Belum Bayar Gaji Pegawai 6 Bulan, AirAsia Digugat 14 Karyawan

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
23 October 2020 13:34
Air Asia planes Airbus A320 parked at tarmac at KLIA2 low cost terminal in Sepang, Malaysia, on Monday, April 27, 2020. AirAsia is on a temporary hibernation to all international and domestic flights due to the ongoing global outbreak of Covid-19. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia AirAsia (maskapai dengan kode penerbangan QZ), anak usaha PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP), digugat oleh 14 karyawan tetap lantaran gaji yang tidak dibayar selama 6 bulan.

Gugatan ini dilakukan melalui kuasa hukum Law Firm Henry Yosodiningrat & Partners. Radhitya Yosodiningrat salah satu kuasa hukum para karyawan menyebut AirAsia telah menelantarkan karyawannya dengan cuti tanpa dibayar sejak April 2020.

"Bahwa AirAsia merupakan Perusahaan Besar di dunia penerbangan, ternyata telah menelantarkan karyawannya dengan 'memaksa' karyawannya untuk cuti tanpa dibayar sejak April sampai dengan saat ini," ujar Radhitya dalam keterangannya, dikutip Detik.com, Jumat (23/10/2020).


CNBC Indonesia mencoba menghubungi pihak AirAsia Indonesia melalui Dwi Addin Wibowo, Communications AirAsia Indonesia, namun hingga kini belum ada tanggapan resmi atas gugatan ini.

Lebih lanjut, Radhitya mengatakan bahwa perusahaan penerbangan asal Malaysia ini juga telah tiga kali mangkir dalam panggilan Dinas Tenaga Kerja Kota Tangerang sebagai mediator Perselisihan Hubungan Industrial.

Bahkan sebelum Pandemi Covid-19 ini, lanjut Radhitya, AirAsia sudah memotong dan juga tidak membayar sama sekali upah seluruh kliennya.

Bukan cuma upah semua kewajiban dalam kontrak kerja juga tidak dibayar AirAsia, salah satunya tagihan BPJS Ketenagakerjaan.

"Melihat status karyawan yang tidak jelas maka sebagian karyawan yang terdiri dari Capten Pilot, First Officer, Cabin Crew meminta di PHK dengan alasan Pasal 169 Ayat (1) huruf c dan d UU Ketenagakerjaan tahun 2003 yaitu karena perusahaan tidak membayarkan gaji lebih dari 6 bulan berturut-turut dan juga telah tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang diperjanjikan dalam kontrak kerja," kata Radhitya.

Radhitya menegaskan, menurut hukum pembayaran Iuran BPJS Ketenagakerjaan harus dibayarkan oleh perusahaan yang dipotong langsung dari upah karyawan setiap bulan.

Perusahaan yang tidak melakukan pembayaran Iuran dimaksud diancam pidana berdasarkan ketentuan Pasal 55 jo. Pasal 19 Undang - Undang No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

"Mengenai tindak pidana BPJS tersebut, Klien Kami akan membuat Pengaduan Masyarakat dan Laporan Polisi pada Hari Jum'at tanggal 23 Oktober 2020," tegas Radhitya.

Sebelumnya, para karyawan AirAsia ini telah melaporkan pihak AirAsia kepada Polda Metro Jaya dengan Laporan Polisi No: LP/2930/V/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tanggal 20 Mei 2020.

Gugatan dilakukan dengan dugaan telah melakukan tindak pidana penggelapan, yaitu telah membuat dan mengeluarkan Slip gaji karyawan bulan Maret 2020 akan tetapi gaji tersebut tidak dibayar.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya sudah memanggil manajemen perusahaan, direktur dan komisaris perusahaan untuk dimintai keterangan.

"Kami berharap kepada Direksi PT Indonesia AirAsia Extra dan PT Indonesia AirAsia dapat mengambil sikap untuk menerima dan melaksanakan isi dari Anjuran Mediator tersebut," tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan kepada perusahaan, terkait ketentuan Pasal 13 ayat (2) huruf c Undang undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang secara tegas memberikan batas waktu selama 10 hari untuk Para Pihak harus sudah mengambil sikap atas Anjuran dimaksud.

Kemudian, lanjut Radhitya, pihaknya akan mengajukan Gugatan Kepailitan terhadap PT Indonesia Airasia Extra dan PT Indonesia Airasia kepada Pengadilan Niaga yang berwenang.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), 21 Agustus lalu, Indah Permatasari Saugi, Head of Corporate Secretary AirAsia Indonesia, menjelaskan dampak terhadap tenaga kerja di tengah upaya perseroan melakukan efisiensi.

Dia mengatakan, kumlah karyawan perseroan per 31 Juli 2020 adalah sebanyak 1.624 karyawan.

Terdapat perubahan jumlah karyawan sebanyak 67 orang jika dibandingkan dengan jumlah karyawan per 31 Desember 2019.

"Perubahan jumlah karyawan ini disebabkan oleh pengunduran diri secara sukarela yang dilakukan oleh 33 orang karyawan selama bulan Januari-Juli 2020 serta 6 orang yang kontraknya sudah berakhir pada 31 Maret 2020," kata Indah.

Selain itu terdapat 11 orang yang status kepegawaiannya dipindahkan ke entitas grup AirAsia dan 7 orang yang kontraknya berakhir per 31 Juli 2020.

Ada pula 10 orang lainnya tidak dilanjutkan kontraknya karena adanya restrukturisasi di dalam organisasi perusahaan.

"Perseroan juga sudah menjalankan kewajiban sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia," tegasnya.

Dia menegaskan, manajemen AirAsia Indonesia beserta seluruh Allstars (karyawan) telah sepakat melakukan beberapa inisiatif untuk memastikan kelancaran pengoperasian kembali penerbangan sebagai upaya mendukung pemerintah dalam menanggulangi Covid-19 di Tanah Air.

Salah satunya adalah penyesuaian jam kerja terhadap 533 karyawan yang dikonversikan menjadi penyesuaian gaji.

Inisiatif ini dilakukan atas kesepakatan bersama untuk mendukung agility perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian situasi termasuk potensi perpanjangan pembatasan perjalanan di beberapa wilayah dan belum normalnya permintaan.

"Kami berharap langkah ini adalah yang terbaik untuk kita bersama terutama untuk memastikan kami dapat terus berkontribusi terhadap masyarakat dengan menyediakan layanan penerbangan yang terjangkau ke depannya," katanya.

Indah juga menjelaskan duduk perkara pemberitaan soal berhenti operasinya maskapai penerbangan jarak jauh berbiaya murah, AirAsia X di Indonesia.

Kini, tak ada lagi nama AirAsia X Indonesia (kode penerbangan XT), yang melayani rute penerbangan dari dan ke Indonesia.

"Sehubungan dengan pemberitaan tersebut, perseroan dapat menjelaskan bahwa PT AirAsia Indonesia Tbk bersama entitas anak PT Indonesia AirAsia (kode penerbangan QZ) adalah entitas yang berbeda dan tetap melanjutkan operasionalnya di rute domestik dan internasional seperti biasa," kata Indah.

"Tidak ada hubungan antara AirAsia X dengan Perseroan," katanya.

"Dapat disampaikan bahwa pemberitaan tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja keuangan Perseroan karena memang tidak ada hubungan operasional maupun keuangan antara Perseroan dengan AirAsia X," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading