Tak Bisa Genjot Produksi, Kinerja Emiten Semen Dalam Tekanan

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
19 July 2018 11:42
Tak Bisa Genjot Produksi, Kinerja Emiten Semen Dalam Tekanan
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri semen Indonesia sudah dalam beberapa tahun terakhir memasuki masa-masa suram. Tengok saja kinerja keuangan dari emiten-emiten produsen semen yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) misalnya, emiten produsen semen dengan kapitalisasi pasar terbesar di tanah air ini terus mencatatkan penurunan laba bersih sejak 2015 silam.

Pada tahun 2015, laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 4,36 triliun, anjlok hingga 17,3% jika dibandingkan capaian tahun 2014 yang sebesar Rp 5,27 triliun. Pada 2 tahun berikutnya (2016 dan 2017), laba bersih kembali turun menjadi masing-masing sebesar Rp 3,87 triliun dan Rp 1,86 triliun.


Sementara itu, laba bersih dari PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), dan PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) juga berada dalam tekanan dalam beberapa tahun kebelakang.

Bagi SMCB, bottom line perusahaan bahkan mencatatkan kerugian. Pada tahun 2017, kerugian perusahaan tercatat sebesar Rp 758,05 miliar, membengkak dari kerugian tahun 2016 yang sebesar Rp 284,58 miliar.

Ada 2 hal utama yang membuat kinerja keuangan perusahaan begitu buruk, yakni masalah kelebihan pasokan (oversupply) dan predatory pricing. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), jumlah kapasitas produksi semen di Indonesia hingga kuartal-I 2018 mencapai 107,4 juta ton. Sementara itu, total permintaan hanya mencapai 66,35 juta ton. Ini artinya, ada oversupply sebanyak 41,05 juta ton.

Kedepannya, masalah oversupply bisa semakin parah. Pasalnya, perusahaan semen asal China PT Conch Cement Indonesia akan meningkatkan kapasitas produksi hingga 25 juta ton. Peningkatan kapasitas produksi tersebut ditargetkan bisa dilakukan dengan membangun sejumlah pabrik di beberapa daerah.

Pada tahun 2017, Conch Cement memiliki kapasitas produksi sebesar 2,3 juta ton. Jika nantinya ada tambahan sebesar 22,7 juta ton (menjadi 25 juta ton) dan dengan asumsi bahwa permintaan dan kapasitas produsen lainnya adalah tetap, oversupply semen di Indonesia akan meroket menjadi 63,75 juta ton.

Berbicara mengenai predatory pricing, lagi-lagi nama Conch Cement muncul. Perusahaan milik oleh Anhui Conch Cement Company Limited yang merupakan produsen terbesar di China tersebut diduga menjual rugi produknya guna mendapatkan pangsa pasar. Terhitung sejak awal 2015 hingga kuartal-I 2018 , Conch Cement berhasil meraup pangsa pasar sebesar 4,6% di Indonesia.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga nampaknya sangat pas untuk menggambarkan kondisi industri semen tanah air. Selain masalah oversupply dan predatory pricing, industri semen juga dibuat babak belur oleh panjangnya libur hari raya Idul Fitri dan terus melesatnya harga batu bara.

Pada tahun ini, libur hari raya Idul Fitri ditetapkan lebih panjang oleh pemerintah, sehingga memangkas jumlah hari kerja. Berdasarkan data dari INTP, pada Juni 2018 hanya ada 11 hari kerja, lebih rendah dari Juni 2017 yang sebanyak 17 hari. Akibatnya, penjualan semen menjadi tak maksimal.

Dalam risetnya tertanggal 18 Juli 2018, analis sektor industri dasar Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan bahwa penjualan INTP pada kuartal-II 2018 anjlok hingga 10,8% jika dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kemudian, kenaikan harga batu bara juga dipercaya telah menekan kinerja keuangan perusahaan. Sepanjang kuartal-II 2018 (sampai dengan 16 Juli), Mimi mencatat rata-rata harga batu bara adalah sebesar US$ 103,8/ton, lebih tinggi dari rata-rata kuartal-I 2018 yang sebesar US$ 102,8/ton. Akibat dari kenaikan harga batu bara, biaya energi yang harus ditanggung perusahaan menjadi naik sehingga menekan marjin laba kotor perusahaan.

Sebagai catatan, marjin INTP pada kuartal-I 2018 hanya berada di level 28,7%, turun dari capaian kuartal-IV 2017 yang masih berada di atas 30%. Kala itu, tingginya biaya energi yakni bahan bakar dan listrik merupakan faktor utama tertekannya marjin perusahaan.


TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading