MARKET DATA
CNBC SPECIAL REPORT

2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku

Tim riset,  CNBC Indonesia
05 January 2026 06:18
Emas
Foto: Pexels

2025 menjadi tahun yang gemilang bagi logam mulia, banyak analis memproyeksikan momen kejayaan emas masih akan berlanjut pada 2026, bahkan diramal bisa menyentuh US$ 5000 per troy ons.

Gejolak geopolitik akan menjadi salah satu faktor berkilaunya emas. Setelah konflik panas di Timur Tengah pada 2025, emas memiliki "senjata" baru untuk terbang di awal tahun dari kisruh antara AS dan Venezuela.
Seperti diketahui, 
Presiden AS Donald Trump bersuara soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Trump, penangkapan Maduro dan istrinya dilakukan serangan udara besar-besaran. Hal ini berpotensi membuat adanya turbulensi di pasar merespon ketidakstabilan geopolitik di awal tahun 2026.

Serangan ke jantung kota Venezuela, Caracas, itu membuat warga panik dan kondisi kota luluh lantak. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela untuk ditangkap dengan melibatkan penegak hukum AS.

Sebagai catatan dulu, sepanjang 2025 harga emas melonjak sekitar 64%. Harga sempat menyentuh rekor US$4.510 per ons pada malam Natal. Posisi tersebut terbang 72% dibandingkan akhir 2024, ketika emas masih berada di kisaran US$2.624 per ons. Selain karena pemangkasan suku bunga The Fed, emas juga terbang karena faktor geopolitik.

Kenaikan tersebut menjadi lonjakan tahunan terbesar bagi emas, melampaui reli 70% yang terjadi pada 1979.

"Dalam karier saya, ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata John Reade, kepala strategi di World Gold Council.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal jumlah rekor tertinggi baru, dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam kinerja emas yang melampaui ekspektasi begitu banyak orang dengan selisih yang begitu besar." terang John.

Brian Fung, CEO Hong Kong Gold Exchange memperkirakan tren kenaikan ini masih akan berlanjut pada 2026, dengan potensi harga menembus US$5.000 per ons.

Menurutnya, reli emas sepanjang 2025 didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta kebijakan tarif yang diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Kondisi tersebut mendorong investor individu maupun bank sentral untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.

Ia menilai faktor-faktor pendukung emas tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Karena itu, harga emas dinilai masih berpeluang naik lebih lanjut pada 2026.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas untuk Desember 2026 menjadi US$4.900 per ons. Analis Goldman Sachs, Lina Thomas, menyebut permintaan struktural dari bank sentral serta kebijakan pelonggaran moneter Federal Reserve AS sebagai pendorong utama.

Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan harga emas bisa mencapai US$4.500 per ons pada pertengahan 2026. Bank of America dan JPMorgan bahkan memproyeksikan harga emas akan melampaui US$5.000 per ons sebelum akhir 2026.

Menurut Fung, pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi motor utama reli harga. Selama ini, bank sentral cenderung berinvestasi pada obligasi pemerintah AS dan aset berbasis dolar.

Namun di tengah tren penurunan suku bunga dan meningkatnya ketegangan geopolitik, mereka mulai mengurangi eksposur terhadap dolar AS, dengan emas menjadi pilihan yang semakin alami.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa pada Oktober lalu, China memangkas kepemilikan obligasi pemerintah AS ke level terendah dalam 17 tahun, turun menjadi US$688,7 miliar dari US$700,5 miliar pada September.

Di saat yang sama, China memperpanjang tren pembelian emasnya selama 13 bulan berturut-turut hingga November, dengan menambah sekitar 30.000 ons ke cadangan nasional. Total cadangan emas China kini mencapai 74,12 juta ons, dengan nilai sekitar US$310,6 miliar berdasarkan data resmi.

Di tengah reli emas global ini, pemerintah Hong Kong juga menyiapkan langkah besar pada 2026 untuk memosisikan kota tersebut sebagai pusat perdagangan komoditas dunia. Pemerintah berencana membangun ekosistem komoditas yang lebih kuat sebagai sumber pertumbuhan baru, melampaui peran tradisional sektor keuangan.

Stephen Innes, managing partner SPI Asset Management, menilai fokus investor seharusnya bukan pada apakah harga emas sudah terlalu mahal, melainkan pada peran emas itu sendiri dalam portofolio. Jika emas diperlakukan sebagai instrumen jangka pendek, maka timing menjadi sangat penting.

Namun jika emas dipandang sebagai perlindungan terhadap kesalahan kebijakan, pelemahan mata uang, atau guncangan sistemik, maka harga bukan lagi faktor utama.

Ia menambahkan bahwa emas, layaknya asuransi, dibeli bukan karena murah, melainkan karena risiko tidak memilikinya sering kali baru terasa saat sudah terlambat. Dalam konteks ini, jejak pembelian bank sentral menunjukkan bahwa para pembeli semakin tidak sensitif terhadap harga.

 

(mae/mae)


Most Popular
Features