Newsletter

Jika Rupiah Menguat, Ucapkan Terima Kasih ke Pak Powell

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
07 September 2020 05:59
Ilustrasi Dollar Rupiah

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia mengalami koreksi pada perdagangan pekan lalu. Sentimen domestik jadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, sampai harga obligasi pemerintah.

Sepanjang pekan lalu, IHSG anjlok 2% secara point-to-point. IHSG menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia.

Berikut perkembangan indeks saham utama Benua Kuning sepanjang pekan lalu:


 

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terdepresiasi 0,86% sepanjang pekan lalu. Lagi-lagi, rupiah juga menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di Asia.

Kemudian imbal hasil (yieldobligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun naik 9,1 basis poin (bps). Kenaikan yield menandakan harga Surat Berharga Negara (SBN) sedang turun karena aksi jual.

Pasar keuangan terbeban akibat dinamika yang terjadi di Bank Indonesia (BI). Tersiar kabar bahwa ada kemungkinan BI tetap diminta berkontribusi dalam pembiayaan defisit anggaran alias burden sharing setidaknya sampai 2022.

Kepada para jurnalis media asing di Istana Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa jika pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa berada di kisaran 4,5-5,5%, maka burden sharing mungkin tidak lagi dibutuhkan pada 2022.  Pernyataan Jokowi bisa dimaknai bahwa masih ada peluang pemerintah akan meminta bantuan kepada BI untuk membiayai defisit anggaran setidaknya hingga 2022, andai pertumbuhan ekonomi di bawah target.

Pelaku pasar kecewa karena mengira burden sharing hanya kebijakan jangka pendek, sekali pukul, ad hoc, one off. Namun ternyata ada kemungkinan bertahan lama.

Masuknya BI dalam pembiayaan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dikhawatirkan akan menambah jumlah uang beredar. Sebagai informasi, sampai dengan 18 Agustus BI telah membeli obligasi pemerintah di pasar perdana (baik lelang, greenshoe options, sampai private placement) senilai Rp 42,96 triliun. Apabila situasi belum kondusif, maka sangat mungkin jumlah ini akan terus bertambah karena pasar tidak bisa diharapkan untuk menyerap SBN.

Gelontoran uang dari BI tersebut akan menambah jumlah uang beredar di perekonomian. Ketika jumlah uang beredar bertambah, maka inflasi akan terjadi karena nilai uang menjadi turun. Inflasi akan membuat imbalan berinvestasi di aset-aset berbasis rupiah (terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) ikut terpangkas.

Selain itu, pasar juga mencemaskan wacana amandemen Undang-undang (UU) BI. Salah satu opsi yang ada adalah kembalinya Dewan Moneter seperti masa Orde Baru.

Dewan Moneter memimpin, mengkoordinasikan dan mengarahkan kebijakan moneter sejalan dengan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian. Nantinya, Dewan Moneter terdiri Menteri Keuangan sebagai ketua, satu orang menteri di bidang perekonomian, Gubernur BI dan Deputi Senior BI, serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika dipandang perlu, maka pemerintah dapat menambah beberapa orang menteri sebagai anggota penasihat Dewan Moneter.

"Memang ini masih wacana dan mungkin tidak semua hal yang beredar betul-betul tertuang dalam UU yang baru. Namun, kami menilai bahwa sejumlah pihak berpandangan ada nuansa selama ini bank sentral terlalu kuat dan berlindung di bawah UU BI yang sekarang. Masa pandemi seperti sekarang memantik kembali sentimen tersebut.

"Kami memperkirakan mungkin nantinya independensi bank sentral akan sedikit diturunkan. Ini akan menimbulkan pertanyaan, apakah Indonesia akan mengorbankan catatan kebijakan yang pruden selama 1-2 dekade terakhir?" papar Helmi Arman, Ekonom Citi, dalam risetnya.

Berbagai kegaduhan ini membuat investor berpikir ulang untuk masuk ke pasar keuangan Ibu Pertiwi. Pada akhirnya, IHSG, rupiah, dan SBN menjadi 'tumbal' atas segala kegaduhan tersebut.

Wall Street Akhirnya Jatuh
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading