Jangan Salah, Ini Beda Rencana Investasi Tesla di India vs RI

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
20 February 2021 07:25
FILE PHOTO: A Tesla Model X vehicle is charged by a supercharger outside a Tesla electric car dealership in Sydney, Australia, May 31, 2017.  REUTERS/Jason Reed/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan mobil listrik terkemuka asal Amerika Serikat, Tesla Inc., dikabarkan segera membangun pabrik mobil listriknya di Selatan India, Karnataka, pada 2021 ini.

Hal tersebut membuat publik di negara ini menerka-nerka, apakah artinya perusahaan milik Elon Musk ini menghentikan rencana investasinya di Indonesia. Bahkan, pasar saham pun turut terdampak, ditandai dengan jatuhnya sejumlah saham perusahaan nikel di Bursa Efek Indonesia, seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), segera setelah kabar Tesla akan membangun pabrik mobil listrik di India menyeruak ke publik.

Namun, bila mencermati penjelasan awal dari pihak pemerintah, tim percepatan baterai kendaraan listrik, bahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam pembentukan Indonesia Battery Holding yakni PT Pertamina (Persero), Tesla tampak masih berminat untuk berinvestasi di Indonesia, namun di sektor berbeda dari rencana investasinya di India tersebut.


Bila di India disebutkan mereka akan berinvestasi di pabrik mobil listrik, sementara di Indonesia dikabarkan mereka lebih berminat untuk berinvestasi di sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ ESS) atau seperti 'power bank' raksasa.

Sektor ESS di Tesla ini dikenal dengan unit bisnis Powerwall. Mengutip situs Tesla, Powerwall merupakan baterai penyimpan energi, pendeteksi pemadaman listrik dan secara otomatis menjadi sumber energi rumah Anda saat jaringan mati.

Tidak seperti generator bensin, Powerwall membuat lampu Anda tetap menyala dan ponsel tetap terisi daya tanpa perawatan, bahan bakar, atau kebisingan. Pasangkan dengan tenaga surya dan isi ulang dengan sinar matahari agar peralatan Anda tetap beroperasi selama berhari-hari. Oleh karena itu, 'power bank' raksasa ini identik dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), khususnya PLTSĀ Atap yang bisa dipasang di rumah maupun gedung.

Adapun ketertarikan Tesla untuk berinvestasi di sektor ESS ini mulanya disebutkan oleh Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah.

Agus mengatakan, karena Tesla menyatakan minatnya baru-baru ini, pihaknya masih mempelajari apa yang diinginkan pihak Tesla. Namun menurutnya kemungkinan besar Tesla berminat untuk sistem penyimpanan energi (ESS).

"Dengan Tesla, kita juga sedang dalam tahap negosiasi. Tesla baru belakangan masuk (menyatakan minat). Kita lagi pelajari dia mau masuknya ke mana. Dari pembicaraan kemarin, mereka sepertinya mau masuk ke ESS," ungkapnya saat diskusi dengan media dalam webinar "EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia", Selasa (02/02/2021).

Lalu, hal senada diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Septian Hario Seto.

Seto mengatakan, pihaknya telah menerima proposal rencana investasi Tesla di Indonesia pada Kamis (04/02/2021).

Menurutnya, proposal rencana investasi yang ditawarkan Tesla berbeda dengan calon mitra yang lain, yakni perusahaan asal China, CATL, dan perusahaan asal Korea Selatan, LG.

Dia menyebut, perbedaan ini karena teknologi dasar yang digunakan Tesla berbeda dengan kedua perusahaan lainnya itu.

"Kalau saya lihat, memang proposal yang mereka berikan agak beda dengan CATL dan LG Chem karena sepintas memang base techno mereka agak beda. Ini dari kami excited kerja sama dengan Tesla," ungkapnya.

Dia mengatakan, Tesla kemungkinan akan berinvestasi di bidang ESS. ESS ini seperti 'power bank' dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga puluhan mega watt, bahkan hingga 100 MW untuk stabilisator atau untuk pengganti sebagai pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Menurutnya, ketika malam hari di saat konsumsi listrik masyarakat tinggi, ini bisa memanfaatkan ESS ini.

Hal tersebut kembali dipertegas oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati.

Nicke menyebut Tesla cenderung tertarik pada ESS karena pasar ESS ini besar dan bisa menjaga keandalan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"ESS potensi besar di Indonesia. Tesla minat di energy storage. Melihat potensi tadi untuk menjaga keandalan suplai dari PLTS. ESS ini pasar besar. Pertamina akan masuk ke sana," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII DPR RI, Selasa (09/02/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading