Uji Coba Vaksin Astrazeneca Dihentikan, Pertanda Buruk?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 September 2020 13:43
(AP Photo/Kirsty Wigglesworth/FILE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengejutkan datang dari pengembang vaksin Covid-19 AstraZeneca. Perusahaan yang bekerja sama dengan Universitas Oxford itu harus menghentikan uji klinis tahap akhir sampai waktu yang belum ditentukan.

Penghentian uji klinis kandidat vaksin virus corona yang diberi nama AZD1112 ini menyusul laporan dampak negatif parah dari uji klinis vaksin terhadap seorang peserta di Inggris.

Sebagai informasi kandidat vaksin AstraZeneca ini masuk uji klinis tahap III (akhir) mulai bulan lalu setelah hasil uji klinis tahap I dan II menunjukkan tanda-tanda menggembirakan.


Pada tahap III ini AstraZeneca rencananya akan menyuntikkan kandidat vaksin yang dikembangkan kepada 30.000 ribu orang di AS, Inggris, Brazil dan Afrika Selatan.

Infografis/Mengenal 2 Kandidat Terkuat Vaksin Covid-19 Menurut WHO/Aristya RahadianFoto: Infografis/Mengenal 2 Kandidat Terkuat Vaksin Covid-19 Menurut WHO/Aristya Rahadian

Berbeda dengan tahap I & II yang pada umumnya menggunakan sampel yang kecil, tahap akhir yang ditujukan untuk mengetahui keampuhan (efficacy) serta keamanan dari vaksin membutuhkan sampel uji yang besar.

Selain lama, adanya keberagaman (heterogenitas) dari segi geografis, gender serta usia dalam pengujian vaksin juga menjadi tantangan tersendiri bagi uji klinis tahap akhir ini.

Sebelum otoritas kesehatan seperti badan pengawas obat di setiap negara memberikan lisensi atau izin vaksin untuk diedarkan, pengembang harus benar-benar membuktikan bahwa vaksin buatannya mampu memberikan proteksi serta aman bagi manusia.

Hanya saja, kemungkinan vaksin untuk lolos tahap akhir ini pun terbilang kecil. Kumpulan ilmuwan dari Belanda yang dipimpin oleh Esther S. Pronker dari Universitas Rotterdam, menyebutkan bahwa dari tahun 1998-2009 pengembangan vaksin mulai dari tahapan awal sampai ke pasar butuh rata-rata 10,71 tahun dan tingkat keberhasilannya hanya 6%.

Apa yang dimaksud dengan tingkat keberhasilan 6%?

Pronker dkk menyebutnya 'market entry probability'. Dalam publikasinya yang berjudul Risk in Vaccine Research and Development Quantified yang dimuat di jurnal ilmiah PLoS One tujuh tahun silam mendefinisikannya sebagai proporsi dari sekian banyak kandidat vaksin yang lolos uji hingga tahap akhir pengembangan.

Jika mengacu pada angka tersebut dan saat ini ada kurang lebih 170 kandidat vaksin yang dikembangkan, maka hanya akan ada kurang lebih 10 vaksin yang lolos sampai bisa digunakan untuk imunisasi masal.

Tentu ini adalah kalkulasi yang sangat sederhana dan tidak bisa digunakan sebagai acuan. Mengingat ada perbedaan dari segi timeline pengembangan serta situasi dan kondisinya, tingkat kemungkinan vaksin bisa lolos hasil uji tahap akhir dan diperbolehkan otoritas kesehatan setempat kemungkinan tetaplah kecil.

Lagipula banyak kasus yang juga menunjukkan bahwa kandidat vaksin atau obat memberikan dampak yang positif tetapi justru hasilnya buruk saat uji klinis tahap akhir.

Center for Disease Control & Prevention (CDC) melaporkan setidaknya ada 22 kasus kandidat vaksin atau obat yang hasil uji klinis tahap II dan IIInya berbeda pada 2017 silam.

Dari 22 kandidat tersebut setidaknya ada enam kandidat vaksin untuk berbagai macam penyakit mulai dari kanker, diabetes, schizoprenia hingga penyakit menular seperti herpes, dan penyakit lainnya.

Kebanyakan kasus yang terdeteksi di fase III uji klinis disebabkan oleh tidak adanya bukti kuat bahwa kandidat vaksin dapat ampuh memberikan proteksi terhadap penyakit. 

Bahkan untuk kandidat vaksin V710 yang dikembangkan untuk mencegah penyakit akibat bakteri Staphilococcus aureus uji klinis tahap III pun harus diterminasi karena kandidat vaksin tidak menunjukkan tanda-tanda kemanjuran, bahkan malah berisiko menimbulkan penyakit dan kematian.

Melihat realita ini, berharap terhadap vaksin memang sah-sah saja. Namun terlalu menggantungkan harapan pada vaksin dan menjadi kendur tidaklah bijak. Sampai saat ini masih ada hal-hal sederhana yang bisa melindungi kita dari infeksi Covid-19 seperti menggunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan jaga jarak aman.

Soal vaksin, kita memang harus sedikit bersabar. Biarkan pengembangan vaksin berjalan semestinya. Toh yang terpenting itu bukan seberapa cepat vaksin ditemukan. Ini penting sih memang. Namun ada yang lebih penting lagi yaitu vaksin haruslah ampuh memberikan proteksi dan aman. Itu kuncinya!

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading