Mengenal Varian Corona 'Ganas' India, Seberapa Menakutkan?

Tech - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 April 2021 18:10
People wearing face shields and masks as a precaution against the coronavirus as they wait to receive COVID-19 vaccine in Mumbai, India, Thursday, April 29, 2021. India set another global record in new virus cases Thursday, as millions of people in one state cast votes despite rising infections and the country geared up to open its vaccination rollout to all adults amid snags. (AP Photo/Rajanish Kakade)

Jakarta, CNBC Indonesia - India kini mencatat lonjakan kasus infeksi Covid-19 paling tajam di dunia. Lonjakan tersebut membebankan fasilitas kesehatan, banyak pasien tidak mendapatkan tempat tidur, oksigen, serta obat-obatan.

Menurut para ilmuwan yang mempelajari lonjakan kasus infeksi Covid-19 ini, varian baru virus corona B.1.617, mungkin menjadi salah satu penyebab munculnya gelombang 'tsunami' Covid-19 di India. Varian ini membuat kasus di India dua kali lipat

Dilansir dari Reuters, ahli virologi senior India Shahid Jameel mengatakan varian B.1.617 mengandung dua mutasi kunci pada bagian luar "lonjakan" virus yang menempel pada sel manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan garis keturunan utama B.1.617 pertama kali diidentifikasi di India Desember lalu, meskipun versi sebelumnya terlihat pada Oktober 2020.


WHO telah mendeskripsikannya sebagai "variant of interest". Ini memberi kesan bahwa ia mungkin memiliki mutasi yang akan membuat virus lebih mudah menular, menyebabkan penyakit yang lebih parah atau kebal terhadap vaksin.

Strain lain dengan risiko yang diketahui, seperti yang pertama kali terdeteksi di Inggris Raya, Brasil, dan Afrika Selatan, telah dikategorikan sebagai "varian yang menjadi perhatian" karena tingkat ancaman yang lebih tinggi.

Namun hingga saat ini, varian B.1.617 juga masih sulit dikatakan untuk menjadi penyebab utama melonjaknya kasus infeksi di India. WHO mengatakan penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan, seperti studi berbasis laboratorium dengan ukuran sampel terbatas yang dapat menunjukkan potensi peningkatan penularan.

Berbicara soal kekebalan vaksin terhadap varian baru ini, kepala penasihat medis Gedung Putih Anthony Fauci mengatakan awal pekan ini bahwa bukti awal dari penelitian laboratorium menunjukkan Covaxin, vaksin yang dikembangkan di India, tampaknya mampu menetralkan varian tersebut.

Kesehatan Masyarakat Inggris juga mengatakan sedang bekerja dengan mitra internasional, tetapi saat ini belum ada bukti bahwa varian India dan dua varian terkait menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin yang saat ini digunakan kurang efektif.

India, yang menjadi negara kedua dengan kasus terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat, tercatat memiliki lebih dari 18,7 juta kasus infeksi, dengan 208 kematian, menurut data Worldometers per Jumat (30/4/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading