Internasional

Arab Akui Khashoggi Tewas, Ini Respons Amerika Serikat

News - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
20 October 2018 11:44
Arab Akui Khashoggi Tewas, Ini Respons Amerika Serikat
Jakarta, CNBC Indonesia - Jaksa Arab Saudi pada hari Sabtu (20/10/2018) mengumumkan bahwa jurnalis Jamal Khashoggi yang menghilang sejak tanggal 2 Oktober telah tewas.

Penyebab kematiannya, menurut pemerintah Arab, adalah perkelahian dengan beberapa orang yang Khashoggi temui di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, dan Kerajaan menduga ia terbunuh dalam perkelahian itu.



Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders angkat bicara menyusul pengumuman ini. Ia menyampaikan bahwa pengumuman dari pihak Arab benar adanya dan pemerintah Amerika Serikat (AS) akan terus mengawasi perkembangan investigasi terhadap kasus ini. Ia juga menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya Khashoggi.


Berikut pernyataan lengkap Sanders, dilansir dari CNBC International.

"Amerika Serikat membenarkan pengumuman dari Kerajaan Arab Saudi bahwa investigasi terkait nasib Jamal Khashoggi sedang dikembangkan dan kerajaan sudah mengambil tindakan terhadap para tersangka yang sudah diidentifikasi sejauh ini.

Kami akan terus memantau ketat investigasi internasional terhadap insiden tragis ini dan menganjurkan keadilan yang tepat waktu, transparan, dan sesuai dengan semua proses. Kami berduka mendengar konfirmasi kematian Tuan Khashoggi, dan kami menyampaikan duka cita mendalam terhadap keluarga, tunangan, dan teman-temannya."

Menyusul kasus hilangnya Khashoggi, beberapa pekan belakangan komunitas internasional semakin menekan Arab Saudi terkait keberadaan jurnalis itu. Presiden AS Donald Trump juga menghadapi kritik yang menumpuk karena terlalu lembut dalam merespons kasus ini.

Arab Akui Khashoggi Tewas, Ini Respons Amerika SerikatFoto: Wartawan Indonesia meneriakkan slogan dan memegang plakat selama protes atas hilangnya wartawan Saudi Jamal Khashoggi di depan kedutaan Arab Saudi di Jakarta, Indonesia, 19 Oktober 2018. REUTERS / Beawiharta
Pada hari Kamis (18/10/2018), Trump mengakui bahwa Khashoggi kemungkinan sudah meninggal dan dia akan mempertimbangkan "konsekuensi yang sangat buruk" jika Saudi terbukti bertanggung jawab atas kematiannya.

Namun, keengganan Trump untuk bergerak cepat membuat publik membandingkannya dengan cara Trump berbicara tentang pemimpin otokratis lain yang dituduh melanggar hak asasi manusia, seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Pada hari Selasa (16/10/2018), presiden berkata ke The Associated Press bahwa dia melihat kasus ini sebagai "Anda bersalah sampai terbukti tidak bersalah".

Pada hari Jumat (19/10/2018), Trump menyebut penangkapan sebagai "langkah pertama yang baik". Kemudian dia berkata enggan membatalkan kesepakatan jual-beli senjata dengan Kerajaan Arab jika AS akan memberi sanksi ke negara kerajaan itu atas kematian Khashoggi.

Wakil Presiden Mike Pence mengatakan AS tidak akan "hanya mengandalkan" informasi yang diberikan oleh Arab Saudi, sekutu lama AS di Timur Tengah.

Beberapa anggota Kongres juga meminta sanksi yang cepat terhadap Arab, si negara kaya minyak, karena kasus ini.

Senator Lindsey Graham langsung menunjukkan keraguannya terhadap kebenaran pernyataan Arab tentang kematian si jurnalis. Dia berkata "sulit untuk menyebut 'penjelasan' terbaru ini sebagai [sesuatu yang] kredibel".

Arab Akui Khashoggi Tewas, Ini Respons Amerika SerikatPangeran Arab Mohammed bin Salman yang diduga terlibat dalam kasus hilangnya Jamal Khashoggi (Foto: Reuters)
"Mengatakan bahwa saya skeptis terhadap naratif baru Saudi tentang kematian Khashoggi itu meremehkan," tulis Graham di Twitternya.

"Pertama kami diberitahu bahwa Tuan Khashoggi seharusnya meninggalkan konsulat dan terdapat setumpuk penyangkalan keterlibatan Saudi. Sekarang, perkelahian diungkapkan dan dia terbunuh di konsulat, semuanya tanpa sepengetahuan Pangeran Mahkota."

Pengumuman itu disampaikan lebih dari dua pekan setelah Khashoggi terakhir kali terlihat di depan umum saat memasuki gedung Konsulat di Istanbul. Khashoggi sendiri merupakan kritikus keluarga kerajaan Saudi dan menulis kolom untuk The Washington Post.



Dalam kolom terakhirnya di harian itu, Khashoggi menyoroti perlunya pers yang independen dan bebas di negara-negara Arab. Dia berkata komunitas internasional menjadi buta terhadap peningkatan upaya pemerintah Arab dalam membungkam pers.
"Tindakan-tindakan ini tidak lagi memiliki konsekuensi serangan balik dari komunitas internasional. Justru, tindakan-tindakan ini akan memicu kutukan yang langsung diikuti oleh pembungkaman," tulis Khashoggi.

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading