Pertamina: Tanpa Mitra, Bangun Kilang Cilacap Itu Berat

News - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
04 September 2018 15:32
Pertamina: Tanpa Mitra, Bangun Kilang Cilacap Itu Berat
Jakarta, CNBC Indonesia- Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) Syahrial Mukhtar mengatakan pengerjaan kilang Cilacap merupakan hal yang cukup berat, tidak hanya dari segi biaya tapi juga dari segi teknlogi dan semua hal yang dibutuhkan. 

Untuk itu, pihaknya akan membicarakan lebih lanjut dengan mitranya untuk pengerjaan kilang Cilacap terkait adanya usulan dari pemerintah yang menyarankan agar Pertamina menjalankan dulu pembangunan kilang tersebut sambil menunggu Saudi Aramco.




"Saudi Aramco saat ini masih (jadi mitra di kilang Cilacap). Semuanya pasti harus dibicarakan dulu dengan mitra, karena jalankan bisnis migas kan tidak bisa sendiri," ujar Syahrial kepada media saat ditemui di Jakarta, Selasa (4/9/2018).

Lebih lanjut, ia mengatakan, dalam menjalankan bisnis migas, karakteristiknya tidak bisa dilakukan sendiri, mengingat risiko yang besar, investasi besar, dan butuh teknologi yang tinggi.

"Nah, untuk hadapi risiko besar ini makanya kami bermitra, dan memang sudah menjadi model bisnis di industri migas, sehingga respect kepada mitra itu nomor satu. Semua keputusan harus dibicarakan bersama," imbuhnya.

"Kalau Refinery Development Master Plan (RDMP) itu kan berhubungan dengan investasi yang lumayan besar, sampai triliunan, namanya juga upgrading. RDMP kan meningkatkan kualitas, menaikan kapasitas, mengolah crude yang baik," tambah Syahrial.

Adapun, untuk masalah lahan, saat ini, Syahrial menyampaikan, hal tersebut sudah tidak ada masalah lagi.

Sebelumnya, pemerintah menganjurkan kepada PT Pertamina (Persero) untuk menjalankan pembangunan kilang di Cilacap lebih dulu tanpa melibatkan Saudi Aramco.

"Ini saran, ada opsi ke sana. Maksudnya begini, kan ada masalah aset dan lainnya, saran kami kalau dimungkinkan jalan dulu tanpa Saudi Aramco, ya jalan dulu saja, biar kilangnya bisa dibangun," ujar Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar kepada media ketika dijumpai di Kementerian ESDM, Kamis (30/8/2018).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Saudi Aramco masuknya nanti bisa menyusul, bisa di tengah pengerjaan atau beberapa waktu setelah pengerjaan awal dimulai. Arcandra mengungkapkan, hal yang membuat Saudi Aramco lama berpikir yakni terkait spin off. Saudi Aramco menginginkan, agar joint venture (JV) imbang. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading