Kabar Baik, Ekonomi RI Mau Bangkit!*

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
08 July 2020 07:12
Pencegahan Virus Corona Indonesia. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak awal Juli, berbagai kabar baik berdatangan dari dalam negeri. Kabar-kabar itu memberi angin segar, membawa harapan, mengatrol keyakinan bahwa Indonesia bisa bangkit dari serangan pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Pandemi virus corona adalah tragedi kesehatan dan kemanusiaan. Virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China itu telah membuat puluhan ribu rakyat jatuh sakit dan lebih dari 3.000 orang di antaranya meninggal dunia.


Tidak butuh lama bagi pandemi virus corona untuk bertransformasi menjadi tragedi ekonomi. Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengesahkan regulasi tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada akhir Maret, setelah Indonesia mencatatkan kasus corona perdana pada awal bulan tersebut.

Seperti di hampir seluruh negara di dunia, pembatasan sosial (social distancing) menjadi kebijakan yang dikedepankan untuk mencegah penyebaran virus corona. Aktivitas masyarakat sangat dibatasi, jarak antar-manusia sebisa mungkin direnggangkan, dan jangan sampai terjadi kerumunan. Sebab virus akan lebih mudah menular seiring peningkatan interaksi dan kontak.

Selama sekitar tiga bulan masyarakat terpaksa harus #dirumahaja. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Kebijakan ini cukup efektif untuk meredam penyebaran virus corona.

Namun di sisi lain, roda ekonomi tidak bisa berputar kala kegiatan masyarakat sangat terbatas. Pada kuartal I-2020, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi 2,97%, terendah sejak 2001. Kemungkinan besar akan terjadi kontraksi (pertumbuhan negatif) pada kuartal II-2020, pemerintah memperkirakan di kisaran -3,1%.Untuk kali pertama sejak 1999 Indonesia kembali merasakan pahitnya ekonomi yang mengkerut.

Dari sisi dunia usaha, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia merosot tajam. Pada kuartal I-2020, rata-rata PMI manufaktur Indonesia adalah 48,83. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal. Kalau di bawah 50, berarti industriawan belum melakukan ekspansi, yang ada malah terkontraksi.

Penurunan PMI berlanjut selepas kuartal I-2020. Pada April dan Mei, angka PMI manufaktur Indonesia masing-masing adalah 27,5 dan 28,6. Angka April adalah yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI di Tanah Air.

Sementara di sisi rumah tangga, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga melorot. Rata-rata IKK pada kuartal I-2020 adalah 117,73. Berbeda dengan PMI, IKK menjadikan angka 100 sebagai titik start. Kalau masih di atas 100, berarti konsumen percaya diri dalam menghadapi perekonomian saat ini sampai enam bulan ke depan.

Namun selepas kuartal I-2020, keadaan memburuk. Pada April dan Mei, IKK tercatat masing-masing 84,8 dan 77,8. Pencapaian Mei adalah yang terendah sejak 2005.

Akibat dunia usaha dan rumah tangga yang sama-sama 'sakit', tekanan inflasi menjadi minim. Produsen tidak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena khawatir produknya tidak laku.

Ramadan-Idul Fitri yang biasanya menjadi puncak inflasi karena lonjakan permintaan tahun ini serasa biasa-bisa saja. Datar. Inflasi pada April-Mei tercatat 0,08% dan 0,07% secara bulanan (month-on-month/MtM). Padahal pada tahun-tahun sebelumnya terjadi lesatan inflasi kala puasa dan lebaran.

Tiga data itu menggambarkan kelesuan ekonomi Indonesia yang begitu parah. Pandemi virus corona sudah resmi menjadi masalah besar bagi perekonomian nasional, menghantam dua sisi sekaligus yaitu pasokan dan permintaan.

* Syarat dan ketentuan berlaku

Geliat Ekonomi Mulai Terasa
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading