Internasional

Turki Beberkan Penyebab Kematian Jamal Khashoggi

News - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
01 November 2018 19:12
Kolumnis Arab Saudi Jamal Khashoggi dicekik sampai mati setelah ia memasuki konsulat Arab di Istanbul, Turki, dalam sebuah pembunuhan terencana.
Jakarta, CNBC Indonesia - Kolumnis Arab Saudi Jamal Khashoggi dicekik sampai mati setelah ia memasuki konsulat Arab di Istanbul, Turki, dalam sebuah pembunuhan terencana, kata jaksa kepala kota itu dalam sebuah pernyataan yang kemungkinan akan membuat ketegangan antara Ankara dan Riyadh meningkat.

Kantor kejaksaan mengatakan mayat Khashoggi kemudian dipotong dan dihancurkan yang menjadi tanda lain bahwa pembunuhan itu telah direncanakan sebelumnya, tulis Bloomberg.com.


Sejak kolumnis Washington Post itu menghilang awal bulan ini, para pejabat Turki secara telah membocorkan beberapa perkembangan dalam kasus ini untuk mengendalikan narasi. Dalam beberapa hari terakhir mereka memilih diam.


Pada hari Rabu, sumber-sumber negara yang tidak teridentifikasi mulai mendominasi berita pembunuhan itu dan mengatakan seorang jaksa Arab yang terbang ke Turki untuk menangani kasus itu tidak membantu, dikutip dari Bloomberg.com.

Kantor kejaksaan Istanbul mengungkapkan rincian baru dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan setelah pejabat Saudi, Saud al-Mojeb, pulang setelah kunjungan tiga harinya.

"Sesuai dengan rencana yang dibuat sebelumnya, korban, Jamal Khashoggi, mati tercekik setelah memasuki Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober," kata kantor kejaksaan Turki.

Turki Beberkan Penyebab Kematian Jamal KhashoggiFoto: Rekaman CCTV Jamal Khashoggi (Courtesy TRT World/Handout via Reuters)
Al-Mojeb tidak akan menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Turki, menurut pernyataan itu, termasuk pertanyaan di mana tubuh Khashoggi, siapa yang merupakan kolaborator lokal yang diduga orang Saudi yang ikut ambil bagian, dan apa yang diketahui Saudi tentang siapa yang merencanakan pembunuhan itu.

Jaksa Arab, yang mengunjungi konsulat dan bertemu dengan pejabat Turki, juga menegaskan kembali penolakan negaranya atas permintaan Turki untuk mengekstradisi warga Saudi yang terlibat dalam pembunuhan itu, surat kabar Hurriyet melaporkan.

Pembunuhan Khashoggi, mantan orang dalam pengadilan Saudi, juga telah memfokuskan perhatian internasional pada kebijakan-kebijakan Pangeran Mahkota Saudi, Mohammad Bin Salman.


Pangeran Mohammed pada tahun 2015 memerintahkan intervensi militer dalam perang Yaman dan telah menyebabkan embargo politik dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap negara tetangga, Qatar, dan terlibat dalam konfrontasi diplomatik dengan Jerman dan Kanada.

Sebagai tanda tekanan pada kepemimpinan Saudi untuk mengubah arah, para pejabat tinggi AS pada hari Rabu menuntut pembicaraan damai dalam waktu satu bulan untuk mengakhiri konflik Yaman, tulis Bloomberg.com.


(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading