2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku
Ketidakpastian ekonomi global yang masih menyelimuti pasar keuangan menuntut pelaku pasar untuk lebih cermat dalam memetakan sektor-sektor potensial.
Kombinasi antara kebijakan moneter bank sentral dunia, tensi geopolitik yang belum mereda, hingga perubahan struktural dalam kebutuhan teknologi dan gaya hidup masyarakat menjadi katalis utama pergerakan arus modal di masa depan.
Berdasarkan dinamika makroekonomi dan sentimen domestik terkini, terdapat tiga sektor yang dinilai memiliki daya tahan serta potensi pertumbuhan yang relevan dengan kondisi zaman, yakni sektor komoditas emas, energi terbarukan, dan kesehatan.
Kilau Emas di Tengah Ekspansi Moneter dan Geopolitik
Sektor yang berkaitan dengan emas kembali menjadi sorotan utama di tengah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kembali melakukan pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing (QE).
Kebijakan ini, yang identik dengan peningkatan jumlah uang beredar, secara historis cenderung menekan nilai mata uang fiat dan membuat aset riil seperti emas menjadi lebih menarik sebagai pelindung nilai (hedging).
Selain faktor kebijakan moneter, tensi geopolitik di berbagai wilayah dunia turut mendorong bank sentral di banyak negara untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka. Aksi akumulasi emas fisik oleh bank sentral global tercatat terus meningkat sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakstabilan politik dan ekonomi.
Secara historis, emas dikenal sebagai aset safe haven. Logam mulia ini biasanya baru akan mengalami tekanan jual atau pelemahan signifikan apabila terjadi krisis likuiditas yang sangat dalam atau koreksi pasar yang ekstrem, di mana pelaku pasar terpaksa melikuidasi seluruh aset, termasuk emas, demi mendapatkan uang tunai. Namun, dalam kondisi ketidakpastian yang bersifat inflatoir atau geopolitik, emas cenderung menjadi tujuan utama aliran dana.
Foto: emasemas |
Revolusi AI dan Transisi Energi Terbarukan
Sektor kedua yang mendapatkan momentum besar adalah energi, khususnya energi baru terbarukan (EBT). Hal ini tidak lepas dari ledakan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membutuhkan daya komputasi masif.
Keberadaan pusat data (data center), pabrik semikonduktor, dan infrastruktur penunjang AI diproyeksikan akan mendongkrak kebutuhan energi dunia secara signifikan.
Beberapa proyeksi menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun mendatang, kebutuhan energi global dapat melonjak hingga lebih dari 100 kali lipat dibandingkan saat ini.
Mengingat sumber daya energi fosil yang memiliki keterbatasan cadangan dan isu emisi karbon, fokus pembangunan infrastruktur energi perlahan bergeser ke arah energi terbarukan.
Di pasar domestik, sektor ini juga didukung oleh struktur investor yang telah berubah. Dominasi investor ritel yang kini mencapai 50% dari total transaksi harian membuat pasar lebih responsif terhadap narasi masa depan yang berkelanjutan.
Sentimen terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) berbasis energi hijau kerap menjadi penggerak utama volatilitas dan minat beli di kalangan pelaku pasar ritel. Transisi ini dinilai bukan hanya soal tren sesaat, melainkan kebutuhan infrastruktur mendasar untuk menopang era digital.
Sektor Kesehatan: Kesadaran Pasca-Pandemi dan Faktor Lingkungan
Sektor kesehatan (healthcare) menjadi perhatian ketiga mengingat adanya aliran likuiditas besar yang mulai masuk ke emiten-emiten terkait. Fundamental sektor ini didukung oleh perubahan perilaku masyarakat pasca-pandemi COVID-19 yang signifikan.
Masyarakat kini memiliki tingkat kesadaran kesehatan (health awareness) yang jauh lebih tinggi dibandingkan era pra-pandemi. Fenomena ini terlihat jelas dari menjamurnya tren gaya hidup aktif. Olahraga seperti lari (jogging), badminton, tenis, golf, hingga olahraga yang sedang tumbuh pesat seperti padel, kini memiliki basis peminat yang sangat besar.
Peningkatan aktivitas fisik ini secara tidak langsung mendorong ekosistem kesehatan, mulai dari permintaan suplemen preventif, layanan fisioterapi, hingga pemeriksaan kesehatan berkala (medical check-up) untuk menunjang performa fisik.
Selain faktor gaya hidup, sisi demografis dan lingkungan juga memegang peranan penting. Tren populasi menua (aging population) di Indonesia meningkatkan kebutuhan layanan geriatri secara alami.
Di sisi lain, kondisi iklim, anomali cuaca, serta kualitas udara di wilayah Jabodetabek dan Pulau Jawa yang kerap memburuk menjadi pemicu tingginya kasus penyakit pernapasan (ISPA). Ditambah dengan kondisi geografis yang rawan bencana alam, kesiapan infrastruktur kesehatan menjadi kebutuhan mendesak yang tak terelakkan.
Dukungan pemerintah juga terlihat dari sisi fiskal. Program "Asta Cita" yang mencanangkan anggaran kesehatan hingga level Rp 244 triliun menjadi katalis positif bagi industri ini. Besarnya alokasi dana tersebut diharapkan dapat menstimulasi kinerja emiten farmasi dan rumah sakit melalui peningkatan akses dan fasilitas kesehatan yang lebih merata.
Ketiga sektor ini menggambarkan bagaimana arus investasi tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan semata, melainkan juga oleh perubahan makroekonomi global, revolusi teknologi, dan transformasi gaya hidup masyarakat modern.
Emiten Pilihan di Tengah Momentum Sektoral
Merespons potensi besar dari sektor komoditas emas, transisi energi, kesehatan, hingga infrastruktur teknologi tersebut, pelaku pasar mulai mencermati sejumlah emiten yang dinilai memiliki fundamental solid dan katalis pertumbuhan yang relevan.
Berdasarkan analisis kinerja dan sentimen terkini, berikut adalah lima saham yang menjadi sorotan:
Archi Indonesia Tbk (ARCI)
Emiten tambang emas ini menarik perhatian karena mencatatkan nilai penjualan emas yang tinggi, sejalan dengan tren harga komoditas global.
Menariknya, valuasi saham ARCI saat ini dinilai masih tergolong moderat dibandingkan rata-rata industri, sehingga memberikan ruang pertumbuhan yang cukup atraktif di tengah siklus bullish emas.
Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Fokus pasar pada ADMR tertuju pada operasional smelter aluminium. Dengan harga aluminium dunia yang sedang menanjak dan bertahan di level tinggi, perseroan diuntungkan karena mampu menjual produk hasil tambang dengan nilai jual lebih mahal.
Hal ini berdampak positif pada pelebaran margin operasional perusahaan dibandingkan sekadar menjual bahan mentah.
Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
Raksasa telekomunikasi ini mendapatkan momentum dari arus dana asing (inflow) yang mulai melakukan akumulasi. Katalis utama datang dari kabar rencana penawaran umum perdana (IPO) anak usaha yang bergerak di bidang pusat data (data center).
Aksi korporasi ini dinilai strategis mengingat kebutuhan infrastruktur data di era AI, sekaligus membuka potensi nilai aset infrastruktur masif yang dimiliki Telkom Group.
Foto: Dok: Telkom |
Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Sebagai BUMN tambang, ANTM memiliki diversifikasi pendapatan yang solid dari penjualan emas, nikel, alumina, hingga perak, yang bermuara pada perolehan laba bersih (net profit) yang cukup tinggi.
Selain itu, sentimen pembentukan badan pengelola investasi Danantara yang mendorong BUMN untuk membagikan dividen besar, menempatkan ANTM sebagai salah satu kandidat emiten penebar dividen jumbo di masa mendatang.
Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
Di sektor kesehatan, SILO menunjukkan perbaikan kinerja yang konsisten. Valuasi saham saat ini berada pada kisaran Price to Earning Ratio (PER) 29 kali dan Price to Book Value (PBV) 2,7 kali.
Sentimen positif diperkuat oleh data pertumbuhan trafik kunjungan rumah sakit (traffic growth) yang kembali mengalami peningkatan signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2024, menandakan pulihnya volume pasien.
Rekomendasi dari Sekuritas
Selain mencermati pergerakan emiten secara spesifik, pandangan dari perusahaan sekuritas juga menjadi referensi penting dalam melihat arah pasar ke depan. Tuntun Sekuritas dan Mega Capital Sekuritas memberikan sorotan khusus pada sektor perbankan, manufaktur, konsumer, dan tren diversifikasi komoditas.
Tuntun Sekuritas: Perbankan dan Manufaktur sebagai Motor Ekonomi
Tuntun Sekuritas menilai sektor perbankan masih menjadi proksi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagai jantung perekonomian, kinerja perbankan diproyeksikan berjalan beriringan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi, permintaan kredit dari dunia usaha diperkirakan akan meningkat. Selain volume kredit, potensi penurunan suku bunga acuan secara bertahap juga menjadi katalis positif yang dapat menurunkan biaya dana (cost of funds), sehingga marjin keuntungan perbankan tetap terjaga sehat selama manajemen risiko kredit dikelola dengan baik.
Di sisi lain, sektor manufaktur mendapatkan momentum dari kebijakan pemerintah yang gencar mendorong substitusi impor dan penguatan industri dalam negeri. Hal ini tercermin dari data Purchasing Managers' Index (PMI) yang ekspansif. Tuntun Sekuritas menyarankan pelaku pasar untuk fokus pada perusahaan manufaktur yang memiliki rantai pasok kuat di pasar domestik, karena emiten inilah yang paling diuntungkan dari perputaran ekonomi lokal.
Tuntun juga mempunyai Concept Sector , dimana Tuntun menyajikan beragam riset yang mendalam terhadap Individual Stocks, serta riset industri.
Mega Capital Sekuritas: Angin Segar Konsumer dan Diversifikasi Emas
Mega Capital Sekuritas menyoroti potensi kebangkitan sektor konsumer, khususnya pada sub-sektor perunggasan (poultry) dan rokok (cigarette), serta tren emiten batubara yang merambah emas.
Pada sektor poultry, kenaikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan melonjak dari Rp 71 triliun pada 2025 menjadi Rp 335 triliun pada 2026 menjadi katalis utama. Hal ini berimplikasi positif terhadap permintaan ayam dan telur yang lebih stabil dan terjamin.
Peningkatan ini berpotensi memperbaiki utilisasi di sepanjang rantai nilai, mulai dari pembibitan hingga pemrosesan. Meski demikian, risiko terkait sentralisasi proyek dan standar keamanan pangan tetap perlu diwaspadai agar tidak menjadi sentimen negatif di kemudian hari.
Sementara untuk sektor rokok, sentimen positif datang dari kepastian tidak adanya kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) pada tahun 2026. Kebijakan ini, ditambah dengan pemberantasan rokok ilegal, diprediksi dapat mendongkrak volume produksi emiten legal.
Secara teknikal, pergerakan saham rokok juga mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah (reversal) dari tren penurunan, didukung oleh peningkatan volume transaksi.
Terakhir, Mega Capital juga menyoroti fenomena diversifikasi emiten batubara ke emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan The Fed yang menguntungkan harga emas, emiten batubara yang mulai agresif mengalokasikan belanja modal (Capex) ke tambang emas dinilai menarik.
Langkah ini dianggap strategis karena emas dinilai lebih ramah investasi (bankable) secara jangka panjang dibandingkan batubara yang menghadapi tekanan isu lingkungan (ESG) dan pendanaan yang semakin selektif.
Bank Mandiri
Bank Mandiri menjelaskan pertumbuhan ekonomi sektoral terutama didorong oleh sektor-sektor berbasis mobilitas dan pengalaman (mobility and experience-based sectors). Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 ditopang oleh konsumsi yang berkaitan dengan mobilitas dan pengalaman, seperti transportasi, hotel, restoran, serta layanan lainnya seperti hiburan, yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas pariwisata dan rekreasi.
Sektor-sektor ini menunjukkan tren pertumbuhan tinggi yang konsisten dalam empat tahun terakhir. Kami meyakini pola pertumbuhan tersebut akan berlanjut, sejalan dengan tren historis yang ada. Oleh karena itu, kami memperkirakan sektor transportasi, hotel, restoran, dan jasa lainnya akan tumbuh sekitar 8%-9% pada 2026. Kelompok usia muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, menjadi pendorong utama permintaan yang menopang pertumbuhan sektor-sektor berbasis pengalaman ini.
Selain itu, kami juga memperkirakan bahwa pada 2026 dan dalam jangka menengah, sektor telekomunikasi dan kesehatan akan tetap menjadi sektor yang menjanjikan. Peningkatan permintaan akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan di kedua sektor tersebut.
Foto: Bank MandiriSektor prospektif |
Secara khusus, kebutuhan terhadap lalu lintas data di sektor telekomunikasi tengah mengalami lonjakan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk aktivitas bisnis. Tren ini mengindikasikan pertumbuhan yang signifikan di sektor telekomunikasi dan sektor terkait lainnya, termasuk infrastruktur telekomunikasi dan manufaktur elektronik.
Sejalan dengan itu, kebutuhan akan layanan kesehatan yang lebih baik juga terus meningkat, yang mengisyaratkan pertumbuhan berkelanjutan di sektor kesehatan. Pendorong utama pertumbuhan ini adalah meningkatnya jumlah kelas menengah yang berlangganan asuransi kesehatan premium.
Pada 2024, jumlah peserta asuransi kesehatan swasta dan asuransi kesehatan kantor masing-masing diproyeksikan mencapai 1,5 juta dan 7,2 juta orang. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring kenaikan pendapatan per kapita. Dengan demikian, seiring meningkatnya permintaan, layanan kesehatan diperkirakan akan terus berkembang.
(mae/mae)
Foto: emas
Foto: Dok: Telkom
Foto: Bank Mandiri