Grup Salim, Sinarmas, MNC & Lippo, Siapa Terbaik Kinerjanya?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
09 September 2020 07:40
Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Ilutrasi Bursa. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah beberapa pekan lalu saham Grup MNC milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo atau Hary Tanoe berhasil melesat, giliran Senin pekan ini (7/9/20) harga saham-saham emiten Grup Salim yang kompak terapresiasi.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan, harga saham yang bergerak di grup yang sama memang terkadang sering melaju secara beriringan, apalagi jika sentimen yang muncul mempengaruhi seluruh grup usaha tersebut.

Ternyata grup-grup usaha konglomerat tidak hanya kedua nama tersebut, ada beberapa nama-nama besar lain yang berkomitmen besar membawa perusahaan 'melantai' di BEI, dalam rangka meningkatkan transparansi perusahaan, GCG (good corporate governance), dan pencarian dana di pasar modal.

Tapi tak semua grup konglomerasi diulas dalam tulisan kali ini. Dalam kesempatan ini, Tim Riset CNBC Indonesia mencoba mengulas empat konglomerasi yakni Grup Lippo, Grup MNC, Grup Sinarmas, dan Grup Salim.

Grup Lippo

Tentunya nama Grup Lippo sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Lini bisnis grup yang didirikan oleh Mochtar Riady ini sangat terdiversifikasi. Utamanya, orang mengenal Lippo dari grup properti, seperti mal-mal atau komplek properti yang didirikan oleh keluarga Riady.

Akan tetapi ternyata Grup Lippo juga banyak melantaikan perusahaan keuangan seperti sekuritas dan perusahaan asuransi, hingga holding perusahaan teknologi.

Untuk urusan total emiten grup yang melantai di BEI, Grup Lippo berhasil menjadi juara dibandingkan dengan grup lain, dengan 15 emiten yang tercatat di BEI sehingga menjadikan Grup Lippo menjadi konglomerasi yang paling banyak mencari dana melalui penawaran saham kepada publik.

Perusahaan yang melantai juga dari berbagai macam sektor mulai dari properti yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), perbankan dengan PT Bank Nobu Tbk (NOBU), rumah sakit yaitu PT Siloam International Hospital Tbk (SILO), hingga telekomunikasi yakni PT First Media Tbk (KBLV), serta peritel PT Matahari Department Store Tbk (LPPF).

Ke-15 perusahaan terbuka Grup Lippo memiliki total kapitalisasi pasar sebesar Rp 38,32 triliun. Akan tetapi ternyata ekuitas perusahaan ini lebih besar dari kapitalisasi pasarnya yakni Rp 60,02 triliun.

Meskipun ekuitas perusahaan lebih jumbo dari kapitalisasi pasar, yang biasanya menunjukkan murahnya valuasi perusahaan, ternyata perusahaan Grup Lippo yang melantai pada kuartal kedua tahun ini gagal membukukan keuntungan bersih, dengan total kerugian ke-15 perusahaan tersebut mencapai Rp 1,47 triliun.

Beberapa perusahaan Lippo yang terdampak paling parah oleh virus corona adalah sektor properti, LPKR dan sektor ritel LPPF. Kedua sektor ini memang menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh virus corona karena penurunan daya beli masyarakat.

Kinerja Bisnis Grup Hary Tanoe, Masih Andalkan Media MNC
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading