Pasar keuangan diharapkan bisa bangkit hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)Â pada perdagangan Selasa (29/9/2026)Â ditutup melemah 26,16 poin atau 0,43% ke 6.121,70. Indeks bergerak cukup volatil sepanjang hari dengan rentang pergerakan sekitar 137 poin.
Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan. IHSG sempat turun hingga menyentuh level terendah harian di 6.013, sebelum berbalik naik dan mencapai level tertinggi 6.150.
Meski sempat memangkas pelemahan, IHSG belum mampu bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks akhirnya ditutup di level 6.121,70.
Mayoritas saham juga masih berada di zona merah. Sebanyak 373 saham melemah, 303 saham menguat, sementara 118 saham lainnya tidak bergerak.
Volume transaksi tercatat sebesar 383 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp13,24 triliun. Sektor konsumer non-primer, properti, dan barang baku menjadi sektor yang terkoreksi paling dalam.
Saham GOTO (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk), BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), dan BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk) menjadi pemberat utama indeks. Pelemahan saham-saham tersebut turut menekan pergerakan IHSG pada perdagangan kemarinkemarin.
Pergerakan IHSG terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan tunai sejak Senin (28/9/2026). Kebijakan tersebut turut disertai penyesuaian batas auto rejection untuk saham berharga rendah.
Dari eksternal, pasar domestik masih dibayangi kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta tingginya tingkat suku bunga global yang berpotensi menjaga volatilitas pasar negara berkembang tetap tinggi.
Sementara di pasar mata uang, rupiah berhasil berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (29/9/2026).
Tekanan sempat terlihat sejak awal perdagangan ketika rupiah dibuka melemah 0,03% di posisi Rp17.970/US$. Pelemahannya kemudian membesar hingga dolar AS sempat menembus Rp18.010, yang menjadi level terlemah rupiah sepanjang perdagangan kemarinkemarin.
Menjelang penutupan, rupiah mampu bangkit 40 poin dari titik terlemahnya dan mengakhiri perdagangan di zona hijau. Sementara itu, pada pukul 15.00 WIB indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,14% ke posisi 101,338.
Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah masih berasal dari kombinasi sentimen global dan kebutuhan valuta asing domestik.
Penguatan dolar AS dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi global dan risiko fiskal, sementara dari dalam negeri tekanan datang dari meningkatnya kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III-2026.
Posisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026 juga menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar. BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar non-delivery forward (NDF), spot, domestic non-delivery forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun kembali tertekan dengan imbal hasil naik ke kisaran 7,21% pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street melemah pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Saham melemah menyusul kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury yang kembali menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 131,59 poin atau 0,26% ke level 51.349,92. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi tipis 0,16% ke posisi 7.670,84, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,09% menjadi 26.797,54.
Meski ketiga indeks berhasil ditutup di atas level terendah intraday, semuanya kembali mencatatkan pelemahan selama dua sesi perdagangan berturut-turut.
Saham-saham perbankan turut tertekan. JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America masing-masing mencatatkan penurunan. State Street Financial Select Sector SPDR ETF (XLF), yang melacak sektor keuangan, juga ditutup melemah.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun melonjak hingga melampaui 5,6%, mencapai level tertinggi yang tidak terlihat sejak Juni 2002.
Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar, sempat menembus 5,29% pada level tertinggi selama perdagangan.
Kombinasi kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi belakangan ini terus menekan pasar saham.
Pada perdagangan Senin, Dow Jones juga anjlok lebih dari 300 poin. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing merosot 0,8% dan 0,9%.
Kenaikan Yield dan Inflasi Tekan Pasar
"Pasar meyakini bahwa inflasi akan turun dan penurunan tersebut akan terjadi melalui kehancuran permintaan" ujar Jeff Klingelhofer, direktur pelaksana sekaligus manajer portofolio di Aristotle Pacific Capital, kepada CNBC International.
"Itulah sebabnya saham melemah dan suku bunga naik. Pasar mulai beralih pada keyakinan bahwa Kevin Warsh, Ketua The Fed, memiliki solusi untuk mengatasi persoalan tersebut," tambahnya.
Kinerja Wall Street September dan Kuartal III
Pergerakan pasar pada Selasa membuat kinerja saham AS beragam, baik secara bulanan maupun sepanjang kuartal III.
Sepanjang September, S&P 500 dan Dow Jones masing-masing telah melemah 0,2% dan 3,5%.
Bagi Dow Jones, penurunan tersebut akan mengakhiri tren kenaikan selama lima bulan berturut-turut.
Sebaliknya, Nasdaq Composite masih mencatatkan kenaikan lebih dari 1% secara bulanan hingga saat ini (month to date/MTD).
Sementara itu, sepanjang kuartal III, S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing telah menguat sekitar 2%.
Dow Jones justru terkoreksi hampir 2% selama kuartal ketiga tahun ini.
Memasuki perdagangan hari ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Pelemahan harga minyak bisa mengurangi tekanan pasar hari ini tetapi pernyataan hawkish The Fed bisa membuat investor cemas.
Pasar global juga menunggu dua kabar penting dari AS hari ini yakni inflasi PCE dan data pertumbuhan ekonomi.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Harga Minyak Dunia Ambruk
Harga minyak dunia melemah pada Selasa (29/9/2026), seiring pemulihan ekspor minyak Timur Tengah meredakan kekhawatiran pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Minyak Brent turun 2,6% menjadi US$102,59 per barel, sedangkan WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel. Meski terkoreksi, Brent masih menuju kenaikan bulanan sekitar 13% dan WTI sekitar 4%.
Pemulihan aliran minyak melalui pipa East-West Arab Saudi dan kembali beroperasinya pelabuhan Yanbu menopang prospek ekspor. Ekspor minyak Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, tertinggi sejak perang dimulai akhir Februari.
Namun, ketidakpastian konflik dan potensi gangguan pasokan masih membayangi pasar. Presiden AS Donald Trump juga mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menekan harga diesel, termasuk pelonggaran aturan penjualan bahan bakar.
3. The Fed Sinyalkan Bunga AS Bisa Naik Lagi
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum kembali menaikkan suku bunga. Namun, satu kenaikan tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir 2026.
"Jika perekonomian berkembang sesuai proyeksi, satu kenaikan suku bunga tambahan mungkin tepat dilakukan pada akhir tahun ini," ujar Williams, Selasa.
Pernyataan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada September.
Sebelum pidatonya, pasar memperkirakan peluang besar kenaikan bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Namun, setelah pernyataan Williams, taruhan tersebut turun menjadi sekitar 50%.
Williams menegaskan inflasi tetap menjadi fokus utama, dengan target The Fed sebesar 2%. Ia memperkirakan inflasi AS mencapai 3,5% pada akhir tahun ini, sebelum mereda pada 2027 dan kembali ke target pada 2028.
Tekanan inflasi dipicu tarif perdagangan Presiden Donald Trump, kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah, serta investasi AI.
Williams juga memperkirakan ekonomi AS tumbuh 2,25% pada 2026, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan mencapai 4% pada 2027.
3. Airlangga: Pelemahan IHSG dan Rupiah Masih Dinamika Pasar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan IHSG dan rupiah masih merupakan dinamika pasar yang perlu dilihat dalam perspektif jangka menengah. Pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus memantau pergerakan nilai tukar, sementara di pasar saham BEI juga telah kembali mengaktifkan transaksi short selling sejak 15 September 2026.
"Ya, itu juga biasa. Kalau kita lihat kan kita ambil mid-termnya, tapi tidak short day," ujar Airlangga.
Terkait rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, Airlangga juga menekankan bahwa penguatan dan pelemahan merupakan bagian dari mekanisme pasar.
"Ya ini kan namanya market, ya market selalu menguat dan melemah dan pemerintah terus memonitor dan tentu BI juga melihat semuanya," tegasnya.
4. DPR Sahkan UU APBN 2027, Ini Catatan Tiap Fraksi
DPR RI resmi mengesahkan RUU APBN 2027 menjadi undang-undang. Seluruh fraksi menyatakan menerima, namun masing-masing memberikan sejumlah catatan terhadap arah dan pelaksanaan anggaran tahun depan.
- PDIP: Menekankan bahwa APBN merupakan uang rakyat, sehingga pelaksanaannya harus tertib, transparan, efisien, efektif, bertanggung jawab, serta memperhatikan keadilan dan kepatutan.
- Golkar: Mendukung kelanjutan hilirisasi, industrialisasi, serta penguatan kedaulatan pangan dan energi. Golkar juga meminta penguatan Coretax, efektivitas transfer ke daerah, local taxing power, dan pengelolaan pembiayaan.
- Gerindra: Mendukung target tax ratio 10,4% terhadap PDB pada 2027. Pemerintah didorong memperluas basis pajak dan mencari sumber penerimaan baru secara hati-hati tanpa membebani dunia usaha.
- NasDem: Menilai keberhasilan APBN tidak cukup dilihat dari besarnya anggaran, tetapi dari dampaknya terhadap pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, daya beli, dan pemerataan kesejahteraan. Belanja pendidikan Rp824 triliun juga diminta berorientasi pada peningkatan kualitas modal manusia.
- PKB: Menyoroti target rasio gini 0,360-0,365 dan pentingnya memastikan pertumbuhan sektor bernilai tambah tinggi tidak terkonsentrasi di wilayah atau kelompok tertentu. Penguatan ekonomi pedesaan dan perlindungan kelompok menengah bawah juga menjadi perhatian.
- PKS: Menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi 6% harus bersifat inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Pemerintah juga didorong memperkuat penerimaan perpajakan Rp2.911 triliun serta menekan praktik illegal transfer pricing, under-invoicing, dan penggelapan pajak.
- PAN: Mendukung agenda kedaulatan pangan, penguatan ekonomi desa, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. PAN juga menekankan agar pajak tidak menekan usaha kecil, subsidi tepat sasaran, dan program prioritas memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
- Demokrat: Mendorong APBN 2027 menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Pembangunan dinilai perlu menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, membuka kesempatan, dan memperkuat kemandirian.
5. Lowongan Kerja AS Turun ke Level Terendah 5 Bulan
Jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat (AS) turun menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, berkurang 256.000 dibandingkan posisi Juli yang direvisi naik menjadi 7,335 juta.
Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,23 juta dan menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir.
Penurunan lowongan terutama terjadi pada sektor kesehatan dan bantuan sosial yang berkurang 115.000, jasa profesional dan bisnis turun 119.000, manufaktur turun 54.000, serta konstruksi berkurang 48.000.
Sementara itu, jumlah perekrutan relatif stabil di 5,2 juta, sedangkan total pemutusan hubungan kerja dan pekerja yang keluar tetap sekitar 5,1 juta. Jumlah pekerja yang mengundurkan diri (quits) bertahan di 3,1 juta, sementara PHK dan pemberhentian berada di sekitar 1,6 juta.
Data tersebut menunjukkan permintaan tenaga kerja AS mulai mendingin, meski pergerakan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil.
6. PMI Manufaktur China
China akan merilis data RatingDog Manufacturing PMI periode September pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 08.45 WIB.
Pada Agustus 2026, RatingDog Manufacturing PMI China naik menjadi 51,5, dari 50,9 pada Juli, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,0. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan output dan pesanan baru yang lebih cepat. Pesanan baru meningkat selama 15 bulan berturut-turut, periode terpanjang sejak 2018, sementara penjualan luar negeri mencatat kenaikan tercepat dalam enam bulan. Produksi juga tumbuh selama sembilan bulan beruntun dan mencatat ekspansi terkuat dalam tiga bulan.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah momentum manufaktur China dapat bertahan. PMI yang tetap berada di atas 50 dapat memperkuat sinyal pemulihan aktivitas industri dan permintaan China, yang penting bagi Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama. Sebaliknya, penurunan kembali mendekati atau di bawah 50 dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan permintaan komoditas global.
7. Inflasi PCE AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) periode Agustus pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB. Data ini menjadi salah satu indikator utama yang dicermati Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pada Juli 2026, inflasi PCE tercatat 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), tidak berubah dari bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada di 3,3% yoy, sesuai ekspektasi pasar tetapi masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tingginya inflasi PCE menunjukkan tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda. Inflasi inti bahkan masih berada di atas 3%, sehingga pasar akan mencermati apakah data Agustus mulai menunjukkan tren penurunan atau justru tekanan harga tetap persisten.
Rilis Agustus akan menjadi penting bagi ekspektasi arah suku bunga The Fed.
Inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter, sementara inflasi yang tetap tinggi atau kembali meningkat dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, yield US Treasury, serta arus modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
8. Pertumbuhan Ekonomi AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis estimasi lanjutan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada estimasi sebelumnya, ekonomi AS tumbuh 1,5% secara annualized pada kuartal II-2026, melambat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang melonjak 3,4% dan investasi tetap yang tumbuh 7,0%, termasuk investasi nonresidensial sebesar 8,5% seiring kuatnya belanja peralatan dan produk kekayaan intelektual yang didorong permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, belanja pemerintah turun 1,0%, sedangkan perdagangan internasional menjadi penekan pertumbuhan setelah impor melonjak 12,5%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan ekspor sebesar 4,5%.
Rilis terbaru akan dicermati untuk melihat apakah ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan di tengah inflasi yang tetap tinggi dan dinamika pasar tenaga kerja.
Revisi pertumbuhan yang lebih kuat dapat menunjukkan ekonomi masih solid dan membuat The Fed memiliki ruang untuk lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Sebaliknya, revisi turun dapat memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi dan meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Badan Komunikasi Pemerintah akan menyelenggarakan Konferensi Pers Update Program Hasil Terbaik Cepat dan Transformasi Layanan Kesehatan Nasional di Auditorium, kantor Bakom, Jakarta Pusat
-
Kemenperin merilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Bulan September 2026 di Ruang Nuri, Gedung Kemenperin, Jakarta Selatan
-
Taklimat Media Bank Indonesia dengan topik Penguatan Efektivitas Kebijakan Insentif dalam Operasi Moneter Valas di Press Room BI, Jakarta Pusat
-
Rapat Tingkat Menteri terkait Perluasan Perlinsos dan Rencana Registrasi Ulang Bansos Tahun 2027 di Gedung Aneka Bhakti, Kementerian Sosial, Jakarta Pusat
-
Press Conference Spin-Off InfraCo Tahap 2
-
Seminar Awam dan Talkshow dengan tema "A Decade of Hope: Reflecting on the Journey, Shaping the Future" di Ruang Auditorium Gedung Cendana RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Turut hadir Wakil Menteri Kesehatan.
- Pidato Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee, Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem, dan Presiden The Fed New York John Williams
- Rilis RatingDog Manufacturing PMI China September 2026
- Rilis Core PCE Price Index AS Agustus 2026
- Rilis PCE Price Index AS Agustus 2026, secara bulanan dan tahunan
- Rilis final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II-2026
- Rilis final GDP Price Index AS kuartal II-2026
- Rilis estimasi awal neraca perdagangan barang AS Agustus 2026.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk
RUPS Asuransi Bintang Tbk
RUPS PT Bank Amar Indonesia Tbk
RUPS PT Diamond Food Indonesia Tbk
RUPS PT Solusi Environment Asia Tbk
RUPS PT Adhi Karya (Persero) Tbk
RUPS PT Satu Visi Putra Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk
Tanggal distribusi HMETD Saranacentral Bajatama Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Victoria Investama Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Chandra Daya Investasi Tbk
Berikut indikator ekonomi terbaru: