton biji bunga matahari di musim panen 2021/2022, sementara Rusia sebanyak 15,4 juta metrik ton. Gangguan supply tersebut membuat konsumen beralih ke minyak sawit yang membuat harganya terus melambung di tiga bulan pertama tahun ini.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Indonesia "Kipas-Kipas Duit", Para Bos Makin Kaya

Indonesia Dapat 'Durian Runtuh'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading