Redup! Bank Mini Kompak Kena ARB, Masih Ada Peluang Masuk?

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
30 March 2021 11:20
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perbankan menjadi sektor favorit bagi investor asing. Sebanyak empat saham bank besar yang biasanya diburu asing di antaranya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Bank-bank yang disebut big four itu memang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp 100 triliun atau disebut big cap.

Di tengah saham-saham besar ini, masih ada peluang investasi jangka panjang untuk saham-saham bank mini yang menuju bank digital.


Hal ini diungkapkan Anggaraksa Arismunandar, Head of Research NH Korindo Sekuritas. Dia mengatakan di luar bank yang memiliki kapitalisasi pasar besar, investor asing juga tertarik pada bank kecil yang mau jadi bank digital.

Bank kecil yang dimaksud ialah bank-bank mini, dengan modal inti Rp 1-5 triliun (BUKU II) yang tengah mengejar kewajiban modal minimum Rp 2 triliun tahun ini dan Rp 3 triliun tahun depan sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Mungkin [ada sentimen] masuknya investor strategis, kayak isu dari grup Shopee [Sea Group] masuk tapi gak untuk trading. Tapi jangka waktu panjang [cocok investasi]," paparnya dalam acara InvesTime CNBC Indonesia, pertengahan Maret ini.

Lebih lanjut dia mengatakan bank digital akan menjadi bank yang begitu ditopang dengan teknologi. Dengan demikian ke depan ada perbedaan pendekatan bank konvensional dan bank digital mengenai valuasi saham perusahaan.

Valuasi bank-bank kecil ini nantinya bisa menjadi perhatian investor karena bisa melebihi bank konvensional besar.

"Pertanyaannya, apakah investor sudah bisa menerima metode valuasi baru ini," katanya.

Dia mengatakan, selama ini valuasi yang dipakai biasanya mengikuti valuasi dari venture capital (modal ventura), jadi valuasi aslinya bukan dari nilai, tapi pertumbuhan bisnisnya.

"Startup venture capital booming 3-4 tahun lalu banyak startup masih rugi. Bakar duit jor-joran promo tambah pasar tapi secara valuasi bisa unicorn padahal masih rugi, jadi ada pendekatan beda perbankan konvensional dan teknologi," jelasnya.

Dia menyebut valuasi dengan cara non konvensional ini tentu ada risikonya. Institusi asing biasanya menilai secara nilai ekspektasi pertumbuhan ke depan, sehingga mereka tidak takut dengan 'bakar uang' di depan pada sebuah perusahaan rintisan di Indonesia.

"Kita investor ritel kurang familiar, apakah ada kemampuan mumpuni kalau belum familiar metode ini," ungkapnya.

Di pasar saham, saham-saham bank mini saat ini mulai redup. Data BEI di sesi I pukul 10.41 WIB, Selasa ini (30/3), saham PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) minus 0,84% di level Rp 470/saham dengan koreksi sebulan 42%.

Saham PT Bank Ganesha Tbk (BGTG) juga ambruk 6,85% di Rp 136/saham alias menyentuh batas auto reject bawah (ARB) dan sebulan minus 31%.

Saham PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP) juga turun 2,44% di Rp 80/saham dan sebulan masih naik 11%.

Adapun saham PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) masuk level batas bawah ARB, anjlok 6,91% di Rp 1.750/saham dengan koreksi sebulan 18%.

Selain itu, yang kena ARB yakni saham PT Bank Artha Graha Tbk (INPC) -6,94% di Rp 161, PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW) -6,98% Rp 240/saham.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading