MARKET DATA

Trump Siapkan Ribuan Rudal Pemburu Jet Tempur, Habis Ratusan Triliun

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
29 September 2026 20:20
Prajurit dari Batalyon ke-3, Resimen Artileri Medan ke-321 dari Brigade Artileri Medan ke-18 dari Fort Bragg, Carolina Utara, melakukan uji coba tembakan langsung di White Sands Missile Range, Carolina Utara, pada tanggal 14 Desember 2021, terhadap v
Foto: Prajurit dari Batalyon ke-3, Resimen Artileri Medan ke-321 dari Brigade Artileri Medan ke-18 dari Fort Bragg, Carolina Utara, melakukan uji coba tembakan langsung di White Sands Missile Range, Carolina Utara, pada tanggal 14 Desember 2021, terhadap versi awal Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat. (AP/John Hamilton)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat tempur secanggih apa pun tidak akan banyak berarti jika tidak dibekali rudal yang mampu menjangkau dan mengejar pesawat lawan.

Dalam pertempuran udara modern, pilot tidak harus menunggu hingga pesawat musuh terlihat secara langsung. Sasaran dapat dideteksi melalui radar dari jarak jauh, yang kemudian ditembak sebelum kedua pesawat saling berhadapan dari dekat.

Salah satu senjata yang banyak digunakan untuk kebutuhan tersebut adalah Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile (AMRAAM). Rudal ini dapat ditembakkan dari luar jarak pandang dan menggunakan radarnya sendiri untuk mengejar sasaran.

Kemampuan itu membuat AMRAAM menjadi salah satu senjata penting bagi pesawat tempur AS dan negara-negara sekutunya.

Di tengah meningkatnya kebutuhan rudal, Pentagon memberikan kontrak bernilai maksimal US$20,7 miliar kepada Raytheon untuk memperbesar produksi AMRAAM hingga 2033. Nilai maksimal kontrak tersebut setara sekitar Rp371,8 triliun (asumsi kurs Rp17.960/US$).

Rudal yang diproduksi nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan militer AS serta 16 negara lainnya.

Kontrak Jumbo hingga 2033

Kontrak AMRAAM berlaku selama lima tahun dengan opsi tambahan dua tahun. Jika seluruh opsi digunakan, proses pengerjaan akan berlangsung hingga 2033.

Nilai maksimal US$20,7 miliar menjadikannya kontrak terbesar sepanjang sejarah program AMRAAM. Sebelumnya, rekor kontrak AMRAAM tercatat sebesar US$3,5 miliar pada 2025. Kontrak terbaru hampir enam kali lebih besar dibandingkan rekor tersebut.

Meski demikian, Raytheon belum langsung menerima seluruh uang tersebut. Nilai US$20,7 miliar merupakan batas maksimal kontrak yang dapat dicairkan secara bertahap sesuai pesanan, pendanaan, dan pelaksanaan program.

Saat kontrak diberikan, dana yang baru tersedia berasal dari program Foreign Military Sales sebesar US$154,27 juta serta anggaran pengadaan senjata Angkatan Udara AS sebesar US$85.715.

Total dana awal yang tersedia sekitar US$154,35 juta atau baru 0,75% dari batas maksimal kontrak.

Meski demikian, melansir dari Reuters kontrak tersebut masih bersifat sementara. Pendanaan penuh tetap bergantung pada persetujuan anggaran dari Kongres AS. Tanpa kepastian anggaran, Raytheon belum bisa mengeluarkan seluruh investasi yang dibutuhkan untuk memperbesar pabrik dan rantai pasoknya.

Produksi Rudal Digenjot

Raytheon menargetkan produksi sedikitnya 1.900 AMRAAM setiap tahun. Angka tersebut menjadi tingkat produksi tertinggi sepanjang sejarah rudal tersebut.

Jika kapasitas itu dipertahankan, Raytheon dapat memproduksi sekitar 9.500 rudal selama masa utama kontrak lima tahun. Jumlahnya dapat mencapai sekitar 13.300 rudal jika dua tahun opsi ikut digunakan.

Namun, angka itu hanya menggambarkan kemampuan produksi pabrik, bukan jumlah pasti rudal yang dipesan dalam kontrak.

Produksi AMRAAM sebelumnya telah ditingkatkan secara besar-besaran. Raytheon menyebut jumlah yang dibuat pada 2025 hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.

Perusahaan juga menanamkan modal untuk memperluas fasilitas, menambah tenaga kerja, memperkuat teknologi, dan membantu ratusan pemasok skala kecil hingga menengah. Raytheon bahkan mulai menjajaki produksi bersama dengan negara lain agar pasokan dapat ditingkatkan lebih cepat.

Mengenal Rudal AMRAAM

AMRAAM merupakan rudal udara ke udara jarak menengah yang digunakan untuk menghancurkan pesawat lawan sebelum pilot melihat sasaran secara langsung.

Setelah ditembakkan, rudal akan bergerak menuju lokasi sasaran dengan bantuan data dari pesawat. Ketika jaraknya semakin dekat, radar aktif yang berada di dalam rudal akan mengambil alih dan membimbingnya hingga mengenai target.

Kemampuan itu memungkinkan seorang pilot menembakkan beberapa AMRAAM ke sejumlah sasaran sekaligus. Pilot kemudian dapat mengubah arah atau melakukan manuver untuk menghindari serangan, sementara rudal melanjutkan pengejarannya sendiri.

Angkatan Udara AS menyebut AMRAAM memiliki ukuran lebih kecil dan bobot lebih ringan dibandingkan generasi rudal sebelumnya. Senjata ini juga memiliki kemampuan lebih baik untuk menghadapi sasaran yang terbang rendah dan dapat digunakan dalam berbagai kondisi cuaca.

AMRAAM tidak hanya bisa ditembakkan dari pesawat tempur. Rudal yang sama juga dapat diluncurkan dari darat melalui sistem pertahanan udara NASAMS.

Sistem tersebut digunakan untuk menjaga wilayah udara Washington dan telah dioperasikan oleh lebih dari belasan negara. Ukraina turut memakai NASAMS untuk menghadapi pesawat, rudal jelajah, dan drone yang datang dari Rusia.

Raytheon menyebut AMRAAM generasi kelima kini dapat digunakan pada 14 jenis platform dan telah dioperasikan oleh 44 negara. Rudal tersebut telah mencatat lebih dari 7.000 peluncuran dalam pengujian maupun pertempuran.

Diborong 16 Negara

Pesanan AMRAAM ternyata bukan hanya untuk mengisi persediaan senjata militer AS. Melalui kontrak ini, sebanyak 16 negara juga akan menerima rudal tersebut lewat program penjualan militer pemerintah AS.

Dari 16 negara penerima, sebanyak 11 berada di Eropa dan 12 merupakan anggota NATO.

Banyaknya negara Eropa dalam daftar tersebut tidak lepas dari perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut. Polandia, Finlandia, Swedia, Norwegia, dan negara Eropa lainnya terus memperkuat pertahanan udara di tengah situasi keamanan kawasan yang belum tenang.

Kebutuhan serupa juga terlihat di Asia-Pasifik, meski ancaman yang dihadapi berbeda. Australia, Jepang, dan Taiwan ikut memesan AMRAAM ketika aktivitas militer China di kawasan semakin meningkat. Ketiganya terus memperkuat kemampuan tempur di udara agar tidak tertinggal dalam persaingan militer yang semakin ketat.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular