Newsletter

Ada 'Hantu' Resesi Saat Pasar Menanti Rapat BI, IHSG Sepi?

Market - Maesaroh, CNBC Indonesia
23 June 2022 06:20
In this photo provided by the New York Stock Exchange, trader Americo Brunetti works on the floor, Thursday, March 25, 2021. Stocks are wobbling in afternoon trading Thursday as a slide in technology companies is being offset by gains for banks as bond yields stabilize.(Courtney Crow/New York Stock Exchange via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia -Suasana cerah di pasar keuangan Indonesia hanya berlangsung sehari. Setelah sempat menguat pada Selasa, pasar saham keuangan Indonesia kembali rontok kemarin karena investor masih was-was dan menunggu kebijakan Bank Indonesia (BI).

Pasar saham dan mata uang ambruk pada perdagangan Rabu (22/6/2022) tetapi pasar obligasi mengalami sedikit perbaikan. Investor dan trader kembali mengkhawatirkan adanya resesi di Amerika Serikat(AS) dan memburuknya perekonomian global sehingga memilih hati-hati.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,85% ke 6.984,31, pada Rabu (22/6/2022). Pelemahan tersebut membuat IHSG keluar dari level psikologis 7.000.


Penjualan bersih (net sell) juga masih dilakukan investor asing dengan nilai mencapai Rp 225,6 miliar. Net sell tersebut lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya (Rp 354,64 miliar).

Saham yang paling banyak dilepas asing adalah saham ANTM dan BBRI dengan net sell masing-masing Rp 73 miliar dan Rp 57 miliar. Sementara itu, saham yang paling banyak diburu asing adalah saham KLBF dan ASII dengan nilai net buy masing-masing Rp 46 miliar dan Rp 34 miliar.

Nilai transaksi indeks kemarin mencapai sekitar Rp 24,8 triliun dengan melibatkan 25,5 miliaran saham. Sebanyak 174 saham menguat, 346 saham melemah, sementara 168 saham stagnan. Artinya, setengah saham pada perdagangan kemarin rontok.

Berbanding terbalik dengan Selasa, saham-saham energi tumbang pada perdagangan Rabu.
Saham PT Timah Tbk. (TINS) turun paling dalam yakni 6,92% ke posisi Rp 1.615 per saham sejalan dengan pelemahan harga timah di pasar internasional serta rencana pemerintah menaikkan tarif royalti komoditas tersebut.

Saham sektor energi lain yang amblas adalah PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) yang melemah 6,38%, saham PT Antam Tbk. (ANTM) merosot 6,05%, dan saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang melemah 4,06%.

Pergerakan IHSG mengekor mayoritas bursa saham Asia yang bergerak di zona merah hari ini meskipun sempat dibuka di zona hijau.

Indeks Nikkei Jepang ditutup melemah 0,37% ke posisi 26.149,55, Hang Seng Hong Kong ambruk 2,56% ke 21.008,34, Shanghai Composite China ambles 1,2% ke 3.267,2, dan ASX 200 Australia terkoreksi 0,23% ke 6.508,5.

Kondisi suram juga terjadi di indeks Straits Times Singapura yang terpangkas 0,78% ke 3.093,31 dan KOSPI Korea Selatan yang amblas 2,74% ke 2.342,81.



Senada dengan IHSG, rupiah hari ini juga amblas. Pada Selasa (21/6/2022), mata uang Garuda sebenarnya bergerak menguat dan mampu menghentikan kemerosotan 6 hari beruntun melawan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, rupiah kembali tidak berdaya kemarin dan ditutup merosot 0,37% pada posisi Rp 14.865/US$.

Pada awal perdagangan rupiah bergerak liar. Rupiah langsung menguat 0,07% ke Rp 14.800/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv. Hitungan detik saja, rupiah berbalik melemah dengan persentase yang sama. Kemudian berbalik lagi menguat 0,14% sebelum akhirnya terus melemah hingga 0,42% ke Rp 14.872/US$, yang merupakan level terlemah sejak Oktober 2020.



Di pasar obligasi, harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (22/6/2022) sehingga yield melandai. Dari delapan seri SBN, yield dari lima seri tersebut menurun, dua stagnan, dan satu meningkat.

Kondisi ini mencerminkan kembalinya optimisme investor di pasar obligasi. Penurunan yield SBN salah satunya disebabkan oleh semakin melandainya yield surat utang pemerintah AS dan harga SBN yang sudah lebih murah.

Mayoritas investor ramai memburu SBN pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield). Hanya SBN tenor 15 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan naiknya yield.

Melansir data dari Refinitiv,yield SBN tenor 15 tahun naik 0,3 basis poin (bp) ke 7,523% pada perdagangan hari ini. Sedangkan untuk yield SBN berjangka panjang yakni tenor 25 tahun dan 30 tahun stagnan di posisi masing-masing 7,594% dan 7,401%.

Sementara untuk yield SBN bertenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara berbalik melemah 2 bp ke 7,494% pada perdagangan hari ini.

Fed Sebut Kemungkinan Ada Resesi, Wall Street Tak Bertaji
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading