Jonan: Pakai Jargas Bisa Hemat Sampai Rp 100 Ribu/Bulan

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
27 February 2019 12:51
Jonan: Pakai Jargas Bisa Hemat Sampai Rp 100 Ribu/Bulan
Bogor, CNBC Indonesia- PT Perusahaan Gas Negara/PGN Tbk (PGAS) menambah jaringan gas untuk rumah tangga dan pelanggan kecil (Jargas) untuk wilayah operasi Bogor, Serang, dan Cirebon. Dari paket pengerjaan tersebut, hari ini, PGN meresmikan perampungan jargas wilayah Bogor sesuai target pekerjaan yang dimulai sejak Mei 2018.

Sebanyak 5.120 sambungan jaringan gas bumi diresmikan untuk rumah tangga di Cibinong, Kabupaten Bogor. Ini termasuk dalam pembangunan jargas di wilayah Bogor, Serang, dan Cirebon itu merupakan proyek yang didanai anggaran Kementerian ESDM (APBN) senilai Rp 46 miliar.




Ribuan sambungan jargas baru ini tersebar di dua daerah yaitu Cibinong sebanyak 2.000 sambungan dan Bojong Gede sebanyak 3.114 sambungan.

Dalam sambutannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, dengan adanya jargas ini, maka pengeluaran masyarakat, khususnya di daerah Kabupaten Bogor, akan lebih hemat. Pasalnya, pembangunan jargas ini, tujuannya adalah menyediakan energi atau bahan bakar yang bersih untuk masyarakat. Dengan adanya jargas, masyarakat tidak perlu khawatir kehabisan gas saat malam hari.

"Kalau pakai tabung LPG kan mesti beli di toko, kalau malam-malam habis dan tokonya sudah tutup, kan mau bikin kopi jadi tidak bisa kan? Makanya kalau ada jargas ini gasnya akan ada terus, tidak perlu beli tabung LPG lagi," ujar Jonan ketika meresmikan jargas di Kabupaten Bogor, Rabu (27/2/2019).

Lebih lanjut, ia mengatakan, dari sisi harga pun, bisa lebih murah dengan menggunakan jargas. Ia menyebutkan, jika warganya pemakai tabung gas LPG subsidi 3 kg, bisa menghemat sekitar Rp 20 ribu-30 ribu, sedangkan jika pengguna tabung LPG non-subsidi, bisa hemat sampai Rp 100 ribu.

"Selain itu, dengan penggunaan jargas juga bisa mengurangi beban negara kurangi impor LPG," tambah Jonan.

Salah satu keunggulan gas pipa, antara lain berasal dari kekayaan gas bumi di dalam negeri. Artinya, dari sisi makro, penggunaan gas pipa bagi konsumsi rumah tangga, tak membebani neraca perdagangan lantaran impor gas yang terjadi pada gas LPG.

Ia menuturkan, konsumsi LPG per tahunnya bisa mencapai 6,5 juta ton, sementara produksi LPG nasional hanya 2,5 juta ton. Itu artinya, sebanyak 4 juta ton LPG harus diimpor, atau jika dihitung nilainya, sebesar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. 

"Sayang uangnya, kalau bisa ini dihemat untuk pembangunan. Jadi tujuannya untuk kurangi impor LPG," pungkasnya.

Adapun, pada tahap pengoperasian nanti, PGN akan memanfaatkan sumber gas berasal dari PT Pertamina EP, dengan volume mencapai 0,2 MMSCFD.

"Perluasan Jargas ini adalah upaya bersama untuk memperluas dan pemerataan pemanfaatan kekayaan alam negeri ini," ujar Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN Dilo Seno Widagdo saat ditemui di kesempatan yang sama.

Dilo menyebutkan, ke depannya, kian banyak skema yang bisa digunakan untuk merealisasikan pembangunan Jargas.
 
"Gas merupakan energi masa depan yang sangat membantu kehidupan masyarakat. Indonesia melalui PGN mempunyai potensi besar sebagai penyangga dan pelayan bagi masyarakat," tambahnya.
 
Gas pipa yang dijajakan PGN merupakan jenis gas metana berbobot jenis ringan, sehingga cepat dan gampang menguap, minim risiko kebakaran. Sedangkan gas LPG merupakan gas propana dengan bobot massa lebih berat, mudah tersulut.
 
"Keunggulan-keunggulan tersebut akan lebih memudahkan masyarakat mengakses energi baik yang lebih ramah lingkungan, dan penggunaan gas inipun membantu kemandirian energi nasional," tutup Dilo.

Saksikan video soal jargas di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]
(gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading