Analisis

Beda Nasib Blue Bird-MPPA-Bank Jago, Semuanya Koleksi GoTo!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
24 May 2021 06:51
bluebird

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan startup berstatus unicorn penyedia jasa ride-hailing PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek tampaknya bukan seorang Raja Midas, yang setiap sentuhannya niscaya mengubah sesuatu menjadi emas.

Memang, perusahaan yang didirikan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim ini seringkali membuat gebrakan yang menimbulkan keriuhan di dunia maya dan pasar saham akhir-akhir ini.

Tapi di pasar saham hal itu tidak seluruhnya berlaku. Gojek atau kini berada di bawah naungan induk GoTo yang membawahi Tokopedia, belum mampu mengangkat kinerja saham dan fundamental emiten pemilik taksi Blue Bird PT Blue Bird Tbk (BIRD) yang sejak awal tahun mencatatkan kinerja negatif.


Sebagaimana diketahui, Gojek resmi masuk ke saham BIRD dengan membeli 4,33% saham perusahaan jasa transportasi taksi tersebut pada 21 Februari tahun lalu.

Ini tentu saja kontras dengan kinerja dua saham milik Gojek lainnya, yakni saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), bank besutan bankir kawakan Jerry Ng dan mitranya, serta milik pendiri perusahaan investasi Northstar Pasific Patrick Walujo. Satu saham lagi yakni emiten pengelola Hypermart milik Grup Lippo PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA). Kedua saham tersebut mencatatkan kinerja yang oke punya sejak awal tahun ini.

Gojek resmi berinvestasi di Bank Jago per 18 Desember 2020 dengan menggenggam sebanyak 22% saham perusahaan lewat PT Dompet Karya Anak Bangsa alias GoPay.

Sementara itu, Gojek juga masuk ke saham MPPA dengan membeli sebagian 4,76% saham yang sebelumnya dimiliki oleh sang induk MPPA, PT Multipolar Tbk (MLPL). Pada 11 Mei lalu, pihak Multipolar resmi mengumumkan masuknya Gojek ke MPPA lewat PT Pradipa Darpa Bangsa.

Sebanyak 99,996% saham Pradipa dipegang oleh Gojek, dan sebesar 0,004% dipegang oleh GoPay.

Nah, Tim Riset CNBC Indonesia akan membahas secara singkat kinerja saham BIRD, dibandingkan dengan saham ARTO dan MPPA setelah Gojek resmi masuk ke ketiga saham tersebut, mengacu data per 21 Mei 2021.

Dengan mengacu pada tabel di atas, saham BIRD berada di posisi buncit, dengan mencatatkan kinerja yang tidak menggembirakan. Saham BIRD ambles 8,86% dalam sebulan, sementara secara year to date (ytd) anjlok 5,00%.

Kalau dibandingkan dengan saham MPPA dan ARTO, tentu kinerja saham BIRD sangat jomplang. Saham MPPA naik tajam 59,42% dalam sebulan belakangan. Sementara, sejak awal tahun saham ini sudah 'meroket to the moon' setinggi 947,62%.

Adapun saham ARTO memang ambles 6,71% dalam 30 hari perdagangan terakhir. Tetapi, secara ytd saham bank yang sebelumnya bernama Bank Artos Indonesia ini sudah membumbung tinggi 159,81%.

Bahkan, apabila jangka waktu kinerja saham kita perluas lagi, yakni sejak Gojek resmi mengambil secuil saham BIRD pada 21 Februari 2020, saham BIRD malah cenderung 'menuruni bukit'. (Lihat grafik di bawah ini).

Menilik grafik di atas, tercatat harga saham BIRD pada 21 Februari 2020 sebesar Rp 2.340/saham. Adapun pada penutupan pasar Jumat (21/5) lalu, harga saham ini Rp 1.235/saham, alias ambles sedalam 47,22%.

Memang, kecenderungan 'turun bukit' ini sudah lama terlihat sejak harga saham BIRD mencapai puncak tertinggi di Rp 12.100 pada 16 Januari 2015. Setelah itu, saham ini terus cenderung melorot sampai sekarang, semakin bergerak menjauhi harga penawaran saham perdana (IPO) yang sebesar Rp 6.500/saham pada 5 November 2014.

Menariknya, sebagaimana dicatat CNBC Indonesia, seiring isu masuknya Gojek ke Blue Bird yang beredar kalangan pelaku pasar, pada 19 Februari 2020, para investor tercatat tidak mengakumulasi saham BIRD. Malahan, pada penutupan pasar di hari tersebut, saham BIRD merosot 1,64% ke Rp 2.390/saham.

Tetapi, sentimen rumor Gojek masuk ke Blue Bird malah berhasil menggerakkan saham ini pada tahun sebelumnya. Dikutip dari pemberitaan CNBC Indonesia, pada 3 Juli 2019 saham BIRD sempat melesat 3,83% ke level Rp 2.980/saham, setelah beredar rumor Gojek dikabarkan akan masuk perusahaan yang didirikan pada 1972 ini.

Kala itu, Gojek dirumorkan masuk ke Blue Bird dengan membeli 20% saham perusahaan.

Blue Bird dan Gojek sebetulnya sudah menjalin kerja sama sebelumnya. Kolaborasi keduanya terwujud dalam layanan Go-Blue Bird yang diresmikan pada 30 Maret 2019.Go-Blue Bird menjadi jenis layanan baru di aplikasi Gojek. Dalam layanan ini, pengguna aplikasi bisa memesan kendaraan khusus untuk taksi Blue Bird.

Di samping hal di atas, apabila dibandingkan dengan saham ARTO dan MPPA, nilai transaksi dan kapitalisasi pasar (market cap) saham BIRD tercatat lebih kecil. Per Jumat (21/5), market cap saham BIRD sebesar Rp 3,09 triliun. Angka ini lebih kecil dibandingkan saham MPPA yang mencapai Rp 8,28 triliun.

Bahkan, market cap BIRD tidak ada apa-apanya dibandingkan saham ARTO yang senilai Rp 139,60 triliun. Saham ARTO sendiri saat ini termasuk ke dalam 10 besar big cap atau saham dengan market cap di atas RP 100 triliun.

Rerata nilai transaksi saham BIRD pun lebih kecil, yakni berada di kisaran ratusan juta hingga Rp 1-4 miliar. Sementara, saham ARTO dan MPPA di kisaran puluhan sampai ratusan miliar.

Selain itu, tidak seperti saham ARTO dan MPPA, saham BIRD cenderung minim sentimen. Bahkan, seperti yang disebutkan di atas, sentimen masuknya Gojek ke saham perusahaan tidak serta-merta mendongkrak harga saham BIRD.

NEXT: Saham ARTO-MPPA Banjir Sentimen

Saham ARTO-MPPA Banjir Sentimen
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading