Perusahaan Pembayaran Digital Berebut Pangsa Pasar Hong Kong

Tech - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
16 August 2018 16:19
Hong Kong, CNBC Indonesia - Distrik-distrik perbelanjaan Hong Kong dikenal akan kompetisinya yang ketat. Kini, medan pertarungan baru terbentuk ketika perusahaan pembayaran digital berebut peritel dan pembeli.

Raksasa teknologi asal China, seperti Tencent dan Alibaba, membawa platform pembayaran mereka ke kota yang sudah lama bergantung pada uang tunai dan kartu kredit itu. Mereka pun berkompetisi dengan sesama raksasa teknologi, seperti Google, Apple, dan Samsung, serta pemain lokal, seperti HSBC.

"Hong Kong kemungkinan sedikit tertinggal dibandingkan yang lainnya terkait pembayaran digital, jadi kami melihat desakan untuk mendapatkan keuntungan sebagai penggerak pertama," kata Fergus Gordon, Kepala Praktik Perbankan Asia-Pasifik di Accenture, dilansir dari Reuters hari Kamis (16/8/2018).


Kota itu telah menjadi lokasi percobaan yang penting untuk WeChat Pay dari Tencent dan Alipay dari Alibaba, pesaing dominan di China daratan, karena mereka berencana meluncurkan layanannya di luar negeri.

AlipayHK, usaha gabungan (joint venture) antara Ant Financial yang merupakan unit bisnis pembayaran Alibaba dan konglomerasi asal Hong Kong, CK Hutchison, mengatakan jumlah penggunanya sudah melesat 50% menjadi 1,5 juta sejak bulan Maret.

Sementara itu, WeChat Pay tidak mengungkapkan jumlah penggunanya di Hong Kong.

Visa mengatakan di akhir April satu dari 10 pembayaran Visa di Hong Kong dilakukan menggunakan ApplePay, SamsungPay, atau GooglePay. Jumlahnya naik dua kali lipat dari setahun sebelumnya. HSBC di bulan Juli mengatakan pengguna aplikasi pembayaran antarrekanan (peer-to-peer) PayMe sudah mencapai 1 juta.

Hong Kong termasuk lambat dalam menerima pembayaran ponsel. Sebagian penyebabnya adalah keberadaan Octopus, kartu isian sekali pakai yang diterima oleh 22.000 bisnis seperti toko serba ada dan restoran kecil. Kartu itu juga banyak digunakan untuk transportasi umum.

Meski terdapat pertumbuhan pembayaran ponsel, kebiasaan belanja yang sudah ada akan susah diubah.

Survei dari Dewan Produktivitas Hong Kong yang dipublikasikan di bulan Juli menemukan bahwa metode pembayaran ponsel yang paling banyak digunakan adalah Alipay dan WeChat Pay, tetapi masing-masing hanya digunakan oleh 22% dan 19% responden.

Meskipun begitu, 97% responden mengatakan mereka menggunakan kartu Octopus.

Kurangnya pengetahuan dan kekhawatiran tentang kebocoran data adalah alasan paling umum yang diberikan untuk tidak mengadopsi sistem pembayaran ponsel yang baru.

Kartu Octopus pertama kali diluncurkan di tahun 1997. Dua puluh tahun kemudian, terdapat sirkulasi 34,4 juta kartu atau hampir 5 kartu per warga Hong Kong, menurut perusahaan.

Bahkan, Octopus pun merasakan panasnya kompetisi ini. Laba bersihnya turun sepertiga di tahun 2017 menjadi HK$272 juta (Rp 506,3 miliar).

Namun, Direktur Eksekutif Octopus Sunny Cheung mengatakan kepada Reuters bahwa penurunan itu terjadi satu kali karena perusahaan banyak melakukan pengeluaran, khususnya untuk teknologi dan keamanan siber.

Ia menambahkan perusahaan masih unggul atas pendatang baru, khususnya dengan bisnis-bisnis kecil yang sudah lama menggunakan pembayaran Octopus.

"Penerimaan adalah kunci, khususnya di toko 'mom and pop' [toko kecil yang dikelola keluarga]."

Seorang Juru Bicara AlipayHK mengatakan perusahaan mencoba menarik pengguna dengan menawarkan potongan harga khusus.

"Di saat yang sama, kami mengincar kerja sama dengan berbagai pedagang untuk meningkatkan penetrasi AlipayHK dalam mengubah kebiasaan konsumen sedikit demi sedikit," katanya. (prm)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading