Kasus Corona Rekor Lagi, RI Kena Gelombang Serangan Kedua?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
06 July 2020 06:14
Aktivitas Anak-anak melakukan kegiatan belajar di luar sekolah di Kampung Belajar New Normal di Pinang Indah, Tangerang Kota, Banten, Jumat 19/6. Kampung Belajar New Normal ini didirikan untuk anak - anak yang ingin kembali bersekolah. Kurang lebih selama tiga bulan ini, anak-anak tinggal di rumah, belajar di rumah, karena pandemi virus corona atau Covid-19. Lamanya belajar di rumah, anak-anak pun mengalami kejenuhan dan ingin segera kembali ke sekolah bersama teman-teman. Kampung Belajar New Normal pun dianggap sebagai solusi mengusir kebosanan anak-anak belajar di rumah. kampung ini baru dibuat pada 15 Juni 2020 dan diresmikan oleh lurah setempat. Penggagas Kampung Belajar New Normal, Agung Agustianto menjelaskan mengenai metode belajar yang diterapkannya.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) menggila. Sejak sekira sebulan terakhir, muncul pertanyaan. Apakah dunia tengah berhadapan dengan gelombang serangan kedua (second wave outbreak) dari virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut?

Kasus corona secara global memang dalam tren meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, jumlah pasien positif corona per 5 Juli 2020 adalah 11.125.245 orang. Bertambah 132.921 orang (1,21%) dibandingkan hari sebelumnya.

Namun pada 4 Juli, penambahan pasien dalam sehari mencapai 282.319 orang. Ini menjadi rekor tertinggi sejak WHO mencatat kasus corona pada 20 Januari.


Amerika Serikat (AS) masih menjadi negara dengan jumlah kasus corona terbanyak di kolong langit. Per 4 Juli, US Centers for Disease Control and Prevention mencatat jumlah pasien positif corona adalah 2.789.678 orang. Bertambah 57.147 orang (2,09%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Tambahan pasien 57.147 dalam sehari adalah rekor tertinggi sejak AS melaporkan kasus corona perdana pada 21 Januari. Sedangkan pertumbuhan 2,09% menjadi laju tercepat sejak 17 Mei.

Berdasarkan studi terhadap 60.000 sampel yang dikumpulkan WHO, diketahui bahwa sekitar sepertiga virus corona sudah mengalami mutasi. Virus corona hasil mutasi ini diberi nama D614G dan disebut lebih mudah untuk menginfeksi sel tubuh. Ini yang membuat virus lebih mudah menyebar dengan luas.

"Namun sejauh ini belum ada bukti bahwa mutasi tersebut menyebabkan gejala yang lebih parah," ujar Maria Van Kerkhove, Kepala Teknis Covid-19 WHO, seperti dikutip dari Reuters.

Sebenarnya penyebaran virus corona mulai melambat pada April. Perkembangan ini membuat berbagai negara mulai melonggarkan pembatasan sosial (social distancing) agar masyarakat bisa kembali beraktivitas dan roda ekonomi berputar lagi.

Akan tetapi, kasus corona kembali melonjak sejak awal Juni. Maklum, virus akan lebih mudah menyebar kala terjadi peningkatan interaksi dan kontak antar-manusia akibat pelonggaran social distancing.

Oleh karena itu, muncul kekhawatiran bahwa saat ini dunia tengah menghadapi second wave outbreak virus corona. Belajar dari pengalaman flu Spanyol, serangan gelombang kedua lebih ganas ketimbang yang pertama, memakan lebih banyak korban jiwa.

Gelombang Pertama Belum Selesai, dan Tak Akan Selesai
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading