2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2025 harus berakhir dengan performa yang kurang menguntungkan bagi rupiah.
Sepanjang tahun, rupiah berada di bawah tekanan dan terkoreksi sebesar 3,60% secara kumulatif, di tengah ketidakpastian global yang tinggi serta dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional yang terus berubah.
Merujuk data Refinitiv, pada awal tahun kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.090/US$, namun pada hari terakhir perdagangan 2025, yakni Rabu (31/12/2025), rupiah ditutup di posisi Rp16.670/US$. Dengan demikian, secara total rupiah kehilangan nilai sekitar Rp580 per dolar AS sepanjang tahun.
Salah satu episode paling dramatis dalam perjalanan rupiah di sepanjang 2025 terjadi pada 8 April 2025.
Rupiah terperosok ke titik terlemahnya sepanjang 2025, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif. Kebijakan ini diumumkan pertama kali pada 2 April 2025 dan langsung memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk tekanan tajam terhadap nilai tukar rupiah.
Merujuk data Refinitiv, pada Selasa (8/4/2025), rupiah ditutup melemah signifikan sebesar 1,84% ke level Rp16.850/US$. Ini menjadi salah satu pelemahan harian terdalam tahun ini.
Indonesia awalnya dikenai tarif resiprokal hingga 32% karena besarnya defisit perdagangan AS ke Indonesia. Pada 2 April 2025, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif global dengan dasar 10% untuk semua impor dan bea masuk yang jauh lebih tinggi untuk beberapa mitra dagang terbesar AS.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran serius di pasar keuangan, karena menandai babak baru dalam perang dagang global. Investor asing mulai menarik diri dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memicu aliran modal keluar serta meningkatnya volatilitas rupiah.
Namun, masa awal pengumuman resiprokal tarif tersebut baru awal mula, karena setelah itu, rupiah sempat menguat sebentar sebelum akhirnya kembali melemah hingga mencatatkan level terlemah rupiah pada 24 April 2025.
Pada saat itu, rupiah ditutup di level Rp16.865/US$ yang menjadi titik terlemah rupiah di sepanjang 2025. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 16.970/US$ pada 9 April 2025 pukul 09.40 WIB. Rupiah pun ada di posisi terlemah intraday sepanjang masa.
Melihat Tantangan di 2026
Memasuki 2026, prospek pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dibayangi sejumlah tantangan yang bersumber dari faktor eksternal maupun domestik. Tiga aspek utama yang akan sangat menentukan arah nilai tukar rupiah pada tahun ini adalah kebijakan suku bunga The bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed), proses transisi kepemimpinan bank sentral AS, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia.
Arah Suku Bunga The Fed 2026
Prospek arah suku bunga The Federal Reserve pada 2026 masih menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah bank sentral AS merilis risalah pertemuan Desember 2025 beserta rangkaian proyeksi ekonomi terbarunya dalam Summary of Economic Projections (SEP).
Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga pada pertemuan 9-10 Desember bukanlah keputusan yang sepenuhnya bulat, melainkan hasil kompromi di tengah perdebatan panjang mengenai risiko inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Dalam risalah pertemuan FOMC tersebut, menyetujui pemangkasan suku bunga dengan posisi 9 suara setuju dan 3 menolak, yang menjadi jumlah perbedaan pendapat terbanyak sejak 2019.
Keputusan itu menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,5%-3,75%. Sejumlah anggota FOMC menilai langkah pelonggaran diperlukan untuk menopang aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja, sementara sebagian lainnya masih khawatir bahwa proses penurunan inflasi belum sepenuhnya konsisten.
Gambaran arah kebijakan moneter menjadi lebih jelas. Berdasarkan median proyeksi FOMC, inflasi PCE diperkirakan turun dari 2,9% pada 2025 menjadi 2,4% pada 2026, sementara tingkat pengangguran diperkirakan berada di kisaran 4,4% dengan pertumbuhan ekonomi tetap moderat di 2,3%.
Dengan proyeksi makroekonomi seperti itu, mayoritas anggota FOMC memandang ruang pelonggaran moneter pada 2026 tetap terbuka, selama proses penurunan inflasi berlangsung sesuai proyeksi.
Hal tersebut tercermin dalam dot plot The Fed. Dari 19 pejabat yang memberikan proyeksi, sebanyak 12 anggota memandang suku bunga masih perlu diturunkan lagi pada 2026, dan satu anggota memperkirakan tambahan pemangkasan lanjutan pada 2027.
Foto: The Federal ReserveDot Plot (Desember 2025) |
Median proyeksi federal funds rate menunjukkan level 3,6% pada 2025, turun menjadi 3,4% pada 2026, dan kembali melemah ke 3,1% pada 2027, sebelum mendekati kisaran jangka panjang sekitar 3%.
The Fed juga mencermati dampak kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump, yang sempat meningkatkan tekanan harga dan menambah risiko pada jalur inflasi. Namun, sebagian besar anggota FOMC menilai dampak tarif tersebut bersifat sementara dan kemungkinan akan mereda memasuki 2026, sehingga tidak sepenuhnya mengubah arah kebijakan moneter jangka menengah.
Bagi pasar keuangan global termasuk Indonesia, arah kebijakan tersebut berpotensi menekan indeks dolar AS (DXY) dan membuka ruang arus masuk modal ke emerging markets, tetapi pada saat yang sama menyisakan risiko volatilitas apabila ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed sirna.
Ketidakpastian Pengganti Jerome Powell
Selain arah suku bunga, tantangan lain yang turut membayangi pasar keuangan global pada 2026 adalah isu suksesi kepemimpinan The Fed.
Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, dan Presiden Trump diperkirakan akan mengumumkan penggatinya pada Akhir Januari ini. Penentuan penggantinya menjadi perhatian besar para pelaku pasar karena dapat memengaruhi arah dan karakter kebijakan moneter AS ke depan.
Proses pemilihan ketua The Fed tidak hanya dipandang dari sisi siapa nya, tetapi juga dari aspek independensi bank sentral.
Kekhawatiran muncul bahwa preferensi politik dapat memengaruhi kebijakan suku bunga, terutama setelah Presiden Donald Trump beberapa kali menyuarakan keinginan agar suku bunga dipangkas lebih agresif.
Sejumlah nama pun mencuat sebagai kandidat potensial, di antaranya Kevin Hassett yang kerap disebut sebagai kandidat terkuat, serta Christopher Waller dan Kevin Warsh yang juga masuk dalam radar pasar.
Perdebatan mengenai sosok pengganti Powell tidak terlepas dari pertanyaan apakah ketua The Fed berikutnya akan lebih agresif dalam mendorong penurunan suku bunga, atau justru memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dan tetap berpegang pada pendekatan berbasis data.
Di sisi lain, proses di Senat diperkirakan akan berlangsung ketat dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian tambahan di pasar keuangan global, terutama apabila muncul perbedaan pandangan terkait independensi kebijakan moneter.
Bagi rupiah, ketidakpastian terkait transisi kepemimpinan ini berpotensi meningkatkan sensitivitas pasar terhadap setiap isyarat kebijakan The Fed. Perubahan persepsi pasar mengenai arah suku bunga dapat memicu fluktuasi yang lebih besar pada indeks dolar AS, yang pada akhirnya berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah.
Arah Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia
Dari sisi domestik, prospek rupiah pada 2026 juga akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Sepanjang 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin (bps) secara kumulatif melalui lima kali pemangkasan yang berlangsung pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September 2025.
Pada Rapat Dewan Gubernur 17 September 2025, BI kembali memangkas suku bunga sebesar 25 bps sehingga BI-Rate turun menjadi 4,75%, sementara suku bunga Deposit Facility diturunkan ke 3,75% dan Lending Facility menjadi 5,50%. Setelah pemangkasan tersebut, BI memilih untuk menahan suku bunga hingga akhir 2025.
BI menegaskan bahwa langkah pelonggaran tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah melalui bauran kebijakan moneter dan penguatan koordinasi dengan pemerintah.
Di tengah stabilitas inflasi yang terjaga dan kondisi eksternal yang mulai lebih kondusif, ruang pelonggaran suku bunga dinilai masih terbuka pada 2026.
Dengan demikian, kebijakan BI pada 2026 diperkirakan akan memainkan peran penting sebagai penyeimbang dinamika global, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Proyeksi Rupiah di 2026
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi/lembaga, nilai tukar rupiah pada 2026 diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.622/US$ secara rata-rata, dengan nilai median sebesar Rp16.650/US$.
Untuk proyeksi nilai tukar pada akhir tahun, median konsensus berada di level Rp16.697/US$, sementara rata-rata proyeksi penutupan tahun berada di kisaran Rp16.528/US$.
Sementara itu, target pemerintah melalui asumsi makro dalam APBN 2026 menetapkan proyeksi nilai tukar rupiah pada level Rp16.500/US$, yang berada relatif dekat dengan kisaran proyeksi konsensus pasar.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah pada 2026 akan bergerak di kisaran Rp16.430/US$.
Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan rata-rata pergerakan kurs hingga akhir 2025 yang berada di kisaran Rp16.440/US$, dan jauh di atas target yang tercantum dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025 sebesar Rp15.285/US$.
"Nilai tukar rupiah rata-ratanya Rp16.430, hampir sama dengan prognosa Rp16.440," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
(mae/mae)
Foto: The Federal Reserve