2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku
Pasar batubara dunia sepanjang 2025 tidak runtuh karena energi terbarukan atau kampanye iklim, melainkan oleh satu variabel yang lebih sederhana dan lebih kejam: pasokan tumbuh lebih cepat daripada konsumsi. Harga batu bara diramal masih sengsara di tahun ini.
Harga batu bara memang memulai tahun di level tinggi setelah perang Rusia-Ukraina tetapi seiring waktu pasar beralih dari rezim ketat menjadi rezim surplus, dan struktur harga pun kehilangan pijakannya.
Kontrak Newcastle (NCFMc2) membuka 2025 di kisaran ekstrem, US$126,55 per ton pada 2 Januari, melanjutkan momentum akhir 2024 ketika harga masih bertengger di atas US$120. Pada fase ini pasar masih digerakkan oleh memori krisis energi Eropa, musim dingin belahan utara, dan kekhawatiran geopolitik. Namun momentum tersebut mulai pudar setelah puncak US$124,45 pada 21 Januari, ketika pasar mulai menyadari bahwa produksi dunia bergerak lebih cepat daripada kebutuhan pembangkit.
Fase kedua datang pada Maret-April 2025. Harga jatuh menembus US$100 dan menyentuh area US$94-95 pada akhir April. Ini bukan reaksi terhadap permintaan yang ambruk, melainkan refleksi awal dari lonjakan pasokan, terutama dari China dan India yang menaikkan produksi domestik secara agresif.
Pada Mei hingga Juni, pasar sempat mengalami reli teknikal. Harga kembali naik ke kisaran US$110-113, didorong oleh musim panas dan kenaikan beban listrik. Namun reli ini rapuh. Stok tetap tinggi, dan volume batubara terus mengalir dari tambang ke pelabuhan.
Fase terakhir berlangsung dari Agustus hingga Desember. Setelah menyentuh puncak musiman di US$117-118 pada awal Agustus, harga terus terkikis hingga ditutup di US$106,35 pada 31 Desember 2025. Secara tahunan, ini berarti batubara Newcastle turun sekitar 16%, bukan karena kekurangan pembeli, tetapi karena kelebihan penjual.
Struktur 2025 sederhana: produksi China dan India naik, pasokan Australia lancar, Eropa jenuh, stok meningkat, harga tertekan. Batubara tidak kekurangan pembeli, batubara kelebihan penjual. Selama neraca global berada di surplus, narasi permintaan atau cuaca hanya berdampak sementara.
Proyeksi 2026, Dimulai di Rezim Surplus
Memasuki 2026, pasar batubara dunia tidak memulai dari titik netral, melainkan dari posisi "overhang", stok tinggi yang menekan setiap percikan reli. China membawa inventori pelabuhan dan pembangkit yang gemuk dari akhir 2025, sementara India sudah mengunci pasokan domestik lewat lonjakan produksi pasca-monsun.
Berdasarkan proyeksi terbaru Energy Information Administration (EIA), industri batu bara dunia kini berada di titik pembalikan siklus setelah mencapai puncaknya pada periode 2024-2025.
Dalam lima tahun ke depan hingga 2030, permintaan global diperkirakan mulai melandai, diikuti penyusutan perdagangan internasional dan penurunan produksi secara bertahap.
EIA memproyeksikan produksi batu bara global berada di kisaran lebih dari 9 miliar ton pada 2024-2025, sebelum menurun secara bertahap menjadi sekitar 8,64 miliar ton pada 2030.
Penurunan ini setara dengan kontraksi sekitar 5% dalam lima tahun yang menandai pergeseran dari fase ekspansi menuju fase penurunan paling tidak dalam jangka menengah.
Di Eropa, pergeseran struktural ke gas dan energi terbarukan membuat batubara hanya berperan sebagai cadangan, bukan tulang punggung. Kombinasi ini membuat setiap gangguan pasokan bahkan dari Australia hanya berpotensi memicu lonjakan sesaat, bukan siklus bull baru.
Â
Foto: International Energy Agency (IEA),2025Produksi Batubara Global |
Dalam struktur seperti ini, harga Newcastle kehilangan fungsinya sebagai sinyal keketatan global. Kisaran US$100-110 per ton bukan lagi "murah", melainkan zona keseimbangan baru di mana surplus dan biaya marjinal bertemu.
Di atas area itu, pasokan dari Australia, Rusia, dan Indonesia akan cepat mengalir masuk, sementara pembeli Asia khususnya China akan beralih ke produksi domestik. Ini menciptakan rezim low ceiling reli bisa muncul karena cuaca atau logistik, tetapi akan cepat dipatahkan oleh neraca yang longgar.
Dalam lanskap perdagangan batu bara global yang menyusut, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak.
Selama lebih dari satu dekade, Indonesia berperan sebagai swing supplier utama di Asia, memasok kebutuhan batu bara ke pasar-pasar besar seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN.
Fleksibilitas volume ekspor Indonesia selama ini menjadikannya penyeimbang pasar ketika permintaan global melonjak. Namun, proyeksi terbaru Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa peran tersebut mulai tergerus secara struktural.
Setelah mencatat produksi sangat tinggi sebesar 836 juta ton pada 2024, produksi batu bara Indonesia diproyeksikan turun menjadi 778 juta ton pada 2025, lalu berlanjut melemah hingga sekitar 671 juta ton pada 2030. Penurunan produksi ini berjalan seiring dengan melemahnya ekspor, bukan karena keterbatasan cadangan, melainkan menyusutnya pasar internasional.
Penurunan impor China secara langsung menekan volume ekspor Indonesia yang selama ini sangat bergantung pada pasar tersebut.
Pada saat yang sama, persaingan antar produsen global semakin ketat. Australia, meskipun produksinya juga menurun, tetap mempertahankan posisi kuat di pasar batu bara berkualitas tinggi, terutama untuk kebutuhan jangka panjang.
Rusia bahkan semakin agresif mempertahankan pangsa pasar Asia dengan menawarkan diskon harga, menyusul terbatasnya akses ke pasar Eropa. Kondisi ini membuat ruang ekspor Indonesia semakin menyempit, baik dari sisi volume maupun harga.
Dengan kata lain, 2026 bukan tentang apakah harga bisa naik, tetapi berapa lama ia bisa bertahan sebelum dihantam pasokan.
Pemerintah Indonesia sendiri telah resmi menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Januari 2026.
Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.458.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Januari tahun 2026, HBA untuk semua kategori batu bara pada periode I Januari 2026 ini terpantau naik dibandingkan harga acuan pada periode II Desember 2025.
Keputusan yang ditetapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 31 Desember 2025 ini mulai berlaku pada 1 Januari 2026.
"HBA untuk Periode Pertama Bulan Januari Tahun 2026 sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Patokan Batu Bara selanjutnya disebut HPB untuk Periode Pertama Bulan Januari Tahun 2026," ungkap Kepmen tersebut, dikutip Jumat (02/01/2026).
Berikut daftar HBA untuk periode pertama Januari 2026:
Batu Bara (6.322 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 103,30 per ton, naik dari US$ 100,81 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA ini dalam kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 12,26%, Total Sulphur 0,66%, dan Ash 7,94%.
Batu Bara I (5.300 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 72,23 per ton, naik dari US$ 69,93 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA I dalam kesetaraan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR, Total Moisture 21,32%, Total Sulphur 0,75%, dan Ash 6,04%.
Batu Bara II (4.100 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 47,05 per ton, naik dari US$ 45,44 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA II dalam kesetaraan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR, Total Moisture 35,73%, Total Sulphur 0,23%, dan Ash 3,90%
Batu Bara III (3.400 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 35,13 per ton, naik dari US$ 35,02 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA III dalam kesetaraan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR, Total Moisture 44,30%, Total Sulphur 0,24%, dan Ash 3,88%.
Kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode I Januari 2026-misalnya 6.322 GAR menjadi US$103,30/ton dari US$100,81 dan 5.300 GAR menjadi US$72,23/ton dari US$69,93, mencerminkan rebound teknis dari pelemahan akhir Desember, bukan perubahan struktur pasar.
Pemerintah memang menetapkan HBA sebagai dasar HPB untuk transaksi ekspor, tetapi di pasar global yang jenuh, daya tawar tetap berada di tangan pembeli. Artinya, meski HBA naik di atas kertas, realisasi harga untuk kontrak spot dan diskon kualitas akan tetap ditentukan oleh harga Newcastle dan tekanan dari batubara China.
(mae/mae)
Foto: International Energy Agency (IEA),2025