Waspada Bank Kakap RI! Ada 'Kuda Hitam' Baru dari Singapura

Market - tahir saleh & Ferry Sandria, CNBC Indonesia
31 March 2021 09:15
Shopee/Dok Sea Ltd

Jakarta, CNBC Indonesia - Pencapaian Bank Jago bisa dibilang paling mencuri perhatian kalangan pelaku pasar dan bankir Tanah Air. Tahun 2019, bank kecil yang modal intinya cuma di bawah Rp 1 triliun saat itu memang belum diperhitungkan kala masih bernama PT Bank Artos Indonesia Tbk dengan kode saham ARTO di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Titik balik terjadi di pengujung tahun 2019 saat 51% saham ARTO diakuisisi oleh PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI) dan Wealth Track Technology (WTT).

MEI adalah kendaraan bisnis milik bankir senior Jerry Ng, sementara WTT dikendalikan pebisnis Patrick Sugito Walujo, menantu dari salah satu taipan di Indonesia, TP Rachmat.


Setelah akuisisi itu, makin ramai saja tren bank digital seiring dengan besarnya potensi pasar yang digarap.

Sebetulnya Bank Jago yang tetap memakai kode saham ARTO ini bukanlah pionir, melainkan Jenius milik PT Bank BTPN Tbk (BTPN) yang mulai melayani nasabah pada 2016. Jenius digagas BTPN saat bank tersebut masih dipimpin oleh bankir Jerry Ng.

Setelah Jenius, kemudian berkembanglah Digibank (Bank DBS Indonesia) dan Tyme Digital (Bank Commonwealth) pada 2017 meskipun secara keseluruhan Bank Jago bisa dikatakan yang paling fenomenal bagi pelaku pasar, termasuk investor pasar saham lantaran harga sahamnya terus meroket.

Data BEI mencatat saham ARTO melesat 280% dalam 6 bulan terakhir dan sempat menyentuh level tertinggi year to date yakni Rp 11.375/saham.

Besarnya potensi fintech dan bank digital inilah membuat investor lain pun kepincut.

Salah satunya yang terbaru adalah Sea Limited (Sea Group), perusahaan induk e-commerce Shopee, yang sahamnya tercatat di Bursa New York Stock Exchange (NYSE).

Sea Ltd resmi mencaplok PT Bank Kesejahteraan Ekonomi atau dikenal dengan Bank BKE dan mengubahnya menjadi bank digital pada 10 Februari 2021.

Sea Group makin gencar setelah pada awal Desember 2020, grup bisnis yang berbasis di Singapura ini baru saja mendapatkan lisensi perbankan digital secara penuh oleh otoritas moneter Singapura, bersama dengan konsorsium Grab-Singtel.

Sebagai informasi, Sea yang dimaksud ini adalah Sea Ltd yang tercatat di bursa Wall Street, NYSE, dengan kode saham SE.

Penegasan ini mengingat ada dua Sea lainnya di global.

Pertama, SEA Group yang merupakan pabrikan motor karavan yang berkantor pusat di Italia, yang berbasis di Trivolzio, Lombardy.

Kedua, SEA Holdings Limited, juga dikenal sebagai SEA Group yang merupakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong. Bisnis intinya di bidang investasi dan pengembangan properti, hotel, dengan bisnis yang beragam di Hong Kong, Inggris, Australia, dan negara lain.

Langkah Cepat

Berdasarkan situs resminya, Sea Ltd punya tiga bisnis utama. Pertama, Garena yang menjadi bisnis terdepan pertama perusahaan ini. Garena didirikan pada 2009, menjadi pengembang dan penerbit game online terkemuka dengan jejak global di lebih dari 130 pasar.

Garena adalah pengembang dan penerbit game online Singapura yang mendistribusikan game di Garena + di berbagai negara di Asia Tenggara dan Timur, termasuk game multiplayer online battle arena (MOBA) League of Legends dan Heroes of Newerth, game sepak bola online FIFA Online 3, dan game MOBA seluler Arena of Valor dan game balap seluler Speed Drifters.

Pada 2017, Garena Free Fire dirilis, yang memiliki lebih dari 80 juta pengguna aktif harian secara global pada Mei 2020.

Tahun 2019, Garena mengumumkan rencana pengaturan kembali struktur perusahaan di bawah konglomerasi Sea dan menjadi anak usahanya.

Kedua, bisnis Shopee, platform e-commerce terkemuka di Asia Tenggara dan Taiwan, yang diluncurkan pada 2015. Berkembang pula Shopee Food hingga ke Indonesia.

Ketiga, SeaMoney, penyedia pembayaran digital dan layanan keuangan di Asia Tenggara.

"Misi SeaMoney adalah meningkatkan kehidupan individu dan bisnis di wilayah kami dengan layanan keuangan melalui teknologi," tulis manajemen Sea, dalam situs resminya.

Pendiri Sea adalah Forrest Li yang juga anggota dewan direksi Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura. Dia menjabat sebagai direktur non-eksekutif independen di Shangri-La Asia Limited, grup perhotelan global terkemuka yang terdaftar di Bursa Efek Hong Kong.

Forrest Li/Dok Sea LtdFoto: Forrest Li/Dok Sea Ltd
Forrest Li/Dok Sea Ltd

Selain Singapura, Indonesia, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memang disebutkan oleh sejumlah media global, menjadi pasar 'panas' bagi bisnis fintech dan perbankan digital.

Itulah sebabnya Sea mulai memperlebar cakupan bisnisnya tak hanya e-commerce dan bank digital di Singapura, tapi juga di Indonesia.

Setelah dicaplok Sea, Bank BKE resmi mengganti nama menjadi Bank Seabank Indonesia (SeaBank) sesuai dengan Keputusan No. AHU-0002728.Ah.01.02 Tahun 2021 yang diterbitkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia per 15 Januari 2021 tentang Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas PT Bank Seabank Indonesia.

Menurut situsnya, Bank BKE didirikan pada 1992. Kini sebesar 95,92% sahamnya dipegang SeaGroup lewat PT Danadipa Artha Indonesia dan PT Koin Investama Nusantara 4,08%.

Sebelumnya saham BKE dipegang Reliance Sekuritas, Dana Pensiun Jasa Raharja, Dana Pensiun Asuransi Jasa Indonesia, dan Koperasi Pegawai BKE.

NEXT: Sinyal Pertarungan Shopee Food vs Gojek-Grab

Pertarungan Shopee Food vs Gojek-Grab
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading