2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tahun 2025 sebagai momen kejayaan, meskipun banyak drama. Optimisme ini dinilai masih akan lanjut pada 2026 oleh sejumlah analisis, bahkan target-nya bisa tembus 10.000.
Sepanjang 2025, IHSG mencatat kinerja ciamik dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa alias All Time High (ATH) sebanyak 24 kali.
Rekor paling anyar terukir pada 8 Desember 2025, ketika IHSG menyentuh level 8.710,69, sekaligus mendongkrak kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus Rp 16.000 triliun untuk pertama kalinya. Secara bulanan IHSG berhasil selalu di tutup positif selama enam bulan beruntun.
Perjalanan IHSG pada tahun ini kalau diungkapkan dengan perbahasa bisa dibilang seperti "bersusah-susah dahulu dan bersenang-senang kemudian" karena pada paruh pertama IHSG harus rela ditutup koreksi bahkan sempat kena trading halt sampai dua kali membuatnya ambles ke bawah 6000, tetapi paruh kedua menjadi periode kebangkitan sampai kesuksesan menuju level tertinggi baru.
Mulai dari paruh pertama 2025 dulu, IHSG mengakhiri posisi dengan koreksi sekitar 2,15%. Meskipun koreksi ini terbatas, tetapi pergerakan indeks keseluruhan saham RI ini sangat volatile.
Pelaku pasar dibuat dag dig dug bagai menaiki roller coaster, apalagi sempat kena trading halt atau pemberhentian sementara dua kali yang membuat IHSG terjun ke bawah 6000 karena berbagai drama, mulai dari tensi perang di Timur Tengah, tarif resiprokal Trump, sampai persoalan internal yang mengakumulasi ketidakpercayaan masyarakat hingga memicu demo.
Momen Penuh Drama IHSG : Trading Halt 2 Kali
Trading halt pertama terjadi pada 18 Maret 2025, waktu itu IHSG anjlok sampai 5,03% jelang berakhirnya sesi pertama perdagangan. Kejadian ini tercatat sebagai trading halt yang pertama terjadi lagi sejak pandemi memukul RI pada 2020 silam.
Sejumlah analis menilai koreksi tajam IHSG waktu itu akibat panic selling investor, sebagian juga menyebut karena dipicu mundur-nya Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Selain itu, sentimen negatif juga datang dari penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs yang menilai risiko fiskal meningkat di bawah pemerintahan baru.
Goldman pada waktu itu juga menurunkan peringkat saham RI dari overweight menjadi market weight serta menurunkan rekomendasi surat utang BUMN tenor panjang menjadi netral.
Trading halt kedua kemudian terjadi pada pada 8 April 2025, waktu itu IHSG langsung ambles di awal perdagangan sampai 9,19% menuju level ke bawah 6000.
Sebagai catatan, 8 April adalah perdagangan pertama setelah IHSG libur panjang Lebaran Idul Fitri. Di tengah libur panjang. Presiden AS mengumumkan perang dagang pada 3 April sehingga dampaknya baru terasa setelah IHSG dibuka lagi.
BEI pada Selasa, 8 April 2025 bahkan langsung melakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Pada akhir Maret hingga awal April 2025, muncul kekhawatiran serius bahwa Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan tarif impor yang luas, termasuk tarif timbal-balik terhadap semua negara.
Trump pun akhirnya memberlakukan tarif resiprokal terhadap beberapa negara mitra dagangnya dengan tarif yang cukup tinggi. Hal ini pun mendorong kekhawatiran pelemahan ekonomi sehingga mendorong kejatuhan pasar saham.
Momen Kebangkitan - Kesuksesan IHSG : Purbaya Effect - Aksi Konglo
IHSG kemudian mencatat kebangkitan signifikan setelah sempat tertekan oleh koreksi tajam dan dua kali trading halt. Sejak awal April hingga awal Juni 2025, indeks berhasil pulih sekitar 20% dan kembali menembus level 7.000, menandai kembalinya kepercayaan pelaku pasar.
Perbaikan sentimen global, meredanya ekspektasi pengetatan suku bunga di Amerika Serikat, serta menurunnya eskalasi konflik dagang menjadi faktor awal yang meredakan tekanan risiko.
Di tengah arus keluar dana asing, investor domestik berperan sebagai penopang utama dengan memanfaatkan valuasi saham yang dinilai masih menarik.
Momentum penguatan semakin solid seiring kebijakan moneter yang lebih longgar. Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan secara bertahap sepanjang 2025, yang menurunkan biaya modal dan meningkatkan daya tarik investasi saham. Rebound pasar juga diperkuat oleh aksi short covering ketika tren penguatan mulai terbentuk.
Memasuki paruh kedua tahun ini, IHSG untuk pertama kalinya menembus level 8.000 pada Agustus 2025, didorong kombinasi pemangkasan suku bunga lanjutan, surplus neraca perdagangan yang kuat, serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global.
Reli berlanjut hingga IHSG mencetak rekor di atas 8.200 pada September, seiring hadirnya Menteri Keuangan baru Purbaya Yudhi Sadewa yang dinilai membawa komunikasi kebijakan yang pro-pasar. Sentimen positif dari pemerintah, stimulus ekonomi, serta pernyataan optimistis mengenai pasar modal memperkuat kepercayaan investor, yang kemudian dikenal sebagai "Purbaya Effect". Meski sempat diwarnai volatilitas akibat kembali memanasnya tensi dagang global, IHSG mampu bangkit dan menutup tahun dengan tren penguatan.
Menjelang akhir 2025, arus dana asing kembali masuk seiring rebalancing indeks MSCI dan masuknya sejumlah saham Indonesia ke indeks global.
Di saat yang sama, maraknya aksi korporasi konglomerasi, mulai dari akuisisi, restrukturisasi, hingga konsolidasi bisnis, memperkuat narasi ekspansi jangka panjang.
Kombinasi faktor kebijakan, arus modal, serta aksi konglomerasi inilah yang mengantarkan IHSG menuju rekor-rekor baru dan menegaskan kesuksesan pasar saham Indonesia sepanjang 2025.
Proyeksi IHSG 2026 Tembus 10.000
Dengan optimisme pasar yang masih terjaga sampai penghujung 2025, sejumlah sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan tren positif pada 2026, bahkan target optimis-nya bisa cetak rekor menembus level 10.000.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, misalnya, melihat peluang IHSG menembus level 10.500 pada 2026. Mirae menilai penguatan pasar saham didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta ruang kebijakan moneter yang masih longgar. Mereka menilai BI Rate masih berpotensi dipangkas hingga 50 basis poin pada 2026, yang dapat menjadi katalis positif bagi pasar ekuitas.
Pandangan yang relatif optimistis juga datang dari Valbury Sekuritas, yang memasang target IHSG di level 10.130, serta Samuel Sekuritas yang menargetkan IHSG di 9.400 dengan skenario bullish mencapai 10.600, terutama ditopang oleh sektor perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sektor telekomunikasi melalui PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan consumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).
Di sisi lain, pendekatan yang lebih berhati-hati ditunjukkan oleh CIMB yang memproyeksikan IHSG 9.500 pada akhir 2026. CIMB menyoroti bahwa ekspektasi penurunan suku bunga global atau kebijakan bank sentral negara maju yang lebih akomodatif dapat menurunkan biaya utang luar negeri dan menopang arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, mereka mengingatkan bahwa risiko fiskal Amerika Serikat (AS), akibat beban utang yang besar, berpotensi memicu kenaikan yield obligasi AS, penguatan dolar, serta arus modal keluar dari emerging markets. Kondisi tersebut dapat menekan rupiah dan memicu tekanan inflasi impor.
Sementara itu, FAC Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 9.200-9.400 dalam skenario bullish, dengan sektor pilihan meliputi consumer non-cyclicals, financials, telekomunikasi berbasis data infrastructure, serta basic materials khususnya mineral dan logam. Pandangan ini sejalan dengan konsensus yang menilai sektor-sektor defensif dan berorientasi kebutuhan dasar masih menjadi jangkar utama pasar.
Selanjutnya ada Mega Capital Sekuritas yang memproyeksikan IHSG di kisaran 9.323, dengan asumsi laba per saham (EPS) sebesar 650,6 dan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) forward di level 14,33 kali. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata PER IHSG dalam lima tahun terakhir.
Proyeksi Mega Capital Sekuritas tersebut juga mendapat konfirmasi dari sisi teknikal. Secara charting, area target tersebut berdekatan dengan level Fibonacci extension 2,618 yang berada di sekitar 9.200, sehingga memperkuat validitas target jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi sentimen, arus dana asing yang kembali mengalir deras ke pasar saham Indonesia menjadi salah satu penopang utama. Selain itu, sejumlah emiten diproyeksikan masuk ke dalam indeks MSCI pada 2026, yang berpotensi meningkatkan bobot Indonesia di MSCI dan menarik aliran dana pasif tambahan.
Valuasi saham perbankan yang saat ini masih tergolong murah juga menjadi katalis penting, mengingat rasio valuasinya berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Kehadiran Danantara sebagai kendaraan investasi nasional, serta rencana BPJS Ketenagakerjaan untuk meningkatkan porsi investasi di instrumen saham, dinilai dapat memperkuat partisipasi investor domestik dan menambah daya dorong bagi IHSG ke depan.
Pilarmas Investindo Sekuritas juga memproyeksikan IHSG tetap di zona positif bergerak di kisaran 9.435 hingga 9.720 pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan pandangan optimistis moderat, dengan asumsi stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga, bauran kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung, serta peran likuiditas domestik sebagai penyangga pergerakan pasar di tengah dinamika global.
Kemudian ada Sinarmas Sekuritas secara eksplisit menaikkan target IHSG untuk proyeksi pada 2026 mendatang ke level 9.900, dengan asumsi valuasi forward P/E sekitar 16,5 kali atau sekitar +1 standar deviasi di atas rata-rata historis.
Optimisme ini didorong oleh perbaikan momentum ekonomi, potensi kembalinya arus dana asing ke saham berkapitalisasi besar, serta dukungan kebijakan makro yang dinilai masih konstruktif.
Sementara itu, Ciptadana Sekuritas menjadi salah satu pihak konservatif dengan base case IHSG di 8.960, mencerminkan sikap hati-hati terhadap volatilitas global dan risiko eksternal yang masih membayangi pasar keuangan.
Mega Capital Sekuritas juga memiliki pandangan konservatif juga mengingat pada awal 2025 ada risiko terkait pengetatan aturan free float MSCI, berpotensi memicu dana asing keluar. Bear case scenario IHSG diperkirakan bisa mencapai 7910.
CNBC Indonesia Research merekap target IHSG pada 2026 dari beberapa sekuritas sebagai berikut :
(mae/mae)