Newsletter

Terpujilah Mereka yang Tak Panik oleh Gertakan Koboi Trump

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
05 December 2019 06:11

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu (4/11/2019) ditutup melemah 21 poin (0,34%) ke level 6.112,88. Pelemahan menipis di sesi kedua berkat aksi beli selektif para investor yang menolak termakan gertak sambal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perang dagang dengan China.

Dibandingkan dengan bursa-bursa utama di Asia, koreksi yang dialami bursa Indonesia ini cenderung lebih ringan. Indeks Hang Seng anjlok 1,25%, indeks Nikkei anjlok 1,05%, indeks Kospi melemah 0,73%, dan indeks Straits Times melemah 0,48%.

Indeks Hang Seng mencatatkan koreksi paling dalam karena ditekan oleh sentimen rilis data ekonomi yang mengecewakan. Angka PMI versi Markit bulan November kembali terkontraksi ke level 38,5, dari sebelumnya 39,3 di bulan Oktober. Ini merupakan perolehan terendah sejak April 2003, dilansir Trading Economics.


Sebaliknya, indeks Shanghai melemah hanya 0,23% atau lebih baik dari IHSG menyusul kinerja positif sektor jasa di China. Index Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa tercatat melambung, dari 51,1 bulan lalu menjadi 53,5 pada November yang merupakan pertumbuhan ekspansi terkuat sejak April.

Untuk hari ini, secara teknikal IHSG cenderung fluktuatif seiring terbentuknya pola capung (dragonfly doji). Pola tersebut menggambarkan masih adanya pola dorongan beli di pasar saham meski kemarin IHSG masuk zona merah. 

Namun pasca perdagangan, IHSG berhasil menipiskan pelemahan dengan hanya terkoreksi 0,34% karena aksi beli selektif pada saham-saham infrastruktur, pertambangan, properti, dan aneka industri.


Pola surutnya tekanan jual di akhir perdagangan juga menimpa rupiah. Kurs Mata Uang Garuda ini berakhir stagnan terhadap dolar AS di saat isu perang dagang sedang simpang-siur. Begitu perdagangan dibuka, rupiah langsung melemah 0,05% ke Rp 14.105/US$ dan berlanjut hingga menyentuh level terendahnya Rp 14.125/US$. 

Namun pada sesi penutupan, rupiah kembali ke level pembukaan alias bergerak menyamping. Bank Indonesia (BI) terindikasi melakukan intervensi di pasar, terlihat dari penguatan kurs Domestic Non-Deliverable Market (DNDF) satu jam sebelum penutupan perdagangan hari ini.

Demi melihat penjualan bersih (net sell) investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp 199 miliar, lebih besar dari net sell kemarin Rp 75,46 miliar, bisa disimpulkan bahwa mereka masih memilih memegang dana tunai (cash) ketimbang membeli portofolio saham. 

Di tengah situasi demikian, sebagian kecil investor domestik tidak mengidap psikologi kumpulan domba (herding psychology) dengan ikut-ikutan jualan saham, melainkan memilih berada di "jalan sunyi" dengan melakukan aksi beli selektif jelang penutupan pasar.

Kemarin, IHSG memang tidak sampai masuk ke zona hijau akibat aksi mereka ini. Namun, strategi kepala dingin mereka dengan memilih mengacu pada kondisi fundamental dan menolak tersapu gelombang retorika politik koboi Trump bakal mendapatkan reward yang layak.

Trump Dikabarkan Hanya Menggertak, Wall Street Menguat
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading