Crazy Rich SoftBank Jual Aset Rp 1.120 T, Ada Skenario Buruk!

Tech - roy, CNBC Indonesia
18 November 2020 14:15
Masayoshi Son, CEO Softbank Investor Rp 42 T di Indonesia (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO dan Pendiri SoftBank Masayoshi Son buka-bukaan alasan agresif menjual asetnya demi mendapatkan uang tunai tahun ini. Ternyata ini sebagai langkah antisipasi "skenario terburuk".

Dalam event The New York Times bertajuk 'Dealbook Conference', Masayoshi Son mengatakan pada awalnya ia menargetkan dana segar US40 miliar (Rp 560 triliun) dari penjualan aset tahun ini. Namun nilainya kemudian meningkat menjadi US$80 miliar (Rp 1.120 triliun) guna memberikan likuiditas bagi SoftBank jika terjadi kondisi darurat global.

"Dalam dua atau tiga bulan ke depan, bencana apa pun bisa terjadi," ujar Masayoshi Son seperti dikutip dari CNBC International (18/11/2020). "Jadi kami hanya mempersiapkan skenario terburuk."


Salah satu rencana penjualan aset untuk mendapatkan dana segara ini adalah menjual perusahaan semikonduktor ARM ke Nvidia seharga US$ 40 miliar dan penjualan saham T-Mobile seharga US$ 20 miliar sahamnya di T-Mobile baru.

Dana ini akan dipakai untuk membeli aset yang nilai pasarnya terus turun karena pandemi Covid-19, menopang investasi di SoftBank Vision Fund, atau buy back (membeli kembali) lebih banyak saham/

Masayoshi Son tidak menjelaskan secara spesifik tentang kemungkinan "bencana" yang akan terjadi beberapa bulan mendatang, namun ia menyinggung kasus keruntuhan Lehman Brothers tahun 2008 dan bagaimana satu peristiwa dapat menjadi katalisator untuk keruntuhan sistem keuangan yang lebih luas.

"Apa pun bisa terjadi dalam situasi seperti ini," terang Masayoshi Son. "Tentu saja, vaksin akan segera datang. Tapi siapa yang tahu dalam dua atau tiga bulan ke depan?"

Dengan saran dari pemegang sahamnya Elliott Management, SoftBank secara agresif membeli kembali saham dari aset-aset potensialnya untuk memanfaatkan diskon pasar. Vision Fund SoftBank memiliki saham di lebih dari 80 startup unicorn atau bervaluasi US$1 miliar.

Masayoshi Son mengutarakan ketidaksetujuannya pada pemerintahan Trump yang mengancam untuk menutup TikTok di AS karena ancaman keamanan nasional yang dipertanyakan.

"Menjadi besar dan kuat belum tentu merupakan hal yang jahat," jelas Masayoshi Son.


(roy/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading