Ekuitas Negatif, AirAsia Terbitkan Perpetual Bond Rp 1,17 T

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
13 March 2019 09:48
Ekuitas Negatif, AirAsia Terbitkan Perpetual Bond Rp 1,17 T
Jakarta, CNBC Indonesia - PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) melalui anak usahanya, PT Indonesia AirAsia yang bergerak di bisnis penerbangan berbiaya murah, akan menerbitkan surat utang berbentuk sekuritas perpetual bond dengan nilai sebesar US$ 80 juta atau setara Rp 1,17 triliun.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, surat utang tersebut diserap oleh induk usahanya AirAsia Berhad (AAB). Hal ini sudah disetujui melalui perjanjian perpetual sekuritas berbayar (conditional perpetual capital security purchase agreement) pada 31 Desember 2018 lalu.

Penerbitan obligasi perpetual ini dilakukan untuk memperbaiki ekuitas perseroan. Laporan keuangan pada 31 Desember 2018 mencatat kondisi modal kerja bersih negatif Rp 2,11 triliun dan ekuitas negatif Rp 802 miliar.



Dendy Kurniawan, Direktur Utama AirAsia Indonesia mengatakan nilai perpetual bond itu mencerminkan 50% dari ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan audit CMPP di 2018.

"Dengan efektifnya perjanjian perpetual sekuritas bersyarat perseroan akan membuat total ekuitas dalam laporan keuangan pada kuartal 1 tahun 2019 menjadi positif secara konsolidasi," kata Dendy, Rabu (13/3/2019). 

Dengan adanya dana segar dari obligasi tersebut, perusahaan dapat membayar utang jatuh tempo, yang bila tidak dibayar bisa berdampak signifkan bagi kelangsungan usaha CMPP.

Perpetual bond merupakan obligasi yang diterbitkan tanpa masa pelunasan dan pembayaran kupon dilakukan periodik untuk selamanya.

AirAsia Indonesia mencatatkan kinerja kurang menggembirakan sepanjang 2018. AirAsia mencatat rugi (sebelum pajak) sebesar Rp 998 miliar di 2018.

Namun dalam laporan keuangan perusahaan yang belum diaudit, perseroan sebetulnya mencatatkan pendapatan sebesar Rp 4,20 triliun, naik 11% dibandingkan tahun 2017.

Pertumbuhan pendapatan didukung peningkatan jumlah penumpang sebesar 13% menjadi 5.2 juta, seiring dengan pertumbuhan kapasitas sebesar 16% dibandingkan tahun sebelumnya.

Beban usaha tahun lalu meningkat lebih tinggi disebabkan oleh pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS di sepanjang tahun dan beban avtur meningkat 53% dengan harga avtur rata-rata sebesar US$ 85 per barel. Tahun sebelumnya, harga avtur rata-rata US$ 64 per barel.

Pemegang saham maskapai Indonesia AirAsia per 26 Maret 2018 yakni AirAsia Indonesia (CMPP) 57,25%, PT Fersindo Nusaperkasa 21,80%, dan AirAsia Investment Ltd 20,95%. Sementara pemegang saham CMPP yakni Fersindo 49,66%, AirAsia Investment 47,71%, dan investor publik 2,63%.


Simak pernyataan AirAsia soal perceraian dengan Traveloka. Bisa rujuk?
[Gambas:Video CNBC]

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading