Bos BI Bicara Soal Digital & Risiko Shadow Banking Fintech

Tech - Roy Franedya, CNBC Indonesia
29 November 2019 13:34
Bos BI Bicara Soal Digital & Risiko Shadow Banking Fintech
Jakarta, CNBC Indonesia - Pesatnya perkembangan teknologi digital ternyata ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menciptakan lapangan kerja baru tetapi di lain sisi menimbulkan risiko shadow banking (perbankan gelap).

Hal ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam acara tahunan BI yang berlangsung Kamis (28/11/2019).


Menurut Perry, perkembangan teknologi digital sungguh luar biasa, dari internet of things (IoT) hingga artificial intelligence, blockchain, distributed ledger technology (DLT) dan robotic.


"Teknologi digital telah merombak secara mendasar proses produksi dalam era industri 4.0, perdagangan ritel melalui e-commerce, hingga di bidang pendidikan, kesehatan, dan berbagai segmen kehidupan," ujar Perry.

"Di dunia keuangan, inovasi teknologi digital telah memunculkan pesatnya perkembangan Financial Technology (fintech) dalam sistem pembayaran maupun berbagai jasa keuangan seperti crowd-funding, peer-to- peer lending, asuransi, dan wealth management."

Perry menambahkan teknologi digital telah membuat bisnis jasa keuangan yang biasa dilakukan oleh bank dan lembaga keuangan lainnya semakin dikembangkan dan diambil alih oleh fintech dan memunculkan risiko shadow banking.

"Lebih dari itu, besarnya investasi dalam teknologi digital mendorong konsentrasi usaha dan memunculkan sejumlah perusahaan raksasa dunia, atau big tech. Mereka menguasai berbagai bisnis ekonomi dan keuangan digital di berbagai dunia. Bahkan, beberapa diantaranya menerbitkan virtual atau crypto-currency swasta yang menjadi kewenangan bank sentral," ujar Perry.

"Tidak hanya itu, risiko terjadinya konsentrasi penguasaan usaha dan data granular oleh big tech juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu persaingan usaha yang sehat dan menghambat inovasi."


(roy/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading