Kuartal I-2021

Babak Belur! Rugi AirAsia Indonesia Q1 Bengkak Jadi Rp 748 M

Market - Ferry Sandria, CNBC Indonesia
05 July 2021 11:40
Air Asia planes Airbus A320 parked at tarmac at KLIA2 low cost terminal in Sepang, Malaysia, on Monday, April 27, 2020. AirAsia is on a temporary hibernation to all international and domestic flights due to the ongoing global outbreak of Covid-19. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier), PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP), mencatatkan kenaikan rugi bersih yang membengkak dua kali lipat menjadi Rp 747,62 miliar.

Kerugian ini naik 116,37% dari periode yang sama tahun sebelumnya di mana kerugian perusahaan tercatat sebesar Rp 345,53 miliar.

Peningkatan kerugian fantastis ini terjadi akibat pendapatan perusahaan turun drastis menjadi hanya Rp 223,71 miliar, turun 83,12% dari kuartal I-2020 sebesar Rp 1,32 triliun.


Penurunan pendapatan perusahaan sejalan dengan kebijakan pembatasan sosial dan anjuran pemerintah untuk tidak bepergian dan melakukan kunjungan wisata.

Penyusutan pendapatan terbesar terjadi pada penjualan kursi kepada penumpang yang berkurang dari semula Rp 1,11 triliun, kini hanya bersisa Rp 145,97 miliar atau hanya 13% dari pendapatan kuartal pertama tahun lalu.

Pendapatan kargo pun turun menjadi Rp 25,95 miliar dari sebelumnya Rp 29,69 miliar, sedangkan pendapatan lain-lain termasuk di dalamnya pendapatan dari bagasi, pelayanan penerbangan, jasa boga, dan ground handling turun menjadi Rp 39,44 miliar dari semula Rp 1,11 triliun.

Aset perusahaan juga mengalami depresiasi menjadi senilai Rp 5,84 triliun, turun 3,96% dari posisi akhir tahun lalu di angka Rp 6,08 triliun.

Aset ini terdiri dari aset lancar yang hanya sebesar 3,21% dari total aset atau sejumlah Rp 187,60 miliar, dengan kas atau setara kas tercatat berjumlah Rp 21,31 miliar, sedangkan Rp 5,65 triliun sisanya merupakan aset tidak lancar.

Liabilitas perusahaan mengalami kenaikan 5,66% menjadi Rp 9,50 triliun dari semula sebesar Rp 8,99 triliun, dengan 59% merupakan kewajiban jangka pendek sebesar Rp 5,63 triliun.

Turunnya nilai aset dan naiknya liabilitas, menjadikan ekuitas (defisiensi modal) perusahaan ikut naik dari semula negatif Rp 2,91 triliun kini semakin membengkak menjadi negatif Rp 3,66 triliun.

"Pandemi Covid-19 memberikan pukulan yang sangat besar terhadap perekonomian dunia, khususnya industri penerbangan komersial, termasuk terhadap operasional dan kondisi finansial Kelompok Usaha," tulis manajemen Air Asia dalam laporan keuangan, dikutip CNBC Indonesia dari keterbukaan informasi.

Manajemen Air Asia mengatakan operasional penerbangan kelompok Usaha berhenti selama periode April sampai dengan pertengahan Juni 2020, kemudian mulai kembali meningkat secara perlahan-lahan dimulai sejak Juli 2020.

"Namun, proses kembali kepada operasi normal berjalan lambat karena tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Kelompok Usaha termasuk larangan melakukan perjalanan oleh pemerintah, pembatasan kapasitas penumpang terkait dengan menjaga jarak fisik, penutupan perbatasan internasional, serta perubahan dalam kebiasaan pelanggan yang menghindari perjalanan non-esensial."

Pihak Air Asia juga mengatakan "manajemen kelompok usaha terus memonitor perkembangan situasi di atas dan melakukan berbagai macam usaha untuk mendorong pemulihan."

Adapun di pasar modal saham perusahaan asal Malaysia ini perdagangannya telah dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2019 dengan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada tanggal 5 Agustus 2021.

Suspensi dilakukan lantaran AirAsia belum memenuhi ketentuan jumlah saham beredar di publik (free float) sebesar 7,5% sesuai dengan aturan bursa. Data BEI menunjukkan, saat ini jumlah saham publik AirAsia hanya 1,59%.

Dengan demiian, apabila Air Asia tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan, maka kemungkinan untuk pencatatannya dihapus (delisting) oleh pihak otoritas bursa sudah semakin dekat.

BEI bisa menghapus saham tersebut setelah masa suspensi selesai. Perusahaan tercatat yang akibat suspensi di pasar reguler dan pasar tunai hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya 24 bulan terakhir.

Adapun susunan pemegang saham Air Asia Indonesia per 31 Desember 2020 adalah PT Fesindo Nusaperkasa 49%, AirAsia Investment Ltd 49% dan masyarakat 2%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading