Kenapa Heboh dengan IPO GoTo? Cek Dulu Fakta Jeroan Bisnisnya

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
21 May 2021 09:25
Gojek dan Tokopedia Bentuk GoTo (Dok. GoTo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jagat pasar modal dalam negeri sempat heboh, saat Gojek dan Tokopedia, dua decacorn domestik mengumumkan penggabungan usaha. Penggabungan ini sekalikus menjawab spekulasi seputar rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) perusahaan technologi terbesar tersebut. 

Adalah GoTo, hasil perkawinan antara startup Gojek dan Tokopedia yang disebut-sebut siap melantai di Bursa Efek Indonesia dalam waktu dekat.

Menurut laporan CBInsights bertajuk The Complete List of Unicorn Companies, pada april 2021, Gojek memiliki valuasi US$10 miliar (Rp 142,5 triliun, kurs Rp 14.250/US$) dan Tokopedia US$7 miliar. (Rp 99,7 triliun).


Maka dari itu dengan hitungan kasar tanpa mempertimbangkan kekuatan startup yang tentunya akan semakin solid mendominasi pasar pasca merger maka valuasi GoTo berada di kisaran US$ 17 miliar (Rp 242,2 triliun).

Apabia valuasi tersebut yang digunakan untuk melantai, nantinya GoTo akan langsung bertengger menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar kelima di BEI.

Ranking GoTo ini berada di atas perusahaan-perusahaan besar kenamaan lain seperti raja consumer goods PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), pemimpin pasar otomotif dalam negeri PT Astra Internasional Tbk (ASII), serta emiten rokok PT H M Sampoerna Tbk (HMSP).

Meskipun nilai kapitalisasi pasarnya jumbo ternyata investor kawakan Lo Kheng Hong enggan membeli saham GoTo karena valuasinya yang dianggap sangat mahal sekali dan belum ada track record mampu mencetak laba.

Hal ini tentu saja berbeda dengan ketiga emiten yang kapitalisasi pasarnya berada di bawah GoTo yang sudah terbukti berhasil mencetak laba jumbo secara konsisten dan bahkan rutin membagikan laba bersihnya sebagai dividen kepada investor.

Valuasi GoTo sendiri dijustifikasi sangat jumbo karena nilai transaksi di kedua platform atau biasa di kalangan perusahaan rintisan disebut Gross Merchant Value (GMT) dan Gross Transaction Value (GTT) sangatlah jumbo.

GoTo mengklaim memiliki GTV sebesar US$ 22 miliar (Rp 316 triliun) sepanjang tahun 2020 didukung oleh pengguna aktif bulanan sebesar 100 juta. Hasil merger kedua startup ini diklaim menggerakan 2% perekonomian Indonesia.

Akan tetapi meskipun total nilai transaksi yang terjadi di kedua aplikasi sangatlah jumbo, nyatanya kedua perusahaan disebut-sebut belum mampu membukukan laba bersih dan terus menerus melakukan aksi 'bakar uang' untuk melakukan promosi.

Tentunya hal ini merupakan kabar di kalangan para pelaku pasar saja, karena status kedua perusahaan masih merupakan perusahaan private sehingga tidak perlu merilis kinerja keuanganya pada publik.

Walaupun masih merugi, investor private, para venture capital serta perusahaan raksasa lain yang berinvestasi di Gojek dan Tokopedia berani membayar mahal untuk kedua startup karena dengan pertumbuhan kedua perusahaan yang pesat, Gojek dan Tokopedia digadang-gadang akan mampu membukukan laba yang jumbo dalam waktu mendatang.

Meskipun demikian, bagaimana sebenarnya prospek usaha lini bisnis utama GoTo, apakah memang kedepanya mampu membukukan laba, ataukah hal ini hanya ilusi semata? Simak analisis berikut.

Masa Depan Bisnis Ride Hailing
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading