Hati-hati! Asing Ramai Profit Taking di 4 Saham Nikel Ini Lho

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
23 February 2021 07:49
Foto: Dok ANTAM

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak empat dari tujuh saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat cenderung dilepas oleh investor asing selama satu bulan terakhir alias net foreign sell seiring dengan profit taking atas saham-saham tersebut

Keempat saham tersebut, yakni PT Timah Tbk (TINS), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dan PT Central Omega Resources Tbk (DKFT).

Sementara itu, tiga saham yang banyak dikoleksi asing, yakni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trinitan Metals and Minerals Tbk (PURE).


Top Foreign Sell (Reguler) 1 Bulan (22/2)

  1. Timah (TINS), net sell Rp -69,22 M
  2. Harum Energy (HRUM), net sell Rp -68,84 M
  3. Pelat Timah Nusantara (NIKL), net sell Rp -2,23 M
  4. Central Omega Resources (DKFT), net sell Rp -1,79 M
  5. Aneka Tambang (ANTM), net buy Rp 962,89 M
  6. Trinitan Metals and Minerals (PURE), net buy Rp 735,04 M
  7. Vale Indonesia (INCO), net buy Rp 19,45 M

Terjadinya net foreign sell pada keempat saham di atas mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh asing.

Aksi profit taking yang dilakukan asing ini nampaknya wajar, apabila melihat harga saham keempat emiten di atas yang terus positif secara year to date (YTD).

TINS menjadi emiten yang sahamnya paling banyak dijual asing selama sebulan, yakni Rp 69,22 miliar. Secara YTD, harga saham TINS sudah melesat 207,79%.

Di tempat kedua ada HRUM, yang harga sahamnya tercatat telah melonjak tinggi sebesar 448,15% secara YTD.

HRUM sedang melakukan ekspansi tahun ini. Harum memang bergerak di bisnis batu bara, tapi saat ini sudah masuk ke bisnis nikel dengan mengakuisisi perusahaan tambang nikel di awal tahun ini.

Perusahaan milik taipan Kiki Barki ini memperkuat ekspansi ke tambang nikel dengan membeli 51% saham PT Position milik Aquila Nickel Pte Ltd atau setara dengan 24.287 saham perusahaan. Aquila tercatat berbasis di Singapura.

Harga jual beli yang dilakukan oleh anak usahanya PT Tanito Harum Nickel itu diteken sebesar US$ 80.325.000 atau setara dengan Rp 1,12 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Pada Juni 2020, HRUM juga sudah melakukan transaksi pembelian saham perusahaan tambang nikel asal Australia, Nickel Mines Limited, sebesar AUD 34,26 juta atau setara Rp 369 miliar dengan kurs Rp 10.781 per AUD

Kabar terbaru, pada tanggal 19 Februari 2021, PT Tanito Harum Nickel, anak usaha HRUM, telah membeli 24,5% kepemilikan saham pada PT Infei Metal Industry (PT IMI) dengan harga beli US$ 68.600.000atau setara dengan Rp 960,4 miliar (kurs Rp 14.000/US$).

PT IMI adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pemurnian nikel (smelter).

Mengacu pada keterbukaan informasi BEI, Senin (22/2/2021), tujuan anak usaha HRUM membeli saham PT IMI adalah untuk mengembangkan kegiatan usaha hilir pertambangan nikel milik perseroan ke tahap pengolahan guna meningkatkan nilai tambah produk nikel.

Dua saham terakhir yang mencatatkan net sell, NIKL dan DKFT juga membukukan lonjakan harga saham secara YTD. Saham NIKL sudah terbang 108,89% secara YTD, sementara DKFT naik 50,00% secara YTD.

NEXT: Bagaimana dengan ANTM, PURE dan INCO?

ANTM hingga INCO, Apa Kabar?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading