MARKET DATA
CNBC Special Report

2026: Terbakar Isi Dompetku, Menyala Negeriku

Tim riset,  CNBC Indonesia
05 January 2026 06:18
INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI RI KUARTAL III - 2018
Foto: Infografis/INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI RI /Aristya Rahadian Krisabella
  • Dunia menatap 2026 dengan sikap lebih optimis sejalan meredanya ketidakpastian 
  • IHSG diramal tembus 10000 sementara nilai tukar rupiah masih tertekan
  • Harga emas diramal masih berkilau sedangkan batu bara kian merana

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melewati banyak "drama" di 2025, dunia menatap 2026 dengan lebih optimis. Ketidakpastian global diharapkan sedikit mereda pada tahun ini.

Untuk menyambut lembaran baru 2026, CNBC Indonesia hari ini menghadirkan edisi khusus membahas prospek ekonomi 2026.  Prospek tersebut akan dilihat dari berbagai sudut mulai dari kerangka ekonomi global dan nasional dari kebijakan fiskal dan moneter.

Bagaimana dampak perkembangan global dan nasional terhadap pergerakan rupiah, bursa saham, dan harga komoditas tahun ini selengkapnya bisa dibaca pada halaman 1-7 artikel ini.

Menilik kembali ke tahun lalu, 2025 menjadi salah satu periode paling bergejolak dalam tatanan ekonomi global dan nasional. Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membawa dunia ke dalam periode yang penuh huru hara dan drama.

Contoh paling nyata adalah ambruknya bursa saham global di awal April 2025 setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif. Tarik ulur Trump dengan kebijakan tarifnya adalah drama terpanas tahun ini.

Lonjakan harga emas dan perak menjadi cerminan akan kepercayaan dunia terhadap sistem ekonomi tengah runtuh, termasuk karena AS. Geopolitik global juga memanas karena situasi di Timur Tengah, konflik Kamboja-Thailand hingga China versus Taiwan.

Belum lagi, banyaknya bencana alam juga menyadarkan warga dunia, termasuk Indonesia, mengenai dampak nyata perubahan iklim. Tahun 2025 adalah tahun di mana Asia menjadi pusat bencana bertubi-tubi dari banjir hingga topan.

Meninggalkan 2025, dunia setidaknya bisa bernafas sedikit lega dengan berkurangnya ketidakpastian dan konflik geopolitik.

Suku bunga jauh lebih rendah dibandingkan awal 2025 sementara inflasi dunia juga lebih terkendali. Kondisi ini menjadi salah satu alasan Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas ekonomi global.

Dalam proyeksi terbaru mereka, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026 di edisi Oktober, lebih tinggi dibandingkan proyeksi di pril 3,0%.

Gejolak geopolitik memang masih sulit tebak. Contoh nyata adalah apa yang terjadi di Venezuela pada Sabtu (3/1/2025). Namun, setidaknya kondisi di Timur Tengah sudah mereda.

Menatap 2026, kami memperkirakan dampak dari berbagai pergeseran kebijakan global ini akan terlihat lebih jelas. Pemerintah di berbagai negara tengah beradaptasi dengan realitas geopolitik baru dan menyesuaikan rencana kebijakan fiskal serta struktural mereka.

Tarif AS yang lebih tinggi mulai mendorong inflasi dan membentuk ulang pola perdagangan global.

Kelebihan pasokan (oversupply) di China, melemahnya permintaan global, serta arah kebijakan yang condong pada dukungan sektor industri diperkirakan terus memengaruhi kondisi global.

Pelonggaran kebijakan lebih lanjut dari The Fed bisa mendorong penguatan harga komoditas pada 2026, sehingga menciptakan lingkungan eksternal yang lebih kondusif bagi dunia.

Dua motor penggerak ekonomi dunia, China dan AS, diperkirakan akan bergerak berlawanan.
Ekonomi AS diperkirakan masih resilient meskipun ada kekhawatiran pasar tenaga kerja. Konsumsi rumah tangga dan investasi akan menjadi mesin utama pertumbuhan.

Para pegawai pemerintah yang tidak menerima gaji selama shutdown telah menerima pembayaran ganti rugi atas upah yang hilang. Secara historis, kondisi ini biasanya memicu peningkatan belanja dalam beberapa kuartal berikutnya.

Sementara itu, kecerdasan buatan (AI) kemungkinan besar menjadi pendorong utama pertumbuhan investasi.

Sebaliknya, meski menunjukkan banyak kekuatan, perekonomian China masih belum seimbang dari sisi sumber pertumbuhan. Permintaan domestik tetap lemah, terbebani oleh pasar properti yang lesu dan pasar tenaga kerja yang lunak. Sebaliknya, ekspor justru melampaui ekspektasi, tumbuh 5%-6% pada 2025 meskipun menghadapi tarif dan pembatasan ekspor (seperti bea masuk 100% atas kendaraan listrik China di Amerika Serikat).

Bagaimana dengan Indonesia?

Ketidakpastian yang mereda dan suku bunga global yang lebih rendah diharapkan berimbas positif ke Indonesia. Arus dana asing diharapkan kembali mengalir deras ke Tanah Air.

Konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi tulang punggung Indonesia. Kabar baiknya, daya beli masyarakat Indonesia terus membaik menjelang akhir 2025. Data Mandiri Spending Index, data BCA hingga kredit konsumsi dari Bank Indonesia menunjukkan permintaan domestik tengah menggeliat.

Data-data menjelang akhir 2025 menunjukkan warga RI lebih berani "membakar" isi dompetnya dibandingkan awal 2025. Libur akhir tahun 2025 bahkan diwarnai dengan berita ramainya tempat wisata.
Data Mandiri Spending Index memperlihatkan bahwa momen konsumsi akhir tahun sudah mulai terbentuk sejak pertengahan November 2025.

Belanja transportasi terutama moda darat juga meningkat signifikan, menjadi sinyal kuat bahwa rencana perjalanan liburan Natal dan Tahun Baru mulai berjalan. Perbaikan tabungan rumah tangga kelompok bawah dan relatif stabilnya tabungan kelompok menengah-atas turut mendukung ruang konsumsi menjelang akhir tahun.

Dengan berbagai indikator yang terus membaik, mulai dari pemulihan fashion, peningkatan mobilitas, hingga naiknya belanja transportasi dan konsumsi, momentum konsumsi kuartal IV-25 diperkirakan tetap solid dan berpotensi menjadi salah satu periode belanja terkuat sepanjang tahun.

Kondisi ini tentu menjadi kabar baik karena bisa membuat ekonomi Indonesia makin "menyala".

Bank Mandiri memperkirakan sektor berbasis mobilitas seperti transportasi, hotel, dan restoran diproyeksikan tumbuh kuat pada 2026, didorong Generasi Z dan Milenial. Telekomunikasi, kesehatan, serta manufaktur berbasis pasar domestik juga tetap solid.

"Pada 2026, konsumsi rumah tangga akan didukung oleh membaiknya kepercayaan konsumen, stimulus pemerintah, serta kenaikan upah minimum. Selain itu, secara historis perekonomian kerap bergantung pada faktor musiman," tulis Bank Mandiri dalam EconMark: 2026 Indonesia Economic Outlook: Regaining Traction

Ramadan dan Idulfitri akan berlangsung pada kuartal I-2026 sehingga berpotensi memberikan dorongan awal bagi pertumbuhan ekonomi.

 

Mandiri Spending IndexFoto: Mandiri Institute
Mandiri Spending Index

Indeks big data BCA menunjukkan belanja masyarakat sangat bergantung pada stimulus fiskal. Tertahannya belanja pemerintah pada awal 2025 sempat menekan daya beli, sementara ketidakpastian kebijakan membuat rumah tangga dan dunia usaha bersikap lebih hati-hati.

Data Big Data BCA menunjukkan bahwa belanja terutama didorong oleh rumah tangga yang lebih sejahtera, yang menguasai porsi likuiditas yang signifikan dan karenanya menjadi faktor penentu.

Konsumsi kelompok berpendapatan rendah juga mulai meningkat, didukung oleh berbagai stimulus pemerintah yang berfokus pada konsumsi.

 

BCA consumer
spending indexFoto: BCA
BCA consumerspending index

 

Inflasi relatif terkendali dan mendekati 3%, dengan berbagai intervensi pemerintah menahan harga pangan. Namun risiko tetap ada, terutama dari cuaca ekstrem dan potensi kenaikan permintaan akibat program besar pemerintah yang bisa memicu tekanan harga ke depan.

Kinerja ekspor masih bisa menjadi penopang utama ekonomi Indonesia sepanjang 2025, ditopang keunggulan tarif. Namun, untuk 2026, ekspor tertentu masih dibayangi risiko perang dagang dan ketegangan geopolitik global. 

Dari sisi investasi, kebijakan tarif AS yang berimbas ke China diharapkan bisa membuat banyak perusahaan menanamkan investasi di Indonesia guna mencari tarif lebih rendah. Peran Daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam menggenjot investasi juga diperkirakan makin besar.

Investasi mulai bergerak naik menjelang akhir tahun, seperti tercermin dalam kredit perbankan. Pertumbuhan kredit perbankan kembali menunjukkan kenaikan pada November 2025 yakni tercatat meningkat menjadi 7,9% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang tumbuh 7,0% (yoy)


Akselerasi pertumbuhan kredit perbankan salah satunya ditopang oleh Kredit Investasi (KI) yang tampil sebagai motor utama pertumbuhan.

Kredit investasi tercatat tumbuh 17,8% secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 15,0% (yoy). Laju ini jauh melampaui pertumbuhan kredit secara keseluruhan yang berada di 7,9% (yoy).

Kuatnya pertumbuhan kredit investasi mengindikasikan bahwa penyaluran kredit perbankan semakin bergeser ke pembiayaan jangka panjang, khususnya untuk mendukung ekspansi usaha dan penambahan kapasitas produksi.

Kredit investasi sendiri merupakan pinjaman berjangka panjang yang digunakan untuk membiayai aset tetap dan proyek produktif, seperti pembangunan pabrik, pembelian mesin baru, renovasi besar, hingga ekspansi cabang, dengan tenor yang umumnya berkisar antara 1 hingga 15 tahun.

Peran Fiskal
Peran belanja pemerintah masih akan sangat strategis di 2026, melalui beragam program prioritas seperti Makanan Bergizi Gratis (MGB), ketahanan pangan, hingga program 3 juta rumah.

BCA dalam 2026 Indonesia Economic Outlook Inching towards higher growth mengingatkan apa yang terjadi di 2025 menunjukkan belanja pemerintah yang lebih cepat dan efektif terbukti membantu memulihkan kepercayaan sektor swasta. Karena itulah, pemerintah diharapkan bisa segera mengakselerasi belanja sejak awal tahun.

Namun, penurunan tajam transfer ke daerah yang diproyeksikan terjadi pada 2025 mulai memicu kekhawatiran baru. Ruang gerak pemerintah daerah untuk menjaga belanja diskresioner, termasuk subsidi, berpotensi menyempit.

Ketika aliran dana transfer mengecil, pemerintah daerah mau tak mau didorong mencari sumber pendapatan alternatif demi menjaga keberlanjutan layanan publik. Tekanan ini berpotensi muncul dalam bentuk kenaikan pajak daerah, penyesuaian tarif utilitas, hingga berbagai pungutan layanan lain yang langsung menambah beban pengeluaran masyarakat.

Pada akhirnya, langkah-langkah tersebut berisiko menggerus daya beli rumah tangga.

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang 2025 harus berakhir dengan performa yang kurang menguntungkan bagi rupiah.

Sepanjang tahun, rupiah berada di bawah tekanan dan terkoreksi sebesar 3,60% secara kumulatif, di tengah ketidakpastian global yang tinggi serta dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional yang terus berubah.

Merujuk data Refinitiv, pada awal tahun kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp16.090/US$, namun pada hari terakhir perdagangan 2025, yakni Rabu (31/12/2025), rupiah ditutup di posisi Rp16.670/US$. Dengan demikian, secara total rupiah kehilangan nilai sekitar Rp580 per dolar AS sepanjang tahun.

Salah satu episode paling dramatis dalam perjalanan rupiah di sepanjang 2025 terjadi pada 8 April 2025.

Rupiah terperosok ke titik terlemahnya sepanjang 2025, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif. Kebijakan ini diumumkan pertama kali pada 2 April 2025 dan langsung memicu gejolak di pasar keuangan global, termasuk tekanan tajam terhadap nilai tukar rupiah.

Merujuk data Refinitiv, pada Selasa (8/4/2025), rupiah ditutup melemah signifikan sebesar 1,84% ke level Rp16.850/US$. Ini menjadi salah satu pelemahan harian terdalam tahun ini.

Indonesia awalnya dikenai tarif resiprokal hingga 32% karena besarnya defisit perdagangan AS ke Indonesia. Pada 2 April 2025, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif global dengan dasar 10% untuk semua impor dan bea masuk yang jauh lebih tinggi untuk beberapa mitra dagang terbesar AS.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran serius di pasar keuangan, karena menandai babak baru dalam perang dagang global. Investor asing mulai menarik diri dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memicu aliran modal keluar serta meningkatnya volatilitas rupiah.

Namun, masa awal pengumuman resiprokal tarif tersebut baru awal mula, karena setelah itu, rupiah sempat menguat sebentar sebelum akhirnya kembali melemah hingga mencatatkan level terlemah rupiah pada 24 April 2025.

Pada saat itu, rupiah ditutup di level Rp16.865/US$ yang menjadi titik terlemah rupiah di sepanjang 2025. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 16.970/US$ pada 9 April 2025 pukul 09.40 WIB. Rupiah pun ada di posisi terlemah intraday sepanjang masa.

Melihat Tantangan di 2026

Memasuki 2026, prospek pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dibayangi sejumlah tantangan yang bersumber dari faktor eksternal maupun domestik. Tiga aspek utama yang akan sangat menentukan arah nilai tukar rupiah pada tahun ini adalah kebijakan suku bunga The bank sentral AS (The Federal Reserve /The Fed), proses transisi kepemimpinan bank sentral AS, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia.

Arah Suku Bunga The Fed 2026

Prospek arah suku bunga The Federal Reserve pada 2026 masih menjadi perhatian utama pelaku pasar setelah bank sentral AS merilis risalah pertemuan Desember 2025 beserta rangkaian proyeksi ekonomi terbarunya dalam Summary of Economic Projections (SEP).

Hasilnya menunjukkan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga pada pertemuan 9-10 Desember bukanlah keputusan yang sepenuhnya bulat, melainkan hasil kompromi di tengah perdebatan panjang mengenai risiko inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Dalam risalah pertemuan FOMC tersebut, menyetujui pemangkasan suku bunga dengan posisi 9 suara setuju dan 3 menolak, yang menjadi jumlah perbedaan pendapat terbanyak sejak 2019.

Keputusan itu menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,5%-3,75%. Sejumlah anggota FOMC menilai langkah pelonggaran diperlukan untuk menopang aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja, sementara sebagian lainnya masih khawatir bahwa proses penurunan inflasi belum sepenuhnya konsisten.


Gambaran arah kebijakan moneter menjadi lebih jelas. Berdasarkan median proyeksi FOMC, inflasi PCE diperkirakan turun dari 2,9% pada 2025 menjadi 2,4% pada 2026, sementara tingkat pengangguran diperkirakan berada di kisaran 4,4% dengan pertumbuhan ekonomi tetap moderat di 2,3%.

Dengan proyeksi makroekonomi seperti itu, mayoritas anggota FOMC memandang ruang pelonggaran moneter pada 2026 tetap terbuka, selama proses penurunan inflasi berlangsung sesuai proyeksi.

Hal tersebut tercermin dalam dot plot The Fed. Dari 19 pejabat yang memberikan proyeksi, sebanyak 12 anggota memandang suku bunga masih perlu diturunkan lagi pada 2026, dan satu anggota memperkirakan tambahan pemangkasan lanjutan pada 2027.

Dot Plot (Desember 2025)Foto: The Federal Reserve
Dot Plot (Desember 2025)

Median proyeksi federal funds rate menunjukkan level 3,6% pada 2025, turun menjadi 3,4% pada 2026, dan kembali melemah ke 3,1% pada 2027, sebelum mendekati kisaran jangka panjang sekitar 3%.

The Fed juga mencermati dampak kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump, yang sempat meningkatkan tekanan harga dan menambah risiko pada jalur inflasi. Namun, sebagian besar anggota FOMC menilai dampak tarif tersebut bersifat sementara dan kemungkinan akan mereda memasuki 2026, sehingga tidak sepenuhnya mengubah arah kebijakan moneter jangka menengah.

Bagi pasar keuangan global termasuk Indonesia, arah kebijakan tersebut berpotensi menekan indeks dolar AS (DXY) dan membuka ruang arus masuk modal ke emerging markets, tetapi pada saat yang sama menyisakan risiko volatilitas apabila ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed sirna.

Ketidakpastian Pengganti Jerome Powell

Selain arah suku bunga, tantangan lain yang turut membayangi pasar keuangan global pada 2026 adalah isu suksesi kepemimpinan The Fed.

Masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026, dan Presiden Trump diperkirakan akan mengumumkan penggatinya pada Akhir Januari ini. Penentuan penggantinya menjadi perhatian besar para pelaku pasar karena dapat memengaruhi arah dan karakter kebijakan moneter AS ke depan.

Proses pemilihan ketua The Fed tidak hanya dipandang dari sisi siapa nya, tetapi juga dari aspek independensi bank sentral.

Kekhawatiran muncul bahwa preferensi politik dapat memengaruhi kebijakan suku bunga, terutama setelah Presiden Donald Trump beberapa kali menyuarakan keinginan agar suku bunga dipangkas lebih agresif.

Sejumlah nama pun mencuat sebagai kandidat potensial, di antaranya Kevin Hassett yang kerap disebut sebagai kandidat terkuat, serta Christopher Waller dan Kevin Warsh yang juga masuk dalam radar pasar.

Perdebatan mengenai sosok pengganti Powell tidak terlepas dari pertanyaan apakah ketua The Fed berikutnya akan lebih agresif dalam mendorong penurunan suku bunga, atau justru memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dan tetap berpegang pada pendekatan berbasis data.

Di sisi lain, proses di Senat diperkirakan akan berlangsung ketat dan berpotensi menimbulkan ketidakpastian tambahan di pasar keuangan global, terutama apabila muncul perbedaan pandangan terkait independensi kebijakan moneter.

Bagi rupiah, ketidakpastian terkait transisi kepemimpinan ini berpotensi meningkatkan sensitivitas pasar terhadap setiap isyarat kebijakan The Fed. Perubahan persepsi pasar mengenai arah suku bunga dapat memicu fluktuasi yang lebih besar pada indeks dolar AS, yang pada akhirnya berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah.

Arah Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia

Dari sisi domestik, prospek rupiah pada 2026 juga akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Sepanjang 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 125 basis poin (bps) secara kumulatif melalui lima kali pemangkasan yang berlangsung pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September 2025.

Pada Rapat Dewan Gubernur 17 September 2025, BI kembali memangkas suku bunga sebesar 25 bps sehingga BI-Rate turun menjadi 4,75%, sementara suku bunga Deposit Facility diturunkan ke 3,75% dan Lending Facility menjadi 5,50%. Setelah pemangkasan tersebut, BI memilih untuk menahan suku bunga hingga akhir 2025.

BI menegaskan bahwa langkah pelonggaran tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah melalui bauran kebijakan moneter dan penguatan koordinasi dengan pemerintah.

Di tengah stabilitas inflasi yang terjaga dan kondisi eksternal yang mulai lebih kondusif, ruang pelonggaran suku bunga dinilai masih terbuka pada 2026.

Dengan demikian, kebijakan BI pada 2026 diperkirakan akan memainkan peran penting sebagai penyeimbang dinamika global, khususnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Proyeksi Rupiah di 2026

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 14 institusi/lembaga, nilai tukar rupiah pada 2026 diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp16.622/US$ secara rata-rata, dengan nilai median sebesar Rp16.650/US$.

Untuk proyeksi nilai tukar pada akhir tahun, median konsensus berada di level Rp16.697/US$, sementara rata-rata proyeksi penutupan tahun berada di kisaran Rp16.528/US$.

Sementara itu, target pemerintah melalui asumsi makro dalam APBN 2026 menetapkan proyeksi nilai tukar rupiah pada level Rp16.500/US$, yang berada relatif dekat dengan kisaran proyeksi konsensus pasar.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan bahwa rata-rata nilai tukar rupiah pada 2026 akan bergerak di kisaran Rp16.430/US$.

Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan rata-rata pergerakan kurs hingga akhir 2025 yang berada di kisaran Rp16.440/US$, dan jauh di atas target yang tercantum dalam Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025 sebesar Rp15.285/US$.

"Nilai tukar rupiah rata-ratanya Rp16.430, hampir sama dengan prognosa Rp16.440," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat tahun 2025 sebagai momen kejayaan, meskipun banyak drama. Optimisme ini dinilai masih akan lanjut pada 2026 oleh sejumlah analisis, bahkan target-nya bisa tembus 10.000.

Sepanjang 2025, IHSG mencatat kinerja ciamik dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa alias All Time High (ATH) sebanyak 24 kali.

Rekor paling anyar terukir pada 8 Desember 2025, ketika IHSG menyentuh level 8.710,69, sekaligus mendongkrak kapitalisasi pasar (market cap) Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus Rp 16.000 triliun untuk pertama kalinya. Secara bulanan IHSG berhasil selalu di tutup positif selama enam bulan beruntun.

Perjalanan IHSG pada tahun ini kalau diungkapkan dengan perbahasa bisa dibilang seperti "bersusah-susah dahulu dan bersenang-senang kemudian" karena pada paruh pertama IHSG harus rela ditutup koreksi bahkan sempat kena trading halt sampai dua kali membuatnya ambles ke bawah 6000, tetapi paruh kedua menjadi periode kebangkitan sampai kesuksesan menuju level tertinggi baru.

Mulai dari paruh pertama 2025 dulu, IHSG mengakhiri posisi dengan koreksi sekitar 2,15%. Meskipun koreksi ini terbatas, tetapi pergerakan indeks keseluruhan saham RI ini sangat volatile.

Pelaku pasar dibuat dag dig dug bagai menaiki roller coaster, apalagi sempat kena trading halt atau pemberhentian sementara dua kali yang membuat IHSG terjun ke bawah 6000 karena berbagai drama, mulai dari tensi perang di Timur Tengah, tarif resiprokal Trump, sampai persoalan internal yang mengakumulasi ketidakpercayaan masyarakat hingga memicu demo.

Momen Penuh Drama IHSG : Trading Halt 2 Kali

Trading halt pertama terjadi pada 18 Maret 2025, waktu itu IHSG anjlok sampai 5,03% jelang berakhirnya sesi pertama perdagangan. Kejadian ini tercatat sebagai trading halt yang pertama terjadi lagi sejak pandemi memukul RI pada 2020 silam.

Sejumlah analis menilai koreksi tajam IHSG waktu itu akibat panic selling investor, sebagian juga menyebut karena dipicu mundur-nya Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Selain itu, sentimen negatif juga datang dari penurunan peringkat pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs yang menilai risiko fiskal meningkat di bawah pemerintahan baru.

Goldman pada waktu itu juga menurunkan peringkat saham RI dari overweight menjadi market weight serta menurunkan rekomendasi surat utang BUMN tenor panjang menjadi netral.

Trading halt kedua kemudian terjadi pada pada 8 April 2025, waktu itu IHSG langsung ambles di awal perdagangan sampai 9,19% menuju level ke bawah 6000.

Sebagai catatan, 8 April adalah perdagangan pertama setelah IHSG libur panjang Lebaran Idul Fitri. Di tengah libur panjang. Presiden AS mengumumkan perang dagang pada 3 April sehingga dampaknya baru terasa setelah IHSG dibuka lagi.

BEI pada Selasa, 8 April 2025 bahkan langsung melakukan tindakan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pukul 09:00:00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).

Pada akhir Maret hingga awal April 2025, muncul kekhawatiran serius bahwa Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan tarif impor yang luas, termasuk tarif timbal-balik terhadap semua negara.

Trump pun akhirnya memberlakukan tarif resiprokal terhadap beberapa negara mitra dagangnya dengan tarif yang cukup tinggi. Hal ini pun mendorong kekhawatiran pelemahan ekonomi sehingga mendorong kejatuhan pasar saham.

Momen Kebangkitan - Kesuksesan IHSG : Purbaya Effect - Aksi Konglo

IHSG kemudian mencatat kebangkitan signifikan setelah sempat tertekan oleh koreksi tajam dan dua kali trading halt. Sejak awal April hingga awal Juni 2025, indeks berhasil pulih sekitar 20% dan kembali menembus level 7.000, menandai kembalinya kepercayaan pelaku pasar.

Perbaikan sentimen global, meredanya ekspektasi pengetatan suku bunga di Amerika Serikat, serta menurunnya eskalasi konflik dagang menjadi faktor awal yang meredakan tekanan risiko.

Di tengah arus keluar dana asing, investor domestik berperan sebagai penopang utama dengan memanfaatkan valuasi saham yang dinilai masih menarik.

Momentum penguatan semakin solid seiring kebijakan moneter yang lebih longgar. Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan secara bertahap sepanjang 2025, yang menurunkan biaya modal dan meningkatkan daya tarik investasi saham. Rebound pasar juga diperkuat oleh aksi short covering ketika tren penguatan mulai terbentuk.

Memasuki paruh kedua tahun ini, IHSG untuk pertama kalinya menembus level 8.000 pada Agustus 2025, didorong kombinasi pemangkasan suku bunga lanjutan, surplus neraca perdagangan yang kuat, serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global.

Reli berlanjut hingga IHSG mencetak rekor di atas 8.200 pada September, seiring hadirnya Menteri Keuangan baru Purbaya Yudhi Sadewa yang dinilai membawa komunikasi kebijakan yang pro-pasar. Sentimen positif dari pemerintah, stimulus ekonomi, serta pernyataan optimistis mengenai pasar modal memperkuat kepercayaan investor, yang kemudian dikenal sebagai "Purbaya Effect". Meski sempat diwarnai volatilitas akibat kembali memanasnya tensi dagang global, IHSG mampu bangkit dan menutup tahun dengan tren penguatan.

Menjelang akhir 2025, arus dana asing kembali masuk seiring rebalancing indeks MSCI dan masuknya sejumlah saham Indonesia ke indeks global.

Di saat yang sama, maraknya aksi korporasi konglomerasi, mulai dari akuisisi, restrukturisasi, hingga konsolidasi bisnis, memperkuat narasi ekspansi jangka panjang.

Kombinasi faktor kebijakan, arus modal, serta aksi konglomerasi inilah yang mengantarkan IHSG menuju rekor-rekor baru dan menegaskan kesuksesan pasar saham Indonesia sepanjang 2025.

Proyeksi IHSG 2026 Tembus 10.000

Dengan optimisme pasar yang masih terjaga sampai penghujung 2025, sejumlah sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan tren positif pada 2026, bahkan target optimis-nya bisa cetak rekor menembus level 10.000.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia, misalnya, melihat peluang IHSG menembus level 10.500 pada 2026. Mirae menilai penguatan pasar saham didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta ruang kebijakan moneter yang masih longgar. Mereka menilai BI Rate masih berpotensi dipangkas hingga 50 basis poin pada 2026, yang dapat menjadi katalis positif bagi pasar ekuitas.

Pandangan yang relatif optimistis juga datang dari Valbury Sekuritas, yang memasang target IHSG di level 10.130, serta Samuel Sekuritas yang menargetkan IHSG di 9.400 dengan skenario bullish mencapai 10.600, terutama ditopang oleh sektor perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sektor telekomunikasi melalui PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan consumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Di sisi lain, pendekatan yang lebih berhati-hati ditunjukkan oleh CIMB yang memproyeksikan IHSG 9.500 pada akhir 2026. CIMB menyoroti bahwa ekspektasi penurunan suku bunga global atau kebijakan bank sentral negara maju yang lebih akomodatif dapat menurunkan biaya utang luar negeri dan menopang arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, mereka mengingatkan bahwa risiko fiskal Amerika Serikat (AS), akibat beban utang yang besar, berpotensi memicu kenaikan yield obligasi AS, penguatan dolar, serta arus modal keluar dari emerging markets. Kondisi tersebut dapat menekan rupiah dan memicu tekanan inflasi impor.

Sementara itu, FAC Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 9.200-9.400 dalam skenario bullish, dengan sektor pilihan meliputi consumer non-cyclicals, financials, telekomunikasi berbasis data infrastructure, serta basic materials khususnya mineral dan logam. Pandangan ini sejalan dengan konsensus yang menilai sektor-sektor defensif dan berorientasi kebutuhan dasar masih menjadi jangkar utama pasar.

Selanjutnya ada Mega Capital Sekuritas yang memproyeksikan IHSG di kisaran 9.323, dengan asumsi laba per saham (EPS) sebesar 650,6 dan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) forward di level 14,33 kali. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata PER IHSG dalam lima tahun terakhir.

Proyeksi Mega Capital Sekuritas tersebut juga mendapat konfirmasi dari sisi teknikal. Secara charting, area target tersebut berdekatan dengan level Fibonacci extension 2,618 yang berada di sekitar 9.200, sehingga memperkuat validitas target jangka menengah hingga panjang.

Dari sisi sentimen, arus dana asing yang kembali mengalir deras ke pasar saham Indonesia menjadi salah satu penopang utama. Selain itu, sejumlah emiten diproyeksikan masuk ke dalam indeks MSCI pada 2026, yang berpotensi meningkatkan bobot Indonesia di MSCI dan menarik aliran dana pasif tambahan.

Valuasi saham perbankan yang saat ini masih tergolong murah juga menjadi katalis penting, mengingat rasio valuasinya berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir. Kehadiran Danantara sebagai kendaraan investasi nasional, serta rencana BPJS Ketenagakerjaan untuk meningkatkan porsi investasi di instrumen saham, dinilai dapat memperkuat partisipasi investor domestik dan menambah daya dorong bagi IHSG ke depan.

Pilarmas Investindo Sekuritas juga memproyeksikan IHSG tetap di zona positif bergerak di kisaran 9.435 hingga 9.720 pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan pandangan optimistis moderat, dengan asumsi stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga, bauran kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung, serta peran likuiditas domestik sebagai penyangga pergerakan pasar di tengah dinamika global.

Kemudian ada Sinarmas Sekuritas secara eksplisit menaikkan target IHSG untuk proyeksi pada 2026 mendatang ke level 9.900, dengan asumsi valuasi forward P/E sekitar 16,5 kali atau sekitar +1 standar deviasi di atas rata-rata historis.

Optimisme ini didorong oleh perbaikan momentum ekonomi, potensi kembalinya arus dana asing ke saham berkapitalisasi besar, serta dukungan kebijakan makro yang dinilai masih konstruktif.

Sementara itu, Ciptadana Sekuritas menjadi salah satu pihak konservatif dengan base case IHSG di 8.960, mencerminkan sikap hati-hati terhadap volatilitas global dan risiko eksternal yang masih membayangi pasar keuangan.

Mega Capital Sekuritas juga memiliki pandangan konservatif juga mengingat pada awal 2025 ada risiko terkait pengetatan aturan free float MSCI, berpotensi memicu dana asing keluar. Bear case scenario IHSG diperkirakan bisa mencapai 7910.

CNBC Indonesia Research merekap target IHSG pada 2026 dari beberapa sekuritas sebagai berikut :

Ketidakpastian ekonomi global yang masih menyelimuti pasar keuangan menuntut pelaku pasar untuk lebih cermat dalam memetakan sektor-sektor potensial.

Kombinasi antara kebijakan moneter bank sentral dunia, tensi geopolitik yang belum mereda, hingga perubahan struktural dalam kebutuhan teknologi dan gaya hidup masyarakat menjadi katalis utama pergerakan arus modal di masa depan.

Berdasarkan dinamika makroekonomi dan sentimen domestik terkini, terdapat tiga sektor yang dinilai memiliki daya tahan serta potensi pertumbuhan yang relevan dengan kondisi zaman, yakni sektor komoditas emas, energi terbarukan, dan kesehatan.

Kilau Emas di Tengah Ekspansi Moneter dan Geopolitik

Sektor yang berkaitan dengan emas kembali menjadi sorotan utama di tengah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kembali melakukan pelonggaran kuantitatif atau Quantitative Easing (QE).

Kebijakan ini, yang identik dengan peningkatan jumlah uang beredar, secara historis cenderung menekan nilai mata uang fiat dan membuat aset riil seperti emas menjadi lebih menarik sebagai pelindung nilai (hedging).

Selain faktor kebijakan moneter, tensi geopolitik di berbagai wilayah dunia turut mendorong bank sentral di banyak negara untuk mendiversifikasi cadangan devisa mereka. Aksi akumulasi emas fisik oleh bank sentral global tercatat terus meningkat sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakstabilan politik dan ekonomi.

Secara historis, emas dikenal sebagai aset safe haven. Logam mulia ini biasanya baru akan mengalami tekanan jual atau pelemahan signifikan apabila terjadi krisis likuiditas yang sangat dalam atau koreksi pasar yang ekstrem, di mana pelaku pasar terpaksa melikuidasi seluruh aset, termasuk emas, demi mendapatkan uang tunai. Namun, dalam kondisi ketidakpastian yang bersifat inflatoir atau geopolitik, emas cenderung menjadi tujuan utama aliran dana.

emasFoto: emas
emas

Revolusi AI dan Transisi Energi Terbarukan

Sektor kedua yang mendapatkan momentum besar adalah energi, khususnya energi baru terbarukan (EBT). Hal ini tidak lepas dari ledakan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membutuhkan daya komputasi masif.

Keberadaan pusat data (data center), pabrik semikonduktor, dan infrastruktur penunjang AI diproyeksikan akan mendongkrak kebutuhan energi dunia secara signifikan.

Beberapa proyeksi menyebutkan bahwa dalam kurun waktu 20 hingga 30 tahun mendatang, kebutuhan energi global dapat melonjak hingga lebih dari 100 kali lipat dibandingkan saat ini.

Mengingat sumber daya energi fosil yang memiliki keterbatasan cadangan dan isu emisi karbon, fokus pembangunan infrastruktur energi perlahan bergeser ke arah energi terbarukan.

Di pasar domestik, sektor ini juga didukung oleh struktur investor yang telah berubah. Dominasi investor ritel yang kini mencapai 50% dari total transaksi harian membuat pasar lebih responsif terhadap narasi masa depan yang berkelanjutan.

Sentimen terkait pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) berbasis energi hijau kerap menjadi penggerak utama volatilitas dan minat beli di kalangan pelaku pasar ritel. Transisi ini dinilai bukan hanya soal tren sesaat, melainkan kebutuhan infrastruktur mendasar untuk menopang era digital.

Sektor Kesehatan: Kesadaran Pasca-Pandemi dan Faktor Lingkungan

Sektor kesehatan (healthcare) menjadi perhatian ketiga mengingat adanya aliran likuiditas besar yang mulai masuk ke emiten-emiten terkait. Fundamental sektor ini didukung oleh perubahan perilaku masyarakat pasca-pandemi COVID-19 yang signifikan.

Masyarakat kini memiliki tingkat kesadaran kesehatan (health awareness) yang jauh lebih tinggi dibandingkan era pra-pandemi. Fenomena ini terlihat jelas dari menjamurnya tren gaya hidup aktif. Olahraga seperti lari (jogging), badminton, tenis, golf, hingga olahraga yang sedang tumbuh pesat seperti padel, kini memiliki basis peminat yang sangat besar.

Peningkatan aktivitas fisik ini secara tidak langsung mendorong ekosistem kesehatan, mulai dari permintaan suplemen preventif, layanan fisioterapi, hingga pemeriksaan kesehatan berkala (medical check-up) untuk menunjang performa fisik.

Selain faktor gaya hidup, sisi demografis dan lingkungan juga memegang peranan penting. Tren populasi menua (aging population) di Indonesia meningkatkan kebutuhan layanan geriatri secara alami.

Di sisi lain, kondisi iklim, anomali cuaca, serta kualitas udara di wilayah Jabodetabek dan Pulau Jawa yang kerap memburuk menjadi pemicu tingginya kasus penyakit pernapasan (ISPA). Ditambah dengan kondisi geografis yang rawan bencana alam, kesiapan infrastruktur kesehatan menjadi kebutuhan mendesak yang tak terelakkan.

Dukungan pemerintah juga terlihat dari sisi fiskal. Program "Asta Cita" yang mencanangkan anggaran kesehatan hingga level Rp 244 triliun menjadi katalis positif bagi industri ini. Besarnya alokasi dana tersebut diharapkan dapat menstimulasi kinerja emiten farmasi dan rumah sakit melalui peningkatan akses dan fasilitas kesehatan yang lebih merata.

Ketiga sektor ini menggambarkan bagaimana arus investasi tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan semata, melainkan juga oleh perubahan makroekonomi global, revolusi teknologi, dan transformasi gaya hidup masyarakat modern.

Emiten Pilihan di Tengah Momentum Sektoral

Merespons potensi besar dari sektor komoditas emas, transisi energi, kesehatan, hingga infrastruktur teknologi tersebut, pelaku pasar mulai mencermati sejumlah emiten yang dinilai memiliki fundamental solid dan katalis pertumbuhan yang relevan.

Berdasarkan analisis kinerja dan sentimen terkini, berikut adalah lima saham yang menjadi sorotan:

Archi Indonesia Tbk (ARCI)

Emiten tambang emas ini menarik perhatian karena mencatatkan nilai penjualan emas yang tinggi, sejalan dengan tren harga komoditas global.

Menariknya, valuasi saham ARCI saat ini dinilai masih tergolong moderat dibandingkan rata-rata industri, sehingga memberikan ruang pertumbuhan yang cukup atraktif di tengah siklus bullish emas.

Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)

Fokus pasar pada ADMR tertuju pada operasional smelter aluminium. Dengan harga aluminium dunia yang sedang menanjak dan bertahan di level tinggi, perseroan diuntungkan karena mampu menjual produk hasil tambang dengan nilai jual lebih mahal.

Hal ini berdampak positif pada pelebaran margin operasional perusahaan dibandingkan sekadar menjual bahan mentah.

Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Raksasa telekomunikasi ini mendapatkan momentum dari arus dana asing (inflow) yang mulai melakukan akumulasi. Katalis utama datang dari kabar rencana penawaran umum perdana (IPO) anak usaha yang bergerak di bidang pusat data (data center).

Aksi korporasi ini dinilai strategis mengingat kebutuhan infrastruktur data di era AI, sekaligus membuka potensi nilai aset infrastruktur masif yang dimiliki Telkom Group.

TelkomFoto: Dok: Telkom

Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Sebagai BUMN tambang, ANTM memiliki diversifikasi pendapatan yang solid dari penjualan emas, nikel, alumina, hingga perak, yang bermuara pada perolehan laba bersih (net profit) yang cukup tinggi.

Selain itu, sentimen pembentukan badan pengelola investasi Danantara yang mendorong BUMN untuk membagikan dividen besar, menempatkan ANTM sebagai salah satu kandidat emiten penebar dividen jumbo di masa mendatang.

Siloam International Hospitals Tbk (SILO)

Di sektor kesehatan, SILO menunjukkan perbaikan kinerja yang konsisten. Valuasi saham saat ini berada pada kisaran Price to Earning Ratio (PER) 29 kali dan Price to Book Value (PBV) 2,7 kali.

Sentimen positif diperkuat oleh data pertumbuhan trafik kunjungan rumah sakit (traffic growth) yang kembali mengalami peningkatan signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2024, menandakan pulihnya volume pasien.

Rekomendasi dari Sekuritas

Selain mencermati pergerakan emiten secara spesifik, pandangan dari perusahaan sekuritas juga menjadi referensi penting dalam melihat arah pasar ke depan. Tuntun Sekuritas dan Mega Capital Sekuritas memberikan sorotan khusus pada sektor perbankan, manufaktur, konsumer, dan tren diversifikasi komoditas.

Tuntun Sekuritas: Perbankan dan Manufaktur sebagai Motor Ekonomi

Tuntun Sekuritas menilai sektor perbankan masih menjadi proksi utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagai jantung perekonomian, kinerja perbankan diproyeksikan berjalan beriringan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi, permintaan kredit dari dunia usaha diperkirakan akan meningkat. Selain volume kredit, potensi penurunan suku bunga acuan secara bertahap juga menjadi katalis positif yang dapat menurunkan biaya dana (cost of funds), sehingga marjin keuntungan perbankan tetap terjaga sehat selama manajemen risiko kredit dikelola dengan baik.

Di sisi lain, sektor manufaktur mendapatkan momentum dari kebijakan pemerintah yang gencar mendorong substitusi impor dan penguatan industri dalam negeri. Hal ini tercermin dari data Purchasing Managers' Index (PMI) yang ekspansif. Tuntun Sekuritas menyarankan pelaku pasar untuk fokus pada perusahaan manufaktur yang memiliki rantai pasok kuat di pasar domestik, karena emiten inilah yang paling diuntungkan dari perputaran ekonomi lokal.

Tuntun juga mempunyai Concept Sector , dimana Tuntun menyajikan beragam riset yang mendalam terhadap Individual Stocks, serta riset industri.

Mega Capital Sekuritas: Angin Segar Konsumer dan Diversifikasi Emas

Mega Capital Sekuritas menyoroti potensi kebangkitan sektor konsumer, khususnya pada sub-sektor perunggasan (poultry) dan rokok (cigarette), serta tren emiten batubara yang merambah emas.

Pada sektor poultry, kenaikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan melonjak dari Rp 71 triliun pada 2025 menjadi Rp 335 triliun pada 2026 menjadi katalis utama. Hal ini berimplikasi positif terhadap permintaan ayam dan telur yang lebih stabil dan terjamin.

Peningkatan ini berpotensi memperbaiki utilisasi di sepanjang rantai nilai, mulai dari pembibitan hingga pemrosesan. Meski demikian, risiko terkait sentralisasi proyek dan standar keamanan pangan tetap perlu diwaspadai agar tidak menjadi sentimen negatif di kemudian hari.

Sementara untuk sektor rokok, sentimen positif datang dari kepastian tidak adanya kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan Harga Jual Eceran (HJE) pada tahun 2026. Kebijakan ini, ditambah dengan pemberantasan rokok ilegal, diprediksi dapat mendongkrak volume produksi emiten legal.

Secara teknikal, pergerakan saham rokok juga mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah (reversal) dari tren penurunan, didukung oleh peningkatan volume transaksi.

Terakhir, Mega Capital juga menyoroti fenomena diversifikasi emiten batubara ke emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan The Fed yang menguntungkan harga emas, emiten batubara yang mulai agresif mengalokasikan belanja modal (Capex) ke tambang emas dinilai menarik.

Langkah ini dianggap strategis karena emas dinilai lebih ramah investasi (bankable) secara jangka panjang dibandingkan batubara yang menghadapi tekanan isu lingkungan (ESG) dan pendanaan yang semakin selektif.

Bank Mandiri

Bank Mandiri menjelaskan pertumbuhan ekonomi sektoral terutama didorong oleh sektor-sektor berbasis mobilitas dan pengalaman (mobility and experience-based sectors). Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 ditopang oleh konsumsi yang berkaitan dengan mobilitas dan pengalaman, seperti transportasi, hotel, restoran, serta layanan lainnya seperti hiburan, yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas pariwisata dan rekreasi.

Sektor-sektor ini menunjukkan tren pertumbuhan tinggi yang konsisten dalam empat tahun terakhir. Kami meyakini pola pertumbuhan tersebut akan berlanjut, sejalan dengan tren historis yang ada. Oleh karena itu, kami memperkirakan sektor transportasi, hotel, restoran, dan jasa lainnya akan tumbuh sekitar 8%-9% pada 2026. Kelompok usia muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, menjadi pendorong utama permintaan yang menopang pertumbuhan sektor-sektor berbasis pengalaman ini.

Selain itu, kami juga memperkirakan bahwa pada 2026 dan dalam jangka menengah, sektor telekomunikasi dan kesehatan akan tetap menjadi sektor yang menjanjikan. Peningkatan permintaan akan terus menjadi pendorong utama pertumbuhan di kedua sektor tersebut.


Sektor prospektifFoto: Bank Mandiri
Sektor prospektif

Secara khusus, kebutuhan terhadap lalu lintas data di sektor telekomunikasi tengah mengalami lonjakan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk aktivitas bisnis. Tren ini mengindikasikan pertumbuhan yang signifikan di sektor telekomunikasi dan sektor terkait lainnya, termasuk infrastruktur telekomunikasi dan manufaktur elektronik.

Sejalan dengan itu, kebutuhan akan layanan kesehatan yang lebih baik juga terus meningkat, yang mengisyaratkan pertumbuhan berkelanjutan di sektor kesehatan. Pendorong utama pertumbuhan ini adalah meningkatnya jumlah kelas menengah yang berlangganan asuransi kesehatan premium.

Pada 2024, jumlah peserta asuransi kesehatan swasta dan asuransi kesehatan kantor masing-masing diproyeksikan mencapai 1,5 juta dan 7,2 juta orang. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring kenaikan pendapatan per kapita. Dengan demikian, seiring meningkatnya permintaan, layanan kesehatan diperkirakan akan terus berkembang.

2025 menjadi tahun yang gemilang bagi logam mulia, banyak analis memproyeksikan momen kejayaan emas masih akan berlanjut pada 2026, bahkan diramal bisa menyentuh US$ 5000 per troy ons.

Gejolak geopolitik akan menjadi salah satu faktor berkilaunya emas. Setelah konflik panas di Timur Tengah pada 2025, emas memiliki "senjata" baru untuk terbang di awal tahun dari kisruh antara AS dan Venezuela.
Seperti diketahui, 
Presiden AS Donald Trump bersuara soal penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut Trump, penangkapan Maduro dan istrinya dilakukan serangan udara besar-besaran. Hal ini berpotensi membuat adanya turbulensi di pasar merespon ketidakstabilan geopolitik di awal tahun 2026.

Serangan ke jantung kota Venezuela, Caracas, itu membuat warga panik dan kondisi kota luluh lantak. Ia menyatakan operasi militer AS berjalan sukses dan langsung menargetkan pucuk pimpinan Venezuela untuk ditangkap dengan melibatkan penegak hukum AS.

Sebagai catatan dulu, sepanjang 2025 harga emas melonjak sekitar 64%. Harga sempat menyentuh rekor US$4.510 per ons pada malam Natal. Posisi tersebut terbang 72% dibandingkan akhir 2024, ketika emas masih berada di kisaran US$2.624 per ons. Selain karena pemangkasan suku bunga The Fed, emas juga terbang karena faktor geopolitik.

Kenaikan tersebut menjadi lonjakan tahunan terbesar bagi emas, melampaui reli 70% yang terjadi pada 1979.

"Dalam karier saya, ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata John Reade, kepala strategi di World Gold Council.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal jumlah rekor tertinggi baru, dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam kinerja emas yang melampaui ekspektasi begitu banyak orang dengan selisih yang begitu besar." terang John.

Brian Fung, CEO Hong Kong Gold Exchange memperkirakan tren kenaikan ini masih akan berlanjut pada 2026, dengan potensi harga menembus US$5.000 per ons.

Menurutnya, reli emas sepanjang 2025 didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta kebijakan tarif yang diperkenalkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Kondisi tersebut mendorong investor individu maupun bank sentral untuk mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS dan beralih ke emas sebagai aset lindung nilai.

Ia menilai faktor-faktor pendukung emas tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat. Karena itu, harga emas dinilai masih berpeluang naik lebih lanjut pada 2026.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas untuk Desember 2026 menjadi US$4.900 per ons. Analis Goldman Sachs, Lina Thomas, menyebut permintaan struktural dari bank sentral serta kebijakan pelonggaran moneter Federal Reserve AS sebagai pendorong utama.

Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan harga emas bisa mencapai US$4.500 per ons pada pertengahan 2026. Bank of America dan JPMorgan bahkan memproyeksikan harga emas akan melampaui US$5.000 per ons sebelum akhir 2026.

Menurut Fung, pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi motor utama reli harga. Selama ini, bank sentral cenderung berinvestasi pada obligasi pemerintah AS dan aset berbasis dolar.

Namun di tengah tren penurunan suku bunga dan meningkatnya ketegangan geopolitik, mereka mulai mengurangi eksposur terhadap dolar AS, dengan emas menjadi pilihan yang semakin alami.

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa pada Oktober lalu, China memangkas kepemilikan obligasi pemerintah AS ke level terendah dalam 17 tahun, turun menjadi US$688,7 miliar dari US$700,5 miliar pada September.

Di saat yang sama, China memperpanjang tren pembelian emasnya selama 13 bulan berturut-turut hingga November, dengan menambah sekitar 30.000 ons ke cadangan nasional. Total cadangan emas China kini mencapai 74,12 juta ons, dengan nilai sekitar US$310,6 miliar berdasarkan data resmi.

Di tengah reli emas global ini, pemerintah Hong Kong juga menyiapkan langkah besar pada 2026 untuk memosisikan kota tersebut sebagai pusat perdagangan komoditas dunia. Pemerintah berencana membangun ekosistem komoditas yang lebih kuat sebagai sumber pertumbuhan baru, melampaui peran tradisional sektor keuangan.

Stephen Innes, managing partner SPI Asset Management, menilai fokus investor seharusnya bukan pada apakah harga emas sudah terlalu mahal, melainkan pada peran emas itu sendiri dalam portofolio. Jika emas diperlakukan sebagai instrumen jangka pendek, maka timing menjadi sangat penting.

Namun jika emas dipandang sebagai perlindungan terhadap kesalahan kebijakan, pelemahan mata uang, atau guncangan sistemik, maka harga bukan lagi faktor utama.

Ia menambahkan bahwa emas, layaknya asuransi, dibeli bukan karena murah, melainkan karena risiko tidak memilikinya sering kali baru terasa saat sudah terlambat. Dalam konteks ini, jejak pembelian bank sentral menunjukkan bahwa para pembeli semakin tidak sensitif terhadap harga.

 

Pasar batubara dunia sepanjang 2025 tidak runtuh karena energi terbarukan atau kampanye iklim, melainkan oleh satu variabel yang lebih sederhana dan lebih kejam: pasokan tumbuh lebih cepat daripada konsumsi. Harga batu bara diramal masih sengsara di tahun ini.

Harga batu bara memang memulai tahun di level tinggi setelah perang Rusia-Ukraina tetapi seiring waktu pasar beralih dari rezim ketat menjadi rezim surplus, dan struktur harga pun kehilangan pijakannya.

Kontrak Newcastle (NCFMc2) membuka 2025 di kisaran ekstrem, US$126,55 per ton pada 2 Januari, melanjutkan momentum akhir 2024 ketika harga masih bertengger di atas US$120. Pada fase ini pasar masih digerakkan oleh memori krisis energi Eropa, musim dingin belahan utara, dan kekhawatiran geopolitik. Namun momentum tersebut mulai pudar setelah puncak US$124,45 pada 21 Januari, ketika pasar mulai menyadari bahwa produksi dunia bergerak lebih cepat daripada kebutuhan pembangkit.

Fase kedua datang pada Maret-April 2025. Harga jatuh menembus US$100 dan menyentuh area US$94-95 pada akhir April. Ini bukan reaksi terhadap permintaan yang ambruk, melainkan refleksi awal dari lonjakan pasokan, terutama dari China dan India yang menaikkan produksi domestik secara agresif.

Pada Mei hingga Juni, pasar sempat mengalami reli teknikal. Harga kembali naik ke kisaran US$110-113, didorong oleh musim panas dan kenaikan beban listrik. Namun reli ini rapuh. Stok tetap tinggi, dan volume batubara terus mengalir dari tambang ke pelabuhan.

Fase terakhir berlangsung dari Agustus hingga Desember. Setelah menyentuh puncak musiman di US$117-118 pada awal Agustus, harga terus terkikis hingga ditutup di US$106,35 pada 31 Desember 2025. Secara tahunan, ini berarti batubara Newcastle turun sekitar 16%, bukan karena kekurangan pembeli, tetapi karena kelebihan penjual.

Struktur 2025 sederhana: produksi China dan India naik, pasokan Australia lancar, Eropa jenuh, stok meningkat, harga tertekan. Batubara tidak kekurangan pembeli, batubara kelebihan penjual. Selama neraca global berada di surplus, narasi permintaan atau cuaca hanya berdampak sementara.

Proyeksi 2026, Dimulai di Rezim Surplus

Memasuki 2026, pasar batubara dunia tidak memulai dari titik netral, melainkan dari posisi "overhang", stok tinggi yang menekan setiap percikan reli. China membawa inventori pelabuhan dan pembangkit yang gemuk dari akhir 2025, sementara India sudah mengunci pasokan domestik lewat lonjakan produksi pasca-monsun.

Berdasarkan proyeksi terbaru Energy Information Administration (EIA), industri batu bara dunia kini berada di titik pembalikan siklus setelah mencapai puncaknya pada periode 2024-2025.

Dalam lima tahun ke depan hingga 2030, permintaan global diperkirakan mulai melandai, diikuti penyusutan perdagangan internasional dan penurunan produksi secara bertahap.

EIA memproyeksikan produksi batu bara global berada di kisaran lebih dari 9 miliar ton pada 2024-2025, sebelum menurun secara bertahap menjadi sekitar 8,64 miliar ton pada 2030.

Penurunan ini setara dengan kontraksi sekitar 5% dalam lima tahun yang menandai pergeseran dari fase ekspansi menuju fase penurunan paling tidak dalam jangka menengah.

Di Eropa, pergeseran struktural ke gas dan energi terbarukan membuat batubara hanya berperan sebagai cadangan, bukan tulang punggung. Kombinasi ini membuat setiap gangguan pasokan bahkan dari Australia hanya berpotensi memicu lonjakan sesaat, bukan siklus bull baru.

 

Produksi Batubara GlobalFoto: International Energy Agency (IEA),2025
Produksi Batubara Global

Dalam struktur seperti ini, harga Newcastle kehilangan fungsinya sebagai sinyal keketatan global. Kisaran US$100-110 per ton bukan lagi "murah", melainkan zona keseimbangan baru di mana surplus dan biaya marjinal bertemu.

Di atas area itu, pasokan dari Australia, Rusia, dan Indonesia akan cepat mengalir masuk, sementara pembeli Asia khususnya China akan beralih ke produksi domestik. Ini menciptakan rezim low ceiling reli bisa muncul karena cuaca atau logistik, tetapi akan cepat dipatahkan oleh neraca yang longgar.

Dalam lanskap perdagangan batu bara global yang menyusut, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak.

Selama lebih dari satu dekade, Indonesia berperan sebagai swing supplier utama di Asia, memasok kebutuhan batu bara ke pasar-pasar besar seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN.

Fleksibilitas volume ekspor Indonesia selama ini menjadikannya penyeimbang pasar ketika permintaan global melonjak. Namun, proyeksi terbaru Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa peran tersebut mulai tergerus secara struktural.

Setelah mencatat produksi sangat tinggi sebesar 836 juta ton pada 2024, produksi batu bara Indonesia diproyeksikan turun menjadi 778 juta ton pada 2025, lalu berlanjut melemah hingga sekitar 671 juta ton pada 2030. Penurunan produksi ini berjalan seiring dengan melemahnya ekspor, bukan karena keterbatasan cadangan, melainkan menyusutnya pasar internasional.

Penurunan impor China secara langsung menekan volume ekspor Indonesia yang selama ini sangat bergantung pada pasar tersebut.

Pada saat yang sama, persaingan antar produsen global semakin ketat. Australia, meskipun produksinya juga menurun, tetap mempertahankan posisi kuat di pasar batu bara berkualitas tinggi, terutama untuk kebutuhan jangka panjang.

Rusia bahkan semakin agresif mempertahankan pangsa pasar Asia dengan menawarkan diskon harga, menyusul terbatasnya akses ke pasar Eropa. Kondisi ini membuat ruang ekspor Indonesia semakin menyempit, baik dari sisi volume maupun harga.

Dengan kata lain, 2026 bukan tentang apakah harga bisa naik, tetapi berapa lama ia bisa bertahan sebelum dihantam pasokan.

Pemerintah Indonesia sendiri telah resmi menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Januari 2026.

Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No.458.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Periode Pertama Bulan Januari tahun 2026, HBA untuk semua kategori batu bara pada periode I Januari 2026 ini terpantau naik dibandingkan harga acuan pada periode II Desember 2025.

Keputusan yang ditetapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 31 Desember 2025 ini mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

"HBA untuk Periode Pertama Bulan Januari Tahun 2026 sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Patokan Batu Bara selanjutnya disebut HPB untuk Periode Pertama Bulan Januari Tahun 2026," ungkap Kepmen tersebut, dikutip Jumat (02/01/2026).

Berikut daftar HBA untuk periode pertama Januari 2026:

  • Batu Bara (6.322 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 103,30 per ton, naik dari US$ 100,81 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA ini dalam kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, Total Moisture 12,26%, Total Sulphur 0,66%, dan Ash 7,94%.

  • Batu Bara I (5.300 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 72,23 per ton, naik dari US$ 69,93 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA I dalam kesetaraan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR, Total Moisture 21,32%, Total Sulphur 0,75%, dan Ash 6,04%.

  • Batu Bara II (4.100 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 47,05 per ton, naik dari US$ 45,44 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA II dalam kesetaraan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR, Total Moisture 35,73%, Total Sulphur 0,23%, dan Ash 3,90%

  • Batu Bara III (3.400 GAR): Harga batu bara ditetapkan US$ 35,13 per ton, naik dari US$ 35,02 per ton pada periode kedua Desember 2025. HBA III dalam kesetaraan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR, Total Moisture 44,30%, Total Sulphur 0,24%, dan Ash 3,88%.

Kenaikan Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode I Januari 2026-misalnya 6.322 GAR menjadi US$103,30/ton dari US$100,81 dan 5.300 GAR menjadi US$72,23/ton dari US$69,93, mencerminkan rebound teknis dari pelemahan akhir Desember, bukan perubahan struktur pasar.

Pemerintah memang menetapkan HBA sebagai dasar HPB untuk transaksi ekspor, tetapi di pasar global yang jenuh, daya tawar tetap berada di tangan pembeli. Artinya, meski HBA naik di atas kertas, realisasi harga untuk kontrak spot dan diskon kualitas akan tetap ditentukan oleh harga Newcastle dan tekanan dari batubara China.

Pasar minyak dunia di sepanjang 2025 diguncang konflik geopolitik, kebijakan OPEC+ serta dibentuk oleh satu variabel dominan yakni kelebihan pasokan.
Brent menutup 2025 di sekitar US$60,85 per barel, turun hampir 18% dari akhir 2024, sementara WTI berada di US$57,41, mencatatkan penurunan tahunan mendekati 20%

Konsumsi minyak dunia masih tumbuh sekitar 860 ribu barel per hari pada 2026. Namun pasokan global tumbuh jauh lebih cepat, sekitar 2,4 juta barel per hari pada 2026, setelah sudah naik sekitar 3 juta barel per hari di 2025.

Artinya, dunia sedang menambah barel tiga kali lebih cepat daripada mampu membakarnya.

"Harga minyak yang menurun dan melemahnya dolar AS-keduanya saat ini berada di dekat level terendah empat tahun-menjadi faktor pendorong tambahan bagi permintaan minyak tahun depan," kata IEA dalam laporannya.

Hasilnya sudah terlihat di tangki dan di laut. Stok minyak global kini berada di sekitar 8,03 miliar barel, tertinggi dalam empat tahun, dengan laju penumpukan rata-rata 1,2 juta barel per hari sepanjang 2025 .

Barel menumpuk sebagai "oil on water" di tanker, karena arus pasokan dari Amerika ke Asia makin panjang dan volume bersanksi sulit mencari pembeli tetap.

Inilah definisi teknis dari overhang, minyak tersedia lebih cepat daripada mampu diserap sistem.

Harga Minyak di 2026

Badan Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan persediaan minyak global akan terus meningkat hingga 2026, sehingga memberikan tekanan ke bawah terhadap harga minyak dalam beberapa bulan mendatang. 

EIA memproyeksikan harga minyak mentah Brent akan turun ke rata-rata US$55 per barel pada kuartal I-2026 (1Q26) dan bertahan di sekitar level tersebut sepanjang sisa tahun depan.

Meskipun kami memperkirakan harga minyak mentah akan terus melemah dalam beberapa bulan ke depan, kami menilai bahwa kebijakan produksi OPEC+ serta lanjutnya penambahan stok minyak oleh China akan membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Pusat gravitasi pasokan minyak dunia kini bergeser ke Atlantik, bukan Teluk Persia. Menurut Energy Information Administration (EIA), Brasil, Guyana, dan Argentina akan menyumbang sekitar 0,4 juta barel per hari dari pertumbuhan produksi global 2026 .

Brasil akan mendorong produksi ke sekitar 4,0 juta bpd pada 2026 berkat tambahan FPSO di ladang Buzios . Guyana, proyek offshore tercepat dalam sejarah modern, akan menambah sekitar 140 ribu bpd pada 2026, menuju jalur 1 juta bpd beberapa tahun ke depan . Argentina lewat Vaca Muerta diproyeksikan naik ke 810 ribu bpd .

Di saat yang sama, OPEC+ justru kehilangan kendali struktural. Bahkan jika kuota dipertahankan, non-OPEC sudah cukup untuk menciptakan surplus jutaan barel per hari.

Sisi permintaan juga berubah bentuk. China mesin pertumbuhan minyak dua dekade terakhir kini menghadapi pergeseran struktural akibat penetrasi kendaraan listrik.

Menurut Robert Rapier, kontributor energi Forbes, lonjakan EV di China berarti erosi permanen terhadap konsumsi minyak masa depan, bukan fluktuasi siklikal .

Artinya, bahkan jika ekonomi China stabil, setiap persen pertumbuhan kini menghasilkan lebih sedikit barel tambahan dibanding satu dekade lalu.

Dengan surplus sekitar 3,7-3,8 juta barel per hari dari akhir 2025 hingga 2026 hampir 4% dari konsumsi global pasar minyak memasuki rezim yang sama seperti batubara: setiap reli akan berumur pendek.

Urals US$33: Surplus Paling Jujur

Tidak ada indikator surplus yang lebih telanjang daripada minyak Rusia. Urals kini diperdagangkan di US$33-34 per barel, sekitar US$27 lebih murah dari Brent . Diskon ini bukan menandakan bahwa dunia mulai kebanjiran minyak.

Ketika produsen besar harus menjual di setengah harga pasar demi menjaga arus kas, itu berarti nilai ekonomi minyak sedang dipindahkan dari produsen ke pembeli.

 

Antara 22-28 Desember, harga Urals turun ke US$33-34 per barel, terendah sejak pandemi, dengan diskon sekitar US$27 terhadap Brent di sekitar US$60. Pada selisih ini, banyak proyek Rusia menjadi tidak ekonomis-terutama yang berbiaya ekstraksi dan transportasi tinggi meski sebagian ladang lama masih bertahan berkat struktur pajak yang menguntungkan.

Pejabat Rusia mengakui negara itu mungkin kehilangan "triliunan dolar" selama beberapa dekade akibat harga acuan internasional yang merugikan dan mekanisme penetapan harga yang tidak transparan. Responsnya adalah upaya membangun indikator harga domestik melalui bursa nasional dan referensi berbasis futures-dorongan politik untuk mengurangi ketergantungan pada acuan eksternal sekaligus kebutuhan fiskal menutup selisih antara harga ekspor terdiskon dan asumsi anggaran.

Diskon besar ke India dan China demi menjaga volume di bawah sanksi membuat sebagian hulu Rusia tidak menguntungkan. Saat eksportir besar harus menjual di US$33-34 sementara Brent US$60, kelebihan pasokan adalah keseimbangan diskon paksa yang memindahkan nilai dari produsen ke pembeli.

OPEC Ngotot Pertahankan Produksi
Dalam perkembangan terbaru, Minggu (4/1/2026), OPEC+ mempertahankan produksi minyak setelah menghindari pembahasan mengenai berbagai krisis politik yang melanda negara-negara anggotanya, mulai dari Timur Tengah hingga Rusia, Iran, dan Venezuela.

Pertemuan delapan anggota OPEC+-yang memompa sekitar setengah produksi minyak dunia-digelar setelah harga minyak jatuh lebih dari 18% sepanjang 2025, penurunan tahunan terdalam sejak 2020, di tengah meningkatnya kekhawatiran kelebihan pasokan.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali memanas bulan lalu terkait konflik Yaman yang telah berlangsung satu dekade, ketika kelompok yang berafiliasi dengan UEA merebut wilayah dari pemerintah yang didukung Saudi. Krisis ini memicu perpecahan terbesar dalam beberapa dekade antara dua sekutu lama tersebut.

Sementara itu, pada Sabtu (3/1/2026), Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali negara tersebut hingga memungkinkan transisi ke pemerintahan baru-tanpa merinci bagaimana langkah itu akan dilakukan.

"Saat ini, pasar minyak lebih digerakkan oleh ketidakpastian politik ketimbang fundamental pasokan-permintaan. Dan OPEC+ jelas memprioritaskan stabilitas dibandingkan tindakan,'" kata Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy dan mantan pejabat OPEC, kepada Reuters.

Sebagai catatan, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia (sekitar 303 miliar barel), namun sanksi Amerika Serikat telah membatasi kemampuan negara tersebut untuk mengekspor minyak mentah dan sepenuhnya memonetisasi sumber daya tersebut.

Produksi minyak negara tersebut anjlok akibat bertahun-tahun salah kelola dan sanksi.

Para analis menilai kecil kemungkinan terjadi peningkatan produksi minyak mentah yang berarti dalam beberapa tahun ke depan, bahkan jika perusahaan minyak besar AS benar-benar menanamkan investasi bernilai miliaran dolar di negara tersebut seperti yang dijanjikan Trump.

Delapan anggota OPEC+-Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman-menaikkan target produksi minyak sekitar 2,9 juta barel per hari pada 2025, setara hampir 3% permintaan minyak global, untuk merebut kembali pangsa pasar.

Pada November, kedelapan negara sepakat menjeda kenaikan produksi untuk Januari, Februari, dan Maret karena permintaan yang relatif rendah selama musim dingin di belahan bumi utara. Pertemuan daring singkat pada Minggu menegaskan kebijakan tersebut dan tidak membahas Venezuela, ujar salah satu delegasi OPEC+.

OPEC+ menyatakan pertemuan berikutnya akan digelar pada 1 Februari.

Dalam sejarahnya, OPEC kerap mampu mengatasi perpecahan internal-seperti saat Perang Iran-Irak-dengan memprioritaskan pengelolaan pasar dibandingkan perselisihan politik.

Namun, kelompok ini kini menghadapi krisis lain. Ekspor minyak Rusia menurun akibat sanksi AS terkait perang di Ukraina, sementara Iran menghadapi gelombang protes dan ancaman intervensi dari AS.



CNBC INONESIA RESEARCH
[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features