Putin Mau Gugat Google, Facebook, dan Twitter. Ada Apa?

Tech - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
09 March 2021 19:48
Alexei Navalny. (AP/Dmitri Lovetsky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Rusia yang dipimpin Presiden Vladimir Putin menyatakan akan menggugat lima platform media sosial karena diduga tidak menghapus postingan yang dirasa mendesak anak-anak untuk mengambil bagian dalam protes menuntut pembebasan kritikus Kremlin Alexei Navalny.

Dilansir Reuters, dari lima platform media sosial itu, tiga diantaranya adalah Google, Facebook, Twitter, Tiktok, dan Telegram. Disebutkan bahwa bila terbukti melanggar, platform media sosial itu akan dikenai denda hingga 4 juta rubel atau sekitar Rp 756 juta.

Gugatan tersebut dilaporkan akan segera diproses persidangannya pada 2 April mendatang.


Sebelumnya unjuk rasa besar-besaran terjadi di Rusia setelah otoritas negara beruang putih itu menahan Navalny. Navalny ditangkap pada 17 Januari lalu setelah kembali ke Moskow dari Jerman.

Otoritas Rusia telah mengeluarkan surat perintah penangkapan Navalny, mengklaim bahwa dia telah melanggar persyaratan hukuman tiga setengah tahun yang ditangguhkan yang ia terima pada tahun 2014 karena tuduhan penggelapan.

Ia diketahui pergi ke Jerman lantaran mencari pengobatan atas kasus keracunan zat Saraf ketika ia masih di Rusia musim panas lalu. Dia menuduh Presiden Vladimir Putin memerintahkan pembunuhannya, namun hal ini dibantah Kremlin.

Kepulangannya yang dramatis ke Moskow yang berujung penjara menimbulkan tantangan bagi Putin yang telah mendominasi lanskap politik Rusia selama lebih dari dua dekade.

Dalam unjuk rasa itu, sekitar lima ribu orang ditahan oleh aparat keamanan. Dikatakan mereka merupakan kelompok sekutu Navalny yang loyal. Bahkan untuk mengecoh aparat, para demonstran selalu mengubah titik kumpulnya.

Tak hanya di dalam negeri, penahanan Navalny juga mendapat respon yang dingin dari Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden. Washington menyatakan bahwa mereka sangat prihatin dengan kapasitas pemerintah Rusia yang mampu melakukan hal-hal seperti pembunuhan dengan racun itu.

"Itu tetap mengejutkan saya, betapa prihatin, dan mungkin bahkan takut, pemerintah Rusia tampaknya satu orang, Tuan Navalny," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Anthony Blinken kepada wartawan dalam sebuah jumpa pers.

"Secara keseluruhan, seperti yang dikatakan presiden, kami meninjau semua tindakan ini yang menjadi perhatian mendalam bagi kami apakah itu perlakuan terhadap Tuan Navalny dan khususnya penggunaan senjata kimia dalam upaya untuk membunuhnya," tambah diplomat tertinggi AS itu.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading