Rupiah Masih Lemah di Eropa, Sudah 3 Hari Beruntun Nih..

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
19 May 2022 12:54
FILE PHOTO: British five pound banknotes are seen in this picture illustration taken November 14, 2017. REUTERS/ Benoit Tessier/Illustration/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah kembali terkoreksi terhadap euro, poundsterling, dan dolar franc swiss pada perdagangan hari ini, Kamis (19/5/2022). Mata Uang Garuda telah melemah selama tiga hari beruntun di Benua Biru.

Melansir Refinitiv, pukul 11:25 WIB, rupiah terkoreksi terhadap euro sebanyak 0,04% ke Rp 15.453,44/EUR dan rupiah melemah terhadap poundsterling 0,6% di Rp 18.228,48/GBP. Hal serupa terjadi pada dolar franc swiss menguat terhadap Mata Uang Tanah Air sebesar 0,44% ke Rp 14.927,48/CHF.


Meski mata uang Benua Biru terapresiasi terhadap rupiah, tapi sentimen kurang sedap tetap menghiasi wilayahnya. Kemarin, Kantor Statistik Nasional melaporkan bahwa inflasi Inggris melonjak ke 9% di bulan April dan menjadi rekor tertinggi sejak 40 tahun.

Inggris memiliki inflasi tertinggi jika dibandingkan dengan kelompok G7, walaupun Kanada dan Jepang belum melaporkan data di bulan April.


Bahkan, bulan lalu, Dana Moneter International memperkirakan bahwa ekonomi Inggris akan mengalami perlambatan dan inflasi yang lebih persisten daripada ekonomi utama lainnya. Tagihan energi yang melonjak merupakan pendorong inflasi yang telah melonjak di Inggris.

"Kami tidak dapat melindungi semua orang dari tantangan global ini, tapi dukungan yang signifikan akan diberikan di mana kami bisa dan siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut," tutur Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak yang dikutip dari Reuters.

Hal serupa terjadi di Eropa. Inflasi telah mencapai rekor tertinggi 7,5% di bulan April, naik dari 7,4% di bulan Maret membuat bank sentral Eropa (ECB) di bawah pimpinan Christine Lagarde, diprediksikan akan menaikkan suku bunga acuan dan akan menjadi kenaikan pertama dalam lebih dari satu dekade.

Sontak saja, nilai tukarnya pun berhasil menguat dan telah melesat lebih dari 1% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sudah bertahan lebih dari 3 hari beruntun. Wajar saja, jika rupiah pun tertekan.

Meski demikian, para analis memprediksikan bahwa Eropa akan mengalami resesi dalam 1 tahun ke depan dengan probabilitas 30%.

Produk domestik bruto (PDB) kuartal II, III dan IV diperkirakan akan tumbuh 0,3%, 0,5% dan 0,6%.

Proyeksi PDB tersebut mengalami penurunan dari satu bulan lalu sebesar 0,4% di kuartal II dan masing-masing 0,6% di kuartal III dan IV. Sementara secara tahunan, PDB 2022 diprediksi tumbuh 2,7%, turun dari proyeksi sebelumnya 2,9%.

Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan menggelar pertemuan selanjutnya pada 23 dan 24 Mei 2022. Namun, kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan tersebut masih sangat minim.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Hanya di AS, Rupiah Juga Kurang Bertenaga di Eropa


(aaf/vap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading