Tak Cuma Jababeka, 3 Emiten Juga Tak Bisa Bayar Utang

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
09 July 2019 15:36
Tak Cuma Jababeka, 3 Emiten Juga Tak Bisa Bayar Utang
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar obligasi mendapat sentimen negatif kabar potensi gagal bayar (default) atas Notes atau obligasi yang diterbitkan anak usaha PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA), Jababeka International BV di Amsterdam.

Sontak, pernyataan resmi dari manajemen KIJA membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menghentikan perdagangan saham KIJA sementara atau suspensi sejak Senin kemarin (8/7/2019, sampai persoalan ini selesai.

Suspensi dilakukan guna menghindari anjloknya harga saham secara signifikan, mengingat pada perdagangan pagi setelah kabar potensi default ini membuat harga saham KIJA amblas di sesi I. Pada pukul 09.44 WIB kemarin, saham KIJA amblas 6,9% di level 296/saham.


Kalangan analis instrumen fixed income menilai kemungkinan gagal bayar Jababeka ini sebetulnya tidak berhubungan dengan kinerja keuangan perusahaan. 

Namun kondisi gagal bayar tersebut justru menurunkan tingkat kepercayaan pemegang saham perusahaan dan publik kepada emiten terkait.

Associate Director Fixed Income
PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Marutho mengatakan kepercayaan ini meredup lantaran pengumuman kemungkinan gagal bayar ini diumumkan secara tiba-tiba oleh perusahaan.


"Perusahaan yang menyatakan gagal bayar atau sudah gagal bayar itu mengganggu
trust pasar. Jadi harus diselidiki awal masalahnya apa ada, mungkin dari pemegang saham jadi beberapa yang tidak sepakat," kata Ramdhan kepada CNBC Indonesia, Selasa (9/7/2019).

Di luar persoalan potensi gagal bayar ini, setahun terakhir, data CNBC Indonesia mencatat ada beberapa obligasi dan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) yang sudah default (bukan potensi).

1. Gagal Bayar Express Transindo
Emiten jasa transportasi darat alias taksi, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) tidak mampu membayarkan kupon obligasi yang seharusnya dibayarkan pada 26 Maret 2018.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) kemudian menurunkan peringkat obligasi I Express Transindo Utama 2014 dari "BB-" menjadi "D" alias default. 
Pefindo juga menurunkan rating perusahaan dari "BB-" menjadi "SD" atau selective default/negatif.

Pada 2014, emiten Grup Rajawali ini merilis obligasi sebesar Rp 1 triliun yang jatih tempo pada 24 Juni 2019. Kupon obligasi ini sebesar 12,25% per tahun.

Perseroan yang berjuang di tengah gempuran persaingan dengan taksi online (Grab Taxi dan Gocar), berupaya melakukan restrukturisasi dan akhir berhasil.

Emiten pengelola Taksi Express akhirnya menyelesaikan restrukturisasi utang obligasi yang ke dalam bentuk obligasi konversi. Penundaan pembayaran utang atas bunga obligasi ini sempat membuat saham TAXI disuspensi atau dihentikan sementara oleh BEI, setidaknya 11 bulan. 

Pada perdagangan Selasa ini (9/7/2019), saham TAXI stagnan di level Rp 50/saham dengan pelemahan secara year to date (ytd) sebesar 44%.

2. Gagal Bayar MTN Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)
Pada 2018, kasus gagal bayar SNP Finance mulai ramai kendati mulai tercium oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2017. Atas gagal bayar MTN (medium term notes, surat utang jangka menengah), perusahaan multifinance SNP Finance diketahui merugikan hingga sedikitnya 14 bank triliuan rupiah.


Buntut kasus ini, OJK 
memberikan sanksi administratif berupa pembatalan pendaftaran kepada Auditor Publik Marlinna, Auditor Publik (AP) Merliyana Syamsul dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan Rekan yang merupakan salah satu KAP di bawah Deloitte Indonesia.

Multifinance Grup Columbia ini bahkan awalnya sempat mendapat rating bagus dari Pefindo. Lembaga rating nasional ini akhirnya 
memangkas peringkat SNP Finance pada 9 Mei 2018 jadi idD (selective default) setelah gagal membayar bunga MTN.

Foto: Tiga Pilar Sejahtera Food (CNBC Indonesia/Houtmand P. Saragih)

3. Gagal Bayar Obligasi TPS Food
Dalam keterbukaan informasi di BEI 17 Juli 2018, direksi lama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk mengungkapkan bahwa posisi kas dan setara kas perusahaan per tanggal 26 Juni 2018 belum memadai untuk membayar bunga obligasi dan sukuk yang akan jatuh tempo 19 Juli 2018.

Kondisi ini membuat emiten yang kuat dengan produk makanan ringan merek Taro ini kembali gagal menunaikan kewajiban membayar bunga obligasi dan sukuk ijarah.

Sebelumnya, perseroan juga gagal membayar bunga Obligasi TPS Food I/2013 senilai Rp 30,75 miliar, dan fee ijarah atas Sukuk Ijarah TPS Food I/2013 senilai Rp 15,37 miliar. Dua instrumen utang senilai total Rp 46,12 miliar ini semestinya dibayarkan oleh TPS Food pada 5 Juli 2018.

Dampak peliknya persoalan perusahaan, 2 bulan lalu, anak usaha AISA yang sudah ditutup yakni PT Dunia Pangan dan tiga anak usaha Dunia Pangan (cucu perusahaan TPS Food) yakni PT Jatisari Srirejeki, PT Indoberas Unggul dan PT Sukses Abadi Karya Inti dinyatakan pailit karena tidak mampu membayar kewajiban kepada pemegang obligasi.

Atas gagal bayar ini, pemegang obligasi dan sukuk perusahaan juga menyetujui perusahaan untuk melakukan penjualan atas aset-aset jaminan dari PT Jatisari Srirejeki, setelah anak usaha AISA tersebut diputus pailit.


Adapun dua aset yang akan dieksekusi yakni pertama tanah, bangunan dan sarana pelengkap sebanyak sembilan SHGB (sertifikat hak guna bangunan). Kedua, mesin dan peralatan. Lokasinya semua ada di Jalan Raya Jakarta-Cirebon KM 104 Desa Mekarsari dan Jatisari, Kecamatan Jatisari Kabupatan Karawang, Jawa Barat.

Kini manajemen baru terus melakukan pembenahan. Untuk mendapat dana segar ekspansi, TPS Food berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,56 miliar saham baru. Jumlah itu setara dengan 32,77% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh perusahaan, dengan nominal Rp 200/saham. 

Hingga saat ini saham perusahaan masih dihentikan perdagangannya (suspensi) oleh BEI sejak 5 Juli 2018. Investor tinggal menunggu bagaimana perusahaan untuk keluar dari masalah yang membelitnya ini.

Simak ulasan potensi gagal bayar Jababeka.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading